
satria berada disebuah ruangan orang nomor satu diperusahaannya, hari ini ia mendapat teguran dari ceo paruh baya berusia 50 tahunan bernama Abraham yang tengah berdiri memandang dengan penuh rasa kecewa dan amarahnya
"apa yang terjadi padamu? dan apa yang tengah kamu pikirkan?" Abraham membanting berkas yang satria berikan padanya 1 jam yang lalu
satria terperanjat, pikirannya sedang kalut sudah tidak bisa menjawab apapun itu, bahkan kalau tidak mengingat orang didepannya adalah orang nomor satu diperusahaannya sudah ia bogem Sampai babak belur karena tak henti hentinya mengoceh dan terus memarahi dirinya meski ia tahu jelas semua itu karena ulah dan kesalahan fatalnya.
"maafkan saya pak!" jawabnya ia menunduk tak ingin menatap orang yang tengah murka padanya.
"maaf" Abraham berteriak "kau tahu perusahaan hampir saja mengalami kerugian besar karena ulah kerjamu yang tidak becuusss" Abraham melemparkan berkas pada dada satria "perbaiki semuanya!! jika kamu masih menyatukan urusan pekerjaan dan urusan pribadimu disini aku berjanji akan memecatmu dari perusahaanku!!" sarkasnya
"baik pak, maafkan saya" jawab lemah satria
"keluar!" titah Abraham
Satria gontai, ia melepaskan satu kancing baju yang paling atas, rasanya sesak dan sulit untuk bernafas dengan banyaknya masalah yang tengah ia hadapi, Satria memasuki lift memilih basemen tempat ia memakirkan mobilnya, ia tidak habis pikir dengan ceo perusahaannya yang dengan sengaja datang dijam kantor lembur hanya untuk memaki dirinya.
"satria!!" seorang wanita yang tidak ingin ia lihat muncul begitu saja didepannya
"aku menunggumu!" ucapnya, satria melirik jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.30, berarti jika benar wanita ini menunggunya disini berarti wanita itu sudah menghabiskan dua jam setengahnya untuk duduk dan menunggu satria.
"aku akan pulang, Apa yang akan kamu katakan, katakanlah sekarang!" ucap acuh satria
"bisa aku pulang bersamamu, aku tidak membawa mobilku?"
"masuk" singkat satria
perempuan itu memasuki mobil satria
mobil hening tanpa perbincangan keduannya, sampai satria memecah keheningan,
"apa yang kamu lakukan pada rahim Nena?" tanya satria, ia sudah berusaha untuk tidak menanyakan mengenai hal ini, karena ia tahu dengan jelas wanita yang berada disampingnya ini Sangatlah membenci Nena
__ADS_1
"maafkan aku satria, dulu aku khilaf!"
"haha, pita..pita, kata khilafmu apa bisa aku percaya?" pandangan satria tetap menatap kedepan, ia sangat malas untuk menatap pita yang tengah, akan , hampir dan akan menghancurkan pernikahannya dengan Nena
"maafkan aku satria" ucap pita memandang satria
"kamu tahu, entah sampai kapan aku dan nena akan bisa mendapatkan seorang anak karena ulahmu?" satria merendahkan nada bicaranya
nena membelalakkan kedua matanya "maksudmu apa sat?" tanyanya pita
satria menepikan mobilnya, ia menatap pita tangannya sudah gatal ingin segera mencengkeram leher pita, setan diraganya sudah menarik tanganngan Satria untuk melakukan itu.
"saa.. sat.." ucap terbata pita, saat tangan Satria berhasil mencengkram lehernya
"nena sudah tidak bisa mengandung, dia tidak bisa memiliki seorang anak dari rahimnya, rahimnya kamu rusak dengan tangan dan pikiran kejam lo pi-ta" amarah satria
satria melihat bulir air mata mulai turun dipipi wanita yang dulu pernah ia cintai, wanita yang dulu ia kasihi, wanita yang dulu ia harapkan akan mengandung keturunannya untuknya.
satria menarik nafas panjang, dan melajukan kembali mobilnya, sesekali terdengar isakan dari bibir pita, satria melirik kearah wanita itu, dilihatnya pita yang memegangi lehernya yang kesakitan dan kemerahan ulah tangan satria.
mobil satria berhenti dipekarangan rumah pita "turun!" ucap satria
"satria, maafkan aku?? maafkan aku??" isak tangis pita memegang tangan satria, yang langsung dihempaskannya begitu saja tangan pita oleh satria
tok..tokk..
bunyi ketukan kaca pita diketuk dari luar seorang gadis kecil berambut panjang yang sangat cantik yang menunggu agar orang didalam mobil segera membukakan pintu.
pita menghapuskan air matanya, ia tidak mau sampai aulia melihat kelemahan dan kesedihannya, pita merapikan baju dan rambutnya, membuka perlahan kaca mobil
"anak bunda!" ucap pita menyambut wajah cantik Aulia disampingnya sudah ada Bi ijem dengan setia mengekori Aulia
__ADS_1
"papah" ucap aulia saat mendapati satria yang ada di samping bundanya
satria tersenyum kearah Aulia, ia mambuka pintu mobilnya memutari mobil menghampiri aulia dan memeluknya, disusul dengan pita yang berada disampingnya tengah berdiri memandangi pemandangan yang sangat ia rindukan, seorang anak yang ia sayangi dan seorang pria yang ia cintai tengah melepaskan rindunya dalam pelukan hangat.
"aul sudah makan!" tanya satria
aul menggeleng dengan cepat "belum, papah aul ingin makan dengan papah dan mamah, bi ijem sudah masak masakan enak, ayuk pak makan kedalam!?" pinta Aulia menggoyang goyangkan tubuhnya digendongan satria
seolah masalahnya sirna saat dirinya melihat senyum anak kecil yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, satria mengangguk dan menatap pita,
"ia mas, mari masuk" ucap pita seakan tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan satria
dalam nuansa makan malam bersama satria seolah acuh terhadap pita, kalau bukan atas permintaan aulia ia tidak akan mau duduk satu meja dengan pita.
"mas mau tambah lagi?" tanya pita saat melihat piringnya habis untuk menyuapi aulia
satria mengisyaratkan dengan tangannya, menolak ucapan pita, aulia menatap bunda dan papahnya bergantian
"papah dan Bunda marahan ya?" tanya aulia
pita menggenggam tangan aulia yang masih betah duduk di pangkuan satria "nggak sayang!" jawab pita dan diikuti senyum memaksa dari satria
"papah dan bunda jangan marahan aul sayang papah dan bunda" Aulia menyatukan tangan pita dan satria
satria akan melepaskan tangan pita yang berada diatasnya ulah aulia namun pita memegangi dengan erat tangan satria matanya seolah memohon memberikan isyarat" jangan dilepas demi aulia" satria mengurungkan niatnya.
"kapan kita tinggal bersama lagi pah?" Aulia
"secepat sayang" jawab pita
satria mempelototkan matanya kearah pita, dan beralih pada aulia yang turun dari pangkuan yang tengah berjingkrak jingkrak kegirangan.
__ADS_1
"ya Rabb aku tidak bisa membiarkan anak manis ini bersedih, aku menyayanginya, lalu bagaimana dengan nena?? aku sangat mencintainya!"