
Atep POV
“Assalamu’alaikum,” kusapa gadis cantik yang sudah menempati ruang dalam hatiku.
“Wa’alaikumsalam.” Dia menjawab salamku. “Ada apa?” tanyanya ketus.
“Calon suami menelepon malah diketusin. Tanya dulu kabarnya, jangan ketus begitu,” ucapku sabar.
“Calon suami siapa? Ngarang aja.”
“Calon suami kamu. Kabar aku baik-baik aja. Kemarin-kemarin aku gak sempat kirim kabar ke kamu soalnya aku lagi sibuk banget. Kamu apa kabarnya?” tanyaku.
“Siapa yang nanya?” dia menjawab ketus.
“Barangkali kamu malu nanya, jadi aku inisiatif saja. He-he-he…” Aku terkekeh.
Hening
“Nanti pas tengah malam aku boleh telepon kamu ya?”
“Mau ngapain?” tanyanya ketus.
“Mau ngucapin selamat ulang tahun,” jawabku.
“Iiiih, aku mau tidur cepat malam ini. Jadi jangan ganggu aku dengan telepon dari kamu. Gak penting banget sih, kaya remaja alay saja pakai ngucapin ulang tahun tengah malam.”
“Maklum belum pernah pacaran. Jadi pengen ngerasain jadi laki-laki romantis,” godaku.
“Iiih…gak mau…gak mau….”
“Boleh vicall tidak?” tanyaku.
“Gak!”
“Kenapa?”
“Ngapain juga vicall. Besok juga ketemu kan.”
“Loh memangnya besok kita ketemuan?”
Sebenarnya aku tahu kalau besok ada acara syukuran ulangtahunnya. Besok juga aku akan menjalankan rencanaku untuk melamarnya.
“Eh, besok kan ada acara syukuran ulang….eh, gak jadi. Nanti-nanti juga kita ketemu. Kamu kan suka maksa-maksa buat ketemuan gitu.” Dia sedikit tergagap.
“Jadi sekarang kamu mau aku ajak ketemuan?” tanyaku.
“Aku gak mau juga, kamu pasti maksa.”
“Tapi kamu mau juga kan?”
“Tau ah,” jawabnya terdengar kesal.
“Besok ketemuan yuk!” ajakku.
“Gak bisa. Aku ada acara keluarga.”
“Oh, ya sudah.”
Hening….
“Mau ngomong apa lagi?” tanyaku.
“Hmm…boleh gak kalau aku antar jemput kamu ke kampus? Jam kerja aku kan fleksibel.”
“Memangnya kamu gak akan dimarahin bos kamu kalau kamu sering izin?” tanyaku.
“Gak akan. Bosnya baik.”
“Kamu kerja di cafe sebagai apa sih? Kok bos kamu bisa baik begitu sama kamu?” tanyaku penasaran.
"Aku pegawai kesayangan bos."
“Oh…”
Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu. Mungkin ingin bertanya lebih jauh tentang pekerjaanku. Mungkin dia penasaran kenapa aku bisa bekerja dengan jam yang bebas. Nanti, nanti aku akan memberitahunya mengenai pekerjaanku yang sebenarnya tapi tidak sekarang. Aku juga tidak tahu alasan aku menyembunyikan pekerjaanku.
“Len….” panggilku.
“Hm…”
“Boleh tanya sesuatu gak?”
“Tanya apa?” nada suaranya sudah tidak ketus lagi.
Hening…
“Hm, seandainya…ini hanya seandainya saja ya.” Aku jadi meragu dan khawatir. Khawatir kalau dia akan langsung menolakku.
Hening kembali…
“Iya, seandainya apa?” tanyanya tidak sabar.
“Hm, kamu jangan marah ya?”
“Iya.”
“Janji?”
“Ish, menjengkelkan. Iya iya…aku gak akan marah. Cepetan mau ngomong apa? Kalau masih terus begini, aku tutup telepon,” ancamnya.
“Tunggu! jangan tutup dulu! Dengerin dulu.”
__ADS_1
“Ya makanya cepetan kalau mau ngomong.”
“Iya, ini juga mau ngomong. Hm... Kalau kita berjodoh dan menikah….”
Dia diam….
“Kalau kita berjodoh dan menikah, kamu mau terima aku apa adanya?”
Dia terdiam.
Hening…
“Len….Len…” panggilku.
Aku takut dia memutuskan sambungan teleponnya.
“Len…kamu masih disitu kan?” tanyaku semakin cemas.
“Ehem, hm… seperti yang kamu bilang tadi, ini seandainya kan. Aku akan menerima siapapun nanti yang akan menjadi imamku dengan syarat utama agamanya.”
