Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
21. Mengantar


__ADS_3

Atep POV


Sebelum melewati gerbang masuk gedung apartemen, seorang petugas keamanan memintaku untuk membuka jendela dan memperlihatkan karta identitasku.


Mereka curiga karena wajahku tidak dikenali sebagai penghuni gedung. Rupanya ketat juga peraturan di gedung ini.


Setelah yakin dengan identitas yang aku berikan dan tujuan aku masuk ke gedung apartemen, petugas keamanan mengizinkanku masuk.


Aku meminta salah satu petugas keamanan gedung untuk membantu dan mengikuti ke lantai 5 dimana unit milik Bu Alena berada.


“Kenapa sama pacarnya, Dek?” tanya petugas keamanan itu.


“Ini dosen saya, Pak. Tadi pingsan di kampus. Boleh saya minta bantuan untuk mengantar dosen saya ke unitnya?”


“Siap, Dek!” jawab petugas keamanan bernama Heru.


Setelah sampai di parkiran basement gedung, aku mencoba membangunkan Bu Alena. Beberapa kali aku memanggil-manggil namanya tapi tidak medapatkan respon. Aku membuka pintu penumpang dan meminta bantuan keamanan gedung untuk membukakan pintu lift.


Pak Heru ikut naik ke mobil sampai parkiran di basement lalu mengantarku sampai ke lantai 5. Setelah membantuku membukakan pintu lift, petugas keamanan itu langsung turun kembali untuk berjaga kembali di posnya.


“Saya balik lagi ke pos ya, Dek.”


Setelah sampai di depan unit Bu Alena, aku kebingungan untuk membuka pintu.


“Ini gimana buka pintunya?”


Aku mencoba menurunkan tubuh Bu Alena dengan berjongkok dan menahan tubuhnya di pangkuanku. Aku menepuk-nepuk pipi Bu Alena untuk membangunkannya.


“Bu…Bu Alena… bangun, Bu!”


Berulang kali aku menepuk-nepuk pipi Bu Alena.


“Duh, ini cewek nyenyak banget sih tidurnya. Tidur atau pingsan sih?”


Aku menyimpan tas Bu Alena di atas lantai dan mengeluarkan isinya berharap ada kunci atau apapun itu sebagai akses untuk masuk ke dalam unitnya.


“Menyusahkan saja. Kalau bukan karena kamu itu dosen pembimbingku sudah aku abaikan sejak di parkiran tadi. Daripada menyusahkan begini mending tadi aku tinggalkan saja,” sesalku.


“Eh, tapi masa sih aku jadi manusia tega.” Aku merutuki pemikiran sesat yang melintas.


Setelah mengeluarkan semua benda yang ada dalam tasnya, aku menemukan sebuah kartu yang bisa jadi alat untuk masuk ke unitnya. kutempelkan kartu tersebut ke pemindai yang ada di pintu. Alhamdulillah, pintunya terbuka juga.


Aku kembali menggendong Bu Alena untuk masuk ke dalam unitnya.


“Maaf nih ya Bu kalau saya masuk ke unitnya Ibu tanpa izin. Mau izin bagaimana kalau susah dibangunkan.”


Di dalam unit Bu Alena, aku celingukan mencari tempat untuk membaringkannya. Jujur saja, tanganku sudah sangat pegal karena menggendong dia sejak keluar dari mobil tadi. Walaupun tubuhnya tidak terlalu berat tapi aku kan menggendong dia dari bawah sampai lantai 5.

__ADS_1


Aku melihat sofa yang sepertinya cukup untuk menampung ukuran tubuh Bu Alena. Aku tidak berani untuk masuk ke dalam kamarnya karena takut diamuk Bu Alena ketika dia sadar.


Setelah membaringkan Bu Alena dengan posisi yang nyaman, aku tumpukkan bantal sofa untuk menyangga kepala dan kakinya. Walau dirasa kurang pantas tapi aku pikir aku harus melakukannya agar Bu Alena merasa lebih nyaman. Aku melepas beberapa kancing kamejanya. Sumpah demi Tuhan, aku menutup mata ketika membuka kancing kamejanya. Aku juga melonggarkan ikat pinggang yang dipakainya.


Aku melihat sekeliling ruangan unit Bu Alena. Unit yang dimilikinya cukup luas. Aku mencari-cari kotak P3K untuk mendapatkan minyak kayu putih, balsam, minyak angin atau apapun yang bisa membuat tubuhnya hangat. Sayangnya, sejauh aku memandang tidak kutemukan kotak P3K tersebut. Mungkin Bu Alena menyimpannya di dalam kamar.


Aku mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasku. Walaupun aku seorang pria dewasa tapi aku suka membawa-bawa minyak kayu putih kemanapun untuk berjaga-jaga jikalau aku pusing atau mual. Aku suka dengan bau minyak kayu putih.


Seharusnya aku membalurkan minyak putih ke pelipis dan leher Bu Alena untuk menyadarkannya dari pingsan tapi aku tidak berani untuk membuka jilbab yang dipakainya. Aku kan bukan mahramnya, mana boleh aku melihat auratnya. Aku bisa membayangkan lehernya pasti seputih wajahnya. Astagfirullah, apa sih yang sedang kupikirkan? Dasar otak tidak tahu diri. Aku mendengus kasar untuk mengusir bayangan leher putih Bu Alena.


Aku mengoleskan minyak kayu putih ke pelipis Bu Alena dengan sedikit menyingkapkan kerudungnya tapi tidak sampai terlihat rambut. Kulepaskan kaos kaki yang dipakainya. Aku tahu kalau telapak kaki juga termasuk aurat perempuan tapi tak apalah aku melihatnya. Kupikir melihat kaki tidak akan membuat jantung berdegup kencang seperti halnya melihat leher.


