
Irgi dan Nena tiba di kediaman Tina. Nena meminta Irgi untuk mengantarkannya ke rumah Tina pikirannya sedang kalut jika ia harus pulang ke rumah kedua orangtuanya.
"maaf yah gi hari ini aku udah repotin kamu?" ucap Nena
"gak pa-pa na" jawab irgi
nena hendak keluar dari dalam mobil irgi namun tangannya Irgi tahan, Nena menatap tangan irgi yang anda diatas punggung tangannya, irgi melepaskan pegangan tangannya.
"maaf na!" ucap irgi, ada ketidaksukaan dari sorot mata Nena "apa kamu sangat mencintai pria tadi?" irgi sudah tidak bisa menyimpan rasa penasarannya lagi dengan apa yang ia lihatnya dibandara.
Nena tersenyum tipis pada Irgi ia mengacuhkan pertanyaannya "Makasih ya gi udah antarin aku! kamu hati-hati ya!" nena keluar dari mobil irgi tanpa menatapnya lagi.
Irgi hanya bisa menatap nena yang semakin menjauh dari pandangannya. Pikirannya kini sama dengan apa yang Satria selalu pikirkan, jika perceraian nena pasti ada sangkut pautnya dengan perasaan nena pada zyan.
****
Satria terduduk dibawah ujung ranjangnya dengan salah satu tangannya memegangi sebotol alkohol, pikirannya kacau otaknya serasa mendidih jika ia mengingat kembali peristiwa dibandara beberapa jam yang sudah berlalu itu. Nena masih istrinya, perceraian masih dalam proses kenapa nena melakukan hal seperti itu didepan mata kepalanya sendiri meski Nena sebenarnya tidak mengetahui jika satria mengikuti dan melihat semuanya.
__ADS_1
"haha..Nena kamu kejam nena..!!" Satria sudah dalam masa mabuknya "apakah ini balasan atas niat awalku menikahi kamu? lalu kenapa saat aku sudah bener bener mencintaimu dan berniat untuk membahagiakanmu, kamu malah menyakitikuuu!"
satria terus meneguk alkohol dalam botolnya "seharusnya kamu bersyukur, aku masih bisa terima kamu walau kamu mandul, haha.."
Bel dari depan pintu apartemennya satria hiraukan begitu saja, yang ia ingin hanya memaki seseorang yang ia cintai namun sangat menyakiti perasaan dan hatinya.
"seenakmu saja kau berciuman dengan zyan, kau berpelukan mesra didepan mataku, aku sakit Nena..aku sesak melihatnya.."
prankkk..
botol alkohol ia lempar setelah membuat hatinya semakin murka "habiss..botol sialan!!"
pita dan Aulia Tengah berdiri di depan pintu apartemen Satria dan sudah beberapa kali pita ataupun aulia menekan bel apartemen itu.
Pita sudah berusaha membujuk aulia untuk menemui satria esok hari namun dengan keras kepalanya aulia terus merengek ingin segera bertemu papanya.
"nah kan sayang..papa kayanya udah bobo, kita pulang yah? bunda janji besok kita kesini lagi!" jelas pita
__ADS_1
dengan kekeuhnya aulia menunjukkan dengan ekspresinya, ia melipat kedua tangannya dan memajukan bibirnya.
pita berjongkok menyesuaikan tingginya dengan Aulia ia mengusap lembut puncak kepala Aulia "Lia nggak boleh begitu lia jugakan harus istirahat ini udah mulai malam" pinta pita
"Aulia mau ketemu papa, lia kangen sama papa bunda..!" lia tersenyum pada pita "bunda lia hapal pencet2 itu!" aulia menunjuk tombol untuk menekan password "110615" ucapnya cadel
pita mencoba dengan angka yang Aulia sebutkan "ini kan tangga lahir aulia.." batin pita
tingg.. pintu apartemen terbuka, pita menatap Aulia "lia tahu dari mana nomor2 tadi?" tanya pita, ia masih belum paham jika anak kecil yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu sudah bisa mengingat hal semacam itu.
"papa yang kasih tahu bunda!" jawabnya
pita mengangguki ucapan aulia
"ayo bunda masuk!" aulia menarik lengan bundanya "mana papa bunda..?"
"sepertinya papa sudah tidur Lia!" jelasnya
__ADS_1
"papa..."teriak Aulia menangis saat keduannya melangkah menuju kamar satria
pita menganga ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.