Akhirnya dia menjawab juga walaupun jawabannya tidak sesuai dengan harapannya bahwa dia akan langsung menjawab iya.
“Jadi kamu akan menerimaku yang baru lulus kuliah dan belum punya pekerjaan yang stabil?” tanyaku hati-hati.
“Hmmm…kan sudah aku bilang aku mencari pasangan dengan agamanya yang baik, yang bisa membawaku ke surga. Sudah jelas kan?”
“Berarti kamu menerimaku?” aku bertanya lagi karena aku masih belum mendapatkan kepastian dari jawabannya.
“Tau ah…”
Dia langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Aku mencoba untuk menghubunginya lagi, tapi dia tidak menerima panggilanku. Beberapa kali aku menghubunginya tapi hanya terdengar nada sambung saja.
Setelah lebih dari sepuluh kali aku mencoba melakukan panggilan tetapi hasilnya nihil, aku pun menelefon Teh Iyah untuk menanyakan rencana acara syukuran besok.
“Assalamualaikum, Teh.”
“Waalaikumsalam. Kata A Endra, kamu menemui dia di kantornya?”
“Iya, Teh.”
“Ngapain?” tanya Teh Iyah sepertinya penasaran.
“Memangnya suami Teteh tidak memberitahu?” aku menjawab pertanyaan Teh Iyah dengan pertanyaan.
“Kalau Teteh tau, tidak akan tanya sama kamu. Gimana sih?” gerutuan Teh Iyah terdengar lucu di telingaku.
Ah, sepertinya aku sudah benar-benar menganggap Teh Iyah sebagai kakak kandungku. Tidak ada lagi perasaan seorang pria kepada seorang wanita. Sekarang rasa cintaku untuk Teh Iyah benar-benar cinta seorang adik kepada kakaknya.
Aku bersyukur Tuhan telah mengirimkan Alena kepadaku. Setelah bertemu dengan Alena, aku tersadar bahwa cintaku pada Alena adalah cinta seorang laki-laki kepada seorang perempuan dan cintaku pada Teh Iyah adalah murni cinta adik pada kakaknya.
“Ateeep…kamu tuh ditanya malah diam. Gimana sih?” kudengar nada suara Teh Iyah sedikit meninggi.
“Teteh tanya ngapain kamu menemui A Endra di Jakarta?”
“Buat minta dukungan.” jawabku sekenanya.
“Haah? Dukungan apa sih? Seperti mau pilpres saja minta dukungan.”
“Ya minta dukungan supaya Atep disupport buat ngejar cinta adiknya.”
“Halah, cintanya si Lena itu gak usah dikejar-kejar juga udah nyamperin. Teteh yakin, Lena juga suka sama kamu. Percaya sama Teteh.” Teh Iyah berkata dengan penuh percaya diri.
“Kenapa Teteh bisa seyakin itu?” tanyaku penasaran.
“Insting perempuan, he-he-he…”
“Ah, kalau itu sih buktinya kurang kuat,” ucapku tidak yakin dengan insting Teh Iyah.
“Eeeh, jangan suka meremehkan insting seorang perempuan. Kamu harus tahu kalau insting Teteh itu kuat. Udah deh, yakin aja sama apa yang Teteh bilang.” ujar Teh Iyah meyakinkanku.
“Terus Atep harus bagaimana menghadapi Lena yang jutek banget?” tanyaku meminta pendapat dari Teh Iyah.
“Saran Teteh sih kamu harus pintar tarik ulur. Kaya main layangan gitu. Kalau dia menjauh kamu tarik, kalau dia sudah mendekat kamu ulur dulu sebentar. Ya gitu deh. Kamu ngerti kan?”
“Ngerti gak ngerti sih.” jawabku jujur.
“Duuuh, dasar cowok. Gak yang udah nikah gak yang masih jomblo sama saja leletnya.”
“Ngomongin suami sendiri ya? Dosa loh Teh ngomongin suami sendiri.”
“Kenyataannya memang begitu. Kadang Teteh suka kesel banget sama A Endra yang sering lelet mikirnya. Pengen marahin langsung takut dosa tapi suka sebel kalau lihat kelakuannya yang menyebalkan dan kurang peka itu. Eh, kenapa ini malah curhat ya?”
Teh Iyah terkekeh setelah menyadari kalau dia mulai membicarakan kejelekan suaminya.
“Kalau Teteh menganggap kaum pria itu susah pahamnya karena perempuannya juga suka tidak bicara dengan jelas. Teteh tahu tidak kelakuan adik ipar Teteh itu kalau ditanya mau makan apa, jawabnya selalu terserah. Tapi kalau Atep yang pilihkan makanannya, dia tidak suka. Aneh kan?”