Kejadian ini bisa dianggap kejadian darurat maka tidak apa-apalah aku sedikit melanggar aturan. Aku membalurkan minyak kayu putih pada telapak kakinya dan mulai memijat secara perlahan. Setelah beberapa saat memijit, aku melihat kalau Bu Alena sedikit mengernyit sepertinya dia mulai sadar. Setelah mengernyit sebentar, dia langsung tertidur lagi.


“Ah dasar tukang tidur. Mungkin kamu memang tukang tidur bukan karena sakit saja,” gumamku sambil terkekeh karena lucu melihat wajah Bu Alena yang sedang mengernyit.


Hebat juga Bu Alena tinggal di unit yang cukup mewah seperti ini.


Aku beranjak menuju dapur hendak membuat bubur untuk berjaga-jaga kalau nanti Bu Alena lapar.


Setelah beres memasak bubur, aku mendidihkan air untuk membuat teh manis. Orang yang habis pingsan kan membutuhkan cairan untuk mendukung sirkulasi darah.


Aku duduk berselonjor di dekat Bu Alena karena khawatir Bu Alena bangun dan membutuhkan sesuatu. Lalu kunyalakan televisi supaya tidak terlalu sunyi. Kuganti-ganti channel karena tidak ada satupun acara yang menarik minatku.


Setelah 30 menit berlalu, terdengar suara erangan Bu Alena. Sepertinya dia siuman dari pingsan.


“Eh… Bu Alena sudah bangun. Ibu pusing, mual, atau mau muntah?” tanyaku.


Aku segera beranjak ke dapur untuk membawakan teh manis yang sekarang suhunya sudah tidak terlalu panas lagi.


Aku menyimpan cangkir berisi teh manis di atas meja kecil di samping sofa dan membantu Bu Alena untuk duduk dengan menambahkan bantal sofa di punggungnya.


“Ini teh manisnya, Bu. Diminum dulu supaya enakan.”


Aku menyodorkan cangkir teh manis tapi tangan Bu Alena belum menyambut cangkir yang aku sodorkan. Kupikir mungkin Bu Alena masih lemas sampai-sampai tidak sanggup mengangkat cangkir teh.


Kudekatkan cangkirnya ke dekat bibir Bu Alena. Dia menyesap sedikit dan kembali menutup mulut dengan rapat.


“Dihabiskan air tehnya!” perintahku.


Bu Alena menggeleng.


“Apa Ibu butuh pergi ke dokter? Biar saya antar Ibu ke rumah sakit,” tawarku.


Bu Alena kembali menggeleng.


Cih… Apa ini cewek gak bisa ngomong? Dari tadi pertanyaanku hanya dijawab dengan gelengan kepala saja. Sabar, Tep…orang sakit emang gitu.

__ADS_1


“Apa ada keluarga yang bisa saya hubungi untuk menemani Ibu di sini?” tanyaku lagi yang kuyakini kalau jawabannya pasti gelengan kepala.


Bu Alena menggeleng lagi.


Tuh, benarkan apa yang kupikirkan. Dia cuma menggeleng saja.  Menyebalkan bukan? Gak sehat gak sakit bikin orang keki. Kamu memang benar-benar wanita yang luar bisa, Bu Alena. Luar biasa menyebalkan.


“Jadi Ibu maunya apa?” tanyaku sedikit kesal.


“Makasih,” ucapnya lirih.


“Eh...”


Aku kaget mendengar ucapan terima kasih keluar dari mulutnya. Bisa juga dia bersikap sopan seperti ini.


Kruuuuk…


Terdengar bunyi perut keroncongan yang berasal dari perut Bu Alena.


“Ibu lapar?”


Bu Alena menatapku aneh.


“Gak usah kaget mendengar pertanyaan dari saya, Bu. Itu perut Ibu bunyi tanda kalau Ibu lapar,” kataku.


Bu Alena tidak merespon perkataanku, mungkin karena malu.


“Saya bikin bubur buat Ibu. Ibu mau makan bubur buatan saya? Tenang saja Bu, saya masaknya pakai perasaan, tidak akan menambahkan racun ke dalam buburnya.”


Aku bergegas ke dapur untuk menyiapkan bubur. Setelah menemukan mangkok di rak piring, kuambil bubur yang masih mengepul dari pancinya lalu kutuangkan ke dalam mangkuk. Aku menambahkan kecap asin yang ada di rak bumbu supaya menambah cita rasa.


“Ini buburnya.” Aku menyodorkan semangkuk bubur buatanku ke hadapan Bu Alena.


“Saya belum mau makan,” ucapnya lirih.


“Eeh, si Ibu mah. Ibu tuh sakit sampai pingsan. Mungkin Bu Alena pingsan karena belum makan. Kalau kata orang Sunda, disebut salatri. Bu Alena tahu artinya salatri?”


Sudah kuduga, Bu Alena tidak merespon pada apapun yang kukatakan. Menyebalkan.


Aku duduk di samping Bu Alena dan mulai menyendok bubur untuk aku masukan ke dalam mulutnya.


“Saya suapin.”


Bu Alena masih menutup rapat bibirnya.


“Kalau tidak mau buka mulut, saya akan paksa. Mau dipaksa dengan cara apa? Mau makan bubur dengan cara alternatif? Kalau Bu Alena tidak mau disuapi pakai sendok, saya suapi pakai mulut saya. Mau?” tanyaku sedikit menggoda.


Mungkin karena takut dengan ancamanku, Bu Alena langsung membuka mulutnya. Tidak kusia-siakan kesempatan ini dengan menyuapkan beberapa sendok bubur sampai  suapan ke-empat, Bu Alena kembali menutup rapat mulutnya.

__ADS_1


*********


to be continued...


__ADS_2