
"hentikaaaannn" teriak histeris Nena
Nena berjongkok dengan kedua telapak tangannya yang ia rapatkan pada telinganya
satria dan zyan menatap kearah Nena, keduannya berjalan untuk menenangkan hati orang yang mereka cintai itu..
"na maafkan aku" ucap satria
"maafkan aku sayang?" ucap zyan
satria mendorong tubuh zyan sampai tersungkur agar berjauhan dengan Nena
"hentikan bang, aku sudah tidak mau melihat keributan diantara kalian berdua aku mohooo..nn?" tangisnya
"na,,maafkan aku!?" ucap zyan mendekati nena Kembali.
"zyan aku mohon pergilah dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku!" pinta nena "dan pikirkanlah ucapanku, agar kamu berhenti untuk datang lagi padaku" tegasnya
satria tidak mengerti apa yang tengah nena ucapkan pada zyan, namun hatinya sungguh senang kala nena lebih memilih dirinya dan meminta zyan untuk pergi
hujan datang, seolah menjadi saksi bagaimana perihnya perasaan dan hati zyan.
__ADS_1
"aku akan pergi sekarang, tapi jangan pernah kamu berharap aku akan membuang semua rasa ini padamu" ucapnya dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya
satria menatap sinis pada zyan yang kini sudah berjalan lemah menjauh darinya dan nena dari kejauhan hanya terlihat punggung lelaki yang sedang patah hati itu, terus menjauh dan menjauh Sampai tidak terlihat dari pandangan nena dan satria.
satria menuntun Nena untuk pulang kerumah bibinya, dalam langkah kaki keduannya tidak ada percakapan yang keluar dari kedua bibir itu.
"ya Allah na, kenapa hujanan" ucap bi Sumi
"iya bi, tadi nggak keburu neduh" jawab satria
nena masih mematung, hatinya sesak kala meminta zyan untuk pergi, baginya zyan adalah cinta pertamanya meski sempat ia kubur dalam-dalam perasaan itu saat ia mendapati zyan melakukan hal gila dengan pita didepan wajahnya sendiri dan ia sudah berusaha melupakan zyan saat ia dan satria menikah dan memulai kehidupan yang baru.
"na..na!!" satria menggenggam tangan dingin Nena "kamu mandi dulu, ganti pakaianmu" ucap satria
sudah hampir 1 jam Satria menunggu nena selesai berpakaian, tapi nena yang tidak kunjung keluar membuat kekhawatiran tersendiri bagi satria
"diminum dulu den teh manisnya keburu dingin!" ucap bi sumi yang melihat satria blum menyentuh suguhan yang diberikannya
"iya Bi, terimakasih!" ucapnya sembari meneguk teh manis yang sudah bi sumi buatkan untuknya
satria menatap teh manis yang bi sumi siapkan untuk nena, ia beralih mengambil gelas itu dan berniat untuk menemui nena dikamarnya
__ADS_1
"boleh saya temuin nena bi?" ucapnya
"sok den, masuk aja" ucap bi Sumi
satria menuju kamar nena, dan mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada Jawaban dari dalam kamar membuatnya memberanikan diri untuk membuka dan masuk kamar yang tidak dikunci dari dalam.
"na.." ucap satria mencari Nena
nena yang tengah berada didepan cendela kamarnya menatap rintik hujan yang memantul dari kaca menoleh keasal sumber suara yang memanggilnya
"bang!" ucapnya
"minumlah teh hangat ini" satria menyodorkan segelas teh hangat pada nena
"makasih bang!"
satria tersenyum menatap Nena, satria mendekatkan dirinya pada Nena "babang sungguh merindukanmu sayang!" ucapnya membenamkan wajah nena pada dadanya
"aku akan pulang besok bang?"
"Alhamdulillah, itu jawaban yang babang mau sayang! dan maukan kamu mencabut gugatan cerai kita?" tanya satria merenggangkan pelukannya dan menatap Nena
__ADS_1
nena terdiam dan Kembali menatap hujan yang semakin deras itu, pikirannya teringat kembali saat dirinya meminta zyan untuk pergi sedangkan hujan tengah mengguyur deras.