Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
64. Dia Cintaku 2


__ADS_3

Alena POV


Dasar laki-laki tukang bohong. Sampai jam segini belum juga datang.


Aku bingung kenapa aku merasa kesal gara-gara dia. Sebenarnya dia kemana, sih? Bikin senewen saja.


Eh, dia kan tidak berjanji untuk datang. Mungkin juga dia tidak tahu kalau ada syukuran ulang tahunku.


Tapi kan seharusnya dia tahu. Teh Iyah pasti memberitahunya kalau hari ini aku berulang tahun dan mengadakan syukuran. Kenapa dia tidak datang? Atau dia memang tidak tahu kalau ada syukuran?


Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus memikirkan dia?


Acara dimulai setelah kami melaksanakan salat berjamaah. Aku seperti gadis belia saja merayakan ulang tahun dengan memotong kue tart dan dinyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Abah memimpin doa, mendoakan yang baik-baik untukku terutama hal jodoh. Dalam doanya Abah meminta agar aku segera dipertemukan dengan jodohku dan diaminkan serentak oleh seluruh keluarga.


Setelah selesai berdoa, kami mulai menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Teh Iyah. Ada berbagai macam makanan kesukaanku lengkap dengan berbagai macam dessert yang rasanya pasti enak karena kulihat logo toko kue langganan Teh Iyah yang memang terkenal enak sekota Bandung.


Kulihat Teh Iyah sedang menelepon seseorang dan kuyakin orang yang ditelepon oleh Teh Iyah adalah Atep, laki-laki yang sudah membuat kerja jantungku jadi tidak normal. Dasar laki-laki menyebalkan. Kemana sih dia? Sampai sekarang belum menampakkan batang hidungnya.


Aku sedang bermain bersama Aras dan Aris. Mereka mendapatkan hadiah lego baru dari ayah mereka. Yang ulang tahun siapa yang mendapatkan kado siapa.


Sebenarnya, kakakku juga memberikan sebuah kado untukku. Satu set perhiasan yang sederhana tetapi terlihat elegan. Kakakku itu memang sedikit royal kalau memberikan hadiah pada orang-orang yang dia sayangi. Istrinya saja diberi kado hampir tiap minggu sampai-sampai Teh Iyah sering protes karena suaminya itu terlalu royal dalam memberi hadiah. Tapi kakakku mana mau mendengar protes istrinya. Menurutnya, suami itu kerja banting tulang menghasilkan banyak uang agar dihabiskan untuk menyenangkan istri dan anak. Memang kakakku itu suami yang luar biasa. Aku tidak pernah menyangka dia akan bersikap seperti ini jika dilihat dari kelakuannya di masa lalu.


“Aras…Aris, kado buat Tante mana?” tanyaku menggoda duo keponakanku.


Tampak Aras dan Aris kebingungan dengan pertanyaanku. Sepertinya mereka memang tidak menyiapkan kado untukku. Apa yang bisa kuharapkan dari bocah seperti mereka?


“Hm, kado dari Aras dan Aris spesial. Hadiahnya bukan barang tapi Aras yakin Tante pasti suka,” ucap Aras dengan senyum misteriusnya.


“Mana?” aku menagihnya.


“Mana yaa?” tampak Aris mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari sesuatu.


“Tuh, kadonya sudah datang!” seru Aras.


“Mana?” tanyaku.


“Tuh!” Aras mengarahkan jari telunjuknya pada sesuatu di belakangku.


Aku berbalik untuk melihat yang Aras tunjuk.


Dia…

__ADS_1


Dia berdiri di sana. Terlihat tampan dengan kameja berwarna abu tua dan celana jeans dengan warna yang belum pudar. Dia terlihat cukup rapi untuk menghadiri sebuah acara syukuran keluarga.


Dia menatapku dan aku balas menatapnya.


Tolong…


Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari sosok pria itu.


Aku tersentak ketika Aras dan Aris menarik tangan kanan dan kiriku hingga mau tidak mau aku melangkah mendekatinya. Aras dan Aris langsung berlari entah kemana setelah mereka mengantarkanku ke hadapannya.


“Hai…” sapanya.


“Hai…”


“Selamat ulang tahun.” Dia memberikan sebuket bunga dan menyalamiku.


“Terima kasih.”


Hening…


“Kenapa baru datang?”


“Maaf. Tadi ada urusan yang harus segera aku selesaikan.”


Dia menggeleng.


“Makan dulu. Teh Iyah sudah menyiapkan banyak makanan.


“Nanti saja. Aku mau bicara sama kamu?”


“Mau bicara apa?” tanyaku.


“Bicara yang sedikit penting. Sangat penting bagiku tapi mungkin tidak terlalu penting bagi kamu.”


“Mau bicara apa? Tidak usah banyak basa basi.”


“Hm….”


Belum juga dia bicara, Aras dan Aris kembali datang dengan membawa sepiring penuh makanan yang aku duga akan diberikan pada paman kesayangan mereka.


“Mang Atep, ini buat Mamang. Kata Ibu, Mang Atep belum makan.” Aris menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Sedang Aras membawa sepiring kecil dessert dan segelas air putih.


“Kata Ibu, Mang Atep juga belum sempat minum pas tadi datang. Nih minum dulu.” Aras menyodorkan segelas air putih pada Atep.

__ADS_1


Kulihat Atep mengambil gelas itu dan mengucapkan terima kasih kepada Aras dan Aris. Lalu ia duduk dan menghabiskan makanan yang tadi dibawakan oleh Aris. Melihat dia sibuk makan, aku menyelinap pergi.


“Mau kemana? Tunggu aku makan!”


Dasar menyebalkan seenaknya main perintah tapi sepertinya aku bodoh juga karena menuruti kemauannya. Atau mungkin aku sudah terhipnotis olehnya? Aarg…menyebalkan.


Aku duduk di sampingnya. Kuketuk-ketukkan tangan di atas pahaku. Sepertinya aku gugup berada dekat dengannya. Apalagi tidak ada yang bisa kukerjakan selain menemaninya makan.


Kemana juga dua bocah pembuat onar itu. Setidaknya kalau mereka ada, situasinya tidak akan secanggung ini.


“Aku cari dulu Aras dan Aris.”


“Buat apa mencari mereka?”


“Buat menemani kita di sini.”


“Kenapa kita perlu ditemani mereka?”


“Pokoknya aku mau cari mereka dulu.”


“Tetap di sini.” Dia meraih pergelangan tanganku ketika aku hendak beranjak.


“Aku mau ambil ponsel dulu.” Aku sudah bersiap untuk berdiri lagi.


“Aku bilang tetap disini.” Dia kembali menarik tanganku.


Iiih…perintahnya benar-benar membuatku kesal.


“Aku canggung tidak melakukan apapun sementara kamu sedang makan.”


“Kalau begitu aku berhenti makan saja.”


Kulihat masih ada separuh nasi dan lauk pauk yang belum dia habiskan.


“Jangan! jangan suka membuang-buang makanan. Aku hanya mau ambil ponsel saja. Aku janji tidak akan lama.”


“Baiklah.” Akhirnya dia melepaskan tanganku.


Dasar pria paling menyebalkan di seantero jagad raya.


******


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2