
Satria menyeret kakinya kerumah sederhana dengan nuansa putih, rumah yang sering ia datangi sebelum dirinya menikah dengan Nena,
Satria berjalan gontai waktu ia pergunakan dengan penyesalan, kebingungan dan kepedihan yang terasa dihatinya, sejak ia mendengar kenyataan pahit mengenai nena pikirannya masih tertuju pada rumah tangganya, entah harus bertahan atau ia harus ikhlas melepas nena, sungguh rasa ini sakit lebih sakit ketika dirinya mengetahui nena berselingkuh dengan zyan,
tok..
tok..
Satria mengetuk pintu didepannya..
ceklekk pintu terbuka, seorang wanita yang amat satria kenali, yang satria sayangi tapi dulu ketika dirinya belum menikah dengan nena, wanita yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah membuat nena mengalami kepedihan yang amat sangat sakit dalam hidupnya.
wanita itu tersenyum manis didepan satria, seolah sudah melupakan perihnya akan perlakuan satria akhir2 ini padanya.
"mas kamu datang, mari mas masuk!" wanita itu menarik lengan satria menuju sebuah sofa,
satria membenamkan wajahnya didua telapak tangan, pahanya ia buat topangan untuk siku2 lengannya, dalam benaknya ia masih memikirkan rasa cintanya yang begitu besar pada nena, tapi ia ragu,, benarkah jika ia melanjutkan pernikahannya dengan nena tanpa memiliki seorang anak dapat membuat kehidupannya, masa pernikahan dan masa tuanya akan bahagia, disisi lain ia sangat menyayangi Aulia.
__ADS_1
perlahan satria berjalan kekamar Aulia, dilihatnya aulia yang tengah tertidur "papah sayang kamu Aul, meski kamu bukan anak kandung papah?" batinnya
"loh mas, kok bediri disitu, aulia tadi ketiduran kata bibi dia belum tidur siang!" ucap pita membawa nampan minuman untuk satria
"aku perlu bicara sama kamu pit?" ucap satria berlalu duduk ke sofa
pita mengikuti satria dan duduk di depannya "apa yang ingin kamu bicarakan mas?" tanyanya
"bolehkah aku membawa aulia untuk hidup bersamaku dan nena?" tanyanya tanpa memikirkan perasaan pita
pita mencerna setiap kata yang satria ucapan padanya, membawa dan untuk hidup dengan satria dan Nena menjadi garis besar yang tengah ia fikirkan
"kamu gila mas, aku memang mencintai kamu, aku memang bersalah, aku memang yang harus mempertanggung jawabkan perbuatanku pada kondisi nena saat ini" pita berteriak dan bangkit dari duduknya, ia menangis sejadi-jadinya tapi aku mohon jangan pernah kamu ambil aulia dari ku dari hidupku!"
satria bangkit dari duduknya ia menatap pita menggenggam tangannya "lalu hal apa lagi yang harus aku lakukan pit, aku nggak bisa pisah dari nena dan aulia"
"berbahagialah mas dengan Nena, kamu bisa adopsi anak lain diluaran sana, asalkan jangan Aulia yang kamu mau, a...aku mohon mas" isak pita
__ADS_1
ketegangan antara satria dan pita terhenti saat Aulia terbangun dari tidurnya, ia mendengar adanya keributan di luar kamarnya, bergegas menghampiri keributan itu.
"papah" aulia menghampiri satria
satria menyambut Aulia kedalam pelukannya "Aulia kangen nggak sama papah?" tanyanya
"kangen banget dong" ucap gemas Aulia
"Aulia mau nggak tinggal sama papah dan mamah nena?" tanya satria
Aulia terlihat berpikir "mamah Nena yang jahat itu...?" tanyanya menerawang wajah Nena, ia menatap pita dengan mata yang memerah "bunda.." ucap aulia ia meronta dari gendongan satria berjalan kearah bundanya "kenapa bunda, apa Bunda menangis" tanya Aulia ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi sampai mata bundanya memerah.
Pita mencoba untuk tegar dan bersikap tidak mencurigakan sedikitpun didepan Aulia "bunda nggak pa-pa, tadi papah beliin bunda baso sayang, basonya pedess banget, sampe mata bunda merah kaya gini" ucap bohongnya, mata pita mengarah pada satria.
"mas, sebaiknya kamu pulang!! ini sudah malam, aku dan Aulia ingin beristirahat!"
satria mengangguk, menyentuh puncak kepala aulia, mencium pipi kiri dan kanan aulia "papah pulang dulu yah sayang, kamu nggak boleh nakal" ucapnya
__ADS_1
"siap papah!"
satria berlalu dari rumah Pita dengan perasaan yang belum puas akan jawaban dari mantan kekasihnya itu, dipikirkannya sekarang hanya ingin hidup bahagia dengan nena meski nena tidak bisa memberinya keturunan tapi ia masih berharap Aulia bisa hidup dan ia rawat bersama nena, satria Sangat amat menyayangi Aulia, ia tidak ingin mengadopsi anak siapapun itu dalam perjalanan pernikahannya.