
Nena terduduk dibatu besar samping rumahnya, cuaca dingin masih menyelimuti bumi, matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, embun yang menetes didaunan masih menjadi saksi jika pagi masih menyapa,
Nena tengah menatap layar ponselnya dilihatnya beberapa pesan masuk dari sejak subuh tadi, namun ia sangat enggan untuk membaca pesan2 itu,
nena meneguk sisa teh manis yang sudah dingin yang ia letakkan disamping ponselnya,
ia meletakkan kembali gelas kosong itu,
drrt,,,drrt..
ponselnya berdering..
tertulis nama Satria pada layar depan,
nena masih ragu entah harus ia angkat atau ia abaikan,
ibu menghampiri nena menatap ponselnya yang terus saja berdering "siapa nak?" tanya ibu "dijawab nak nggak boleh didiamkan seperti itu siapa tahu penting!"
nena menangguk pelan pada ibu meminta izin untuk masuk kedalam kamarnya menggunakan isyarat tangannya, ibu memberi izin nena dengan mempersilahkan menggunakan telapak tangannya.
didalam kamar nena menggeser tanda dial untuk menjawab panggilan Satria
"assalamualaikum bang!" ucapnya
"wa'alaikum salam sayang" jawab satria diujung telponnya "apa babang mengganggu kamu?" tanyanya
"nggak bang"
"apa boleh hari ini kita bertemu? ada sesuatu yang ingin babang katakan padamu?"
"iya bang"
__ADS_1
"Abang jemput?"
"tidak usah bang!"
"kalau begitu hati2 yah sayang!"
"iya bang, assalamualaikum!"
"wa'alaikum salam"
tuutt..tuutt
perbincangan keduannya berakhir dengan kesepakatan pertemuan, nena memakai tas Selempang putihnya, mengambil kunci mobil yang dulu satria berikan padanya.
nena menemui ibu yang tengah bersiap untuk pergi ke toko, sementara ayah sudah sejak pagi tadi pergi bekerja.
"bareng nena yah Bu ke tokonya!" pinta Nena
"iya bu, bang satria minta bertemu!"
nena menggandeng tangan ibu masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan nena dan ibu membahas mengenai permasalahan yang tengah nena hadapi.
"azi kemana Bu? semenjak nena pulang, Azi tidak pernah terlihat?" tanya Nena memecah keheningan
"Azi kepengen ngekost nak katanya lebih deket sama sekolahannya" jelas ibu
"katanya azi punya motor baru Bu? bukannya lebih mudah Sampai sekolah dengan motor?"
"ibu udah kasih tahu azi nak, malah azi ngotot mau kost aja" ucap ibu "jangan terlalu manjain Azi nak, pakai uangmu untuk keperluan kamu sendiri!"
"manjain gimana bu?"
__ADS_1
"ya itu kamu beliin motor buat azi, itukan motor mahal!" ucap ibu
nena menginjak rem mobilnya, ia menatap ibu dengan pertanyaan yang ada dibenaknya
"astaghfirullah nak, kok berhenti mendadak?"
"maaf bu" nena menepikan mobilnya "Bu nena nggak ngerti maksud ucapan ibu, nena nggak pernah ngerasa beliin azi motor!"
"loh, azi bilang kamu yang beliin?"
nena perlahan melajukan mobilnya kembali "mungkin azi pakai uang tabungannya kali bu yang sering nena kasih, dia kan anak pinter dan rajin menabung" ucap bohong Nena dalam hatinya ia akan menanyakan kebenaran dari ucapan azi saat ia bertamu langsung dengan Azi
"semoga saja itu kebenarannya nak" ragu ibu "lantas bagaimana hubungan kamu dengan satria nak?"
"menurut ibu nena harus bagaimana Bu?" nena tidak memberi tahu ibu apa yang tengah dialami dirinya mengenai vonis dokter yang mengatakan dirinya yang tidak bisa hamil setelah keguguran yang menimpanya.
"pertahankan nak, kamu baik Satria pasti memiliki masa lalu yang salah, jadi sebaiknya kalian berdua mulai memperbaiki rumah tanggamu dengan satria, cabut gugatan cerai kamu nak, Allah tidak menyukai perceraian yang dapat merusak hubungan silaturahmi kalian berdua" nasehat ibu
Nena terdiam pandangannya menatap ke depan
"astaghfirullah nak, kenapa melamun ibu sudah sampai" ucap ibu membuyarkan lamunan nena
"astaghfirullah, maaf Bu" nena memundurkan mobilnya
"nak, dengarkan ucapan ibu tadi dan pertahankan rumah tangga kalian!"
"insa Allah bu, nena pamit yah bu! assalamualaikum !"
"wa'alaikum salam, hati2 nak?"
nena tersenyum pada ibu dan melajukan mobilnya memecah keramaian kota menuju tempat dimana dirinya dan satria akan bertemu.
__ADS_1