Teh Iyah tertawa terbahak mendengar curhatanku tentang Alena.
“Nanti saja lah ngomongin tentang pria dan wanita. Terlalu rumit untuk diurai.”
“Jadi gimana, Teh? Tanyaku dengan pertanyaan yang sama untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan.
“Gimana apanya?”
“Itu yang tarik ulur.”
“Ya kaya main layangan saja lah. Nanti Teteh kasih tau kalau Teteh udah yakin sama perasaan Lena sama kamu. Nanti Teteh mau tes drive dulu.”
“Memangnya mobil pakai test drive segala.
__ADS_1
Teh Iyah tertawa mendengar nada suaraku yang pasti terdengar sedikit frustasi.
“Terus acara besok bagaimana, Teh?” tanyaku penasaran dengan rencana kejutan dari Teh Iyah.
“Pokoknya kamu tenang dan tau beres saja. Teteh yang atur semuanya. Sekarang kamu lagi ada di mana?”
“Masih di kereta api.”
“Kapan nyampe?”
“Sekitar satu jam lagi.” jawabku.
“Oke deh kalau gitu. Teteh tutup dulu teleponnya ya?”
“Jangan dulu, Teh!” buru-buru aku mencegah Teh Iyah.
“Ada apa lagi?”
“Ada Lena gak disitu? Tadi kita lagi teleponan tapi ditutup sepihak sama dia.”
“Oh, tunggu sebentar.”
“Len...”
Kudengar Teh Iyah berteriak memanggil Alena.
Setelah menunggu beberapa saat kudengar Teh Iyah yang menggoda Alena dengan mengatakan kalau aku adalah calon suaminya.
“Nih, terima telepon dari calon suami kamu.”
“Calon suami apaan sih?” kudengar juga gerutuannya akibat godaan Teh Iyah.
“Hallo…apa?” dia menyapaku dengan nada suara yang ketus tapi terdengar merdu di telingaku.
“Jangan galak-galak dong.”
“Cepetan mau ngapain?” tanyanya tidak sabar.
“Kenapa tadi ditutup teleponnya?” kubuat suaraku sedatar mungkin.
“Kebelet pipis,” jawabnya asal dan tanpa menjaga imej.
“Jadi jawabannya apa? tanyaku untuk meyakinkan diri.
“Jawaban apa?”
“Yang tadi aku tanyakan.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Apa harus aku ulang pertanyaannya?”
“Gak.”
“Jadi apa jawabannya?” kutanya sekali lagi.
“Kamu ngeselin.”
“Tapi ngangenin kan?”
“Cih, ngayal.”
Aku terkekeh mendengar umpatannya.
“Gak usah ketawa!” Dia sedikit membentakku. Mungkin dia malu karena aku menggodanya.
“I love you.”
Tiba-tiba saja mulutku mengeluarkan tiga kata sakral itu.
Deg….
Jantungku berdetak tak karuan menunggu dia merespon pernyataan cintaku.
Hening
“Len…Lena…are you still there?” aku memanggil-manggilnya dengan kekhawatiran dia akan langsung memutuskan sambungan telepon kami lagi.
“Kalau kamu ngomong yang gak-gak lagi, aku tutup teleponnya!” ancamnya dengan suara yang sedikit bergetar. Sebuah respon yang sebenarnya sudah aku duga tapi aku masih mengharapkan jika bukan itu jawabannya.
“Aku gak ngomong yang enggak-enggak. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku.”
Aku mencoba untuk mengerahkan segala upaya agar ia percaya dengan ungkapan cintaku.
“Kenapa kamu jadi gombal kaya gini sih? Sama sekali gak cocok!.”
“Jadi cocoknya bagaimana?”
“Udah ah… kalau gak ada yang penting lagi, aku tutup teleponnya. Jangan nyusahin Teh Iyah lagi. Kalau aku gak jawab telepon kamu berarti aku memang lagi gak bisa jawab telepon.”
“Makanya angkat telepon dari aku dan jangan suka tutup telepon seenaknya.” Aku berkata tegas.
“Ya udah, aku tutup teleponnya sekarang. Assalamualaikum…”
Tumben dia tidak langsung menutup teleponnya.
“See you tomorrow. Wa’alaikumsalam.”
Haaaaah, akhirnya aku berhasil juga mengungkapkan apa yang ada di hati dan aku tidak percaya kalau aku berani untuk mengatakan cinta. Tadinya aku ingin langsung mengatakannya saat kami bertemu tapi sepertinya aku sudah tidak sabar.
*********
__ADS_1
to be continued...