
Tina menghampiri nena yang baru saja masuk kedalam ruangannya
"kenapa say, kepergok yah" ejek tina
"diam, ejekanmu nggak bermutu"
"haha" tawa tina "makanya main aman dong, didalam ruangan kek trus dikunci, malah diatas"saran Tina "bawa apa tuh kayanya enak? bagi yah?!"
"yaudah siini duduk" nena mengunci ruangannya, ia tidak mau diganggu dengan ucapan zyan yang akan memperburuk pikirannya
nena membuka brownies yang tadi dibawakan suaminya itu, keduannya mulai memakan brownies itu
"enak banget ini browniesnya" ucap tina dengan mulut penuh
begitupun dengan nena ia melahap brownies itu dengan nikmat, brownies yang membuatnya merengek padahal sang suami untuk dibelikan, walaupun pikirannya sedang kalut
"aku salah yah na?" tanya nena
"nggak brownies ini enak kok!"
__ADS_1
"bukan brownies Oneng!"
"oh itu, iya emang salah lake banget lagi" tina menghentikan suapan kemulutnya "sekarang satria baru diemin kamu, nggak tahu nanti!" ucap tina santai
"terus aku mesti gimana dong na" nena menangis memikirkan dilema hatinya
"cep, cep, cep... nggak usah nangis, tinggal pilih aja kok dibuat pusing"
"menurut kamu sih gampang na, tapi susah buat aku, aku nggak semudah itu buat tinggalin zyan dia cintai pertama aku selama 2 tahun aku jalin hubungan sama dia, dia udah banyak berkorban demi hubungan ini, hiks..hikss
"what jadi zyan itu cinta mati yang pernah kamu ceritain waktu dulu itu, yang kamu bilang dia pacar yang selingkuhin kamu sampai nidurin cewek lain itu?!" tina berbicara dengan nada tinggi seolah berfikir kenapa hubungan keduanya bisa terjalin lagi
"waaw keren,,ya udah berarti tinggal tinggalin satria dong, keluar deh masalahnya"
"nggak bisa gitu juga na, dia Ama aku udah nikah selama 7 bulan dia udah sayang banget sama aku, dia udah beri hidupnya buat aku"
"trua gimana perasaan kamu sama Satria" tina memotong ucapan nena
"aku sayang ama dia, dan aku juga nggak bisa hancurin rumah tangga yang baru aku mulai ini, aku harus mikirin perasaan kedua orang tuaku, dan perasaan kedua orang tua bang Satria"
__ADS_1
"jangan jadi egois Nena, kamu nggak bisa berada diposisi seperti ini selamanya, kamu meat milih?"
"zyan mau terima keputusan aku kok na, dia mau Nerima hubungan kami berdua seperti ini meski aku masih menjadi istri bang satria" tegas nena
tina tersenyum "semua keputusan ada dikamu na, kamu yang jalanin, kamu yang terima manis dan buruknya kelak" Tina menepuk-nepuk pelan punggung nena memberi semangat "aku sebagai teman cuma ingin kamu bahagia na, pilihlah pilihan yang tepat sehingga kamu satria atau pun zyan nggak bakalan ada yang tersakiti"
keduanya berpelukan Tina memberikan semangatnya pada nena, yang masih menangis itu
zyan yang ada diruangannya mengacak rambut menahan amarah, menahan sedih melihat nena yang tengah menangis dari kemera pengintainya diruangan Nena
"maafkan aku nena, tapi sampai kapanpun aku nggak bakal lepasin kamu!" ucap zyan "arrrgggh" zyan mengacak acak rambutnya dan berlutut dilantai ruangannya
"tina, kamu lihat Nena?" tanya zyan
"oh nena udah pulang duluan barusan!"
"ok makasih yah" zyan bergegas kembali keruangannya, tidak biasanya nena pulang tanpa mengabari padahal zyan, membuat zyan bingung dibuatnya
aku takut nena, aku sangat takut kehilangan kamu
__ADS_1
sudah beberapa kali zyan untuk menghubungi nena, sama sekali tidak ada jawaban dari nena, dan saat akan menghubungi nena Kembali ponsel nena sudah tidak bisa dihubungi.