
Atep POV
Kulihat wajah itu. Wajah yang akhir-akhir ini selalu mengganggu waktu tidurku.
Alena
Langkahku terhenti.
Kulihat dia sedang duduk di kursi taman bersama dengan 2 orang perempuan lainnya yang tidak aku kenal.
“Aras, Aris…. ngapain tarik-tarik tangannya Mang Atep?” seru Teh Iyah dari kejauhan.
“Aris mau ngenalin Mang Atep sama Tante Lena,” jawab Aris berteriak.
“Iiiih, kan Ibu yang mau ngenalin Mang Atep ke tante kamu. Kenapa jadi kalian yang duluan. Sesama bis kota itu tidak boleh saling mendahului. Sana pergi!” Teh Iyah datang tergopoh-gopoh dan langsung mengusir Aras dan Aris.
“Aris juga mau ngenalin Mang Atep sama Tante Lena,” protes Aris yang diusir oleh Ibunya.
“Ibu sama Aris ngenalinnya barengan aja. Kenapa harus ribut sih?” protes Aras.
“Ah… sudah sudah jangan bantah Ibu. kalian dipanggil sama Ayah. Sana!” perintah Teh Iyah pada anak kembarnya.
Aras dan Aris segera berlari ke dalam rumah setelah mendengar ayah mereka memanggil padahal aku tahu kalau Kagendra tidak memanggil anak-anaknya. Aku lihat tadi dia sedang asyik mengobrol dengan saudara-saudaranya.
“Tep….sini Tep!” Teh Iyah memberi perintah agar aku mendekat.
Aku berjakan mendekati Teh Iyah.
“Sini, Len!” Teh Iyah juga menyuruh perempuan itu untuk mendekat.
Kulihat dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat.
“Atep, Teteh kenalin ini Alena adiknya A Endra. Nama Lengkapnya Alena Damayanti Nataprawira, biasa dipanggil Lena.”
Aku memandangi wajahnya yang sedikit menunduk malu.
“Lena, ini Atep, adiknya Teteh. Nama lengkapnya Atep Dananjaya, biasa dipanggil Atep.”
Kulihat dia mengangkat wajah dan balas memandangiku.
“Nah sudah Teteh kenalkan kalian berdua. Selanjutnya terserah kalian. Perlu kalian ketahui kalau keluarga kalian sudah menyetujui kalau kalian ingin melanjutkan ke arah yang lebih jauh.”
“Haah.” Aku terkejut mendengar apa yang barusan Teh Iyah katakan.
Aku memang mengetahui kalau Teh Iyah berencana untuk menjodohkan aku dengan adik iparnya. Tapi aku tidak menyangka jika keluarga besar kami sudah mengetahui rencana ini dan bahkan menyetujuinya.
Kulihat juga dia sama terkejutnya denganku.
“Maksud Teh Iyah apa?” tanya Alena.
Aku juga memandang wajah Teh Iyah untuk mendapatkan jawabannya.
“Abah sama Ibu sudah setuju kalau nanti kalian berjodoh dan menikah,” jawab Teh Iyah dengan nada gembira.
“Mak Isah juga sudah tau dan setuju kalau kamu nanti mau melamar Lena,” jawab Teh Iyah padaku sambil mengedipkan sebelah mata.
“Tapi kan kami baru saja dikenalkan,” protes Alena.
Aku juga melayangkan protes yang sama tapi tidak kuungkapkan.
Eh, kami tidak baru saja dikenalkan. Kami kan sudah kenal sejak lama. Pandai juga dia bermain drama.
__ADS_1
“Walaupun baru dikenalkan kan bukan berarti tidak cocok juga,” ujar Teh Iyah ceria.
“Iya, Len. Aa melihat kalau Atep ini laki-laki yang baik dan penyayang. Apa salahnya jika kalian mencoba,” ucap Kagendra yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping istrinya.
Sepertinya suami istri itu memang kompak untuk menjodohkan aku dengan Alena.
“Eh, Aa ngapain ke sini?” hardikTeh Iyah yang sepertinya tidak suka kalau suaminya itu ikut campur dalam usaha menjodohkan aku dengan adik iparnya.
“Tadi Aras dan Aris datang dan marah-marah sama Aa. Mereka bilang kalau Aa sudah mengganggu rencana mereka untuk mengenalkan tante dan mamang kesayangan mereka.” jelas Kagendra.
Teh Iyah terkekeh mendengar penjelasan dari suaminya itu.
“Kamu yang bilang sama Aras dan Aris kalau Aa memanggil mereka?”
“Iya,” jawab Teh Iyah tanpa merasa bersalah.
Tuk…
Kagendra menyentil pelan dahi Teh Iyah.
“Aw…sakit Aa.” Teh Iyah mengusap-usap dahinya yang tadi disentil Kagendra. Aku yakin sentilannya tidak sakit. Teh Iyah bersikap seperti itu untuk bermanja-manja pada suaminya.
“Makanya jangan suka bohongi anak sendiri. Kebiasaan buruk.”
Cup
Kemudian Kagendra mencium dahi Teh Iyah.
“Biar tidak sakit lagi.” ucap Kagendra menggelikan.
Cih ucapan laki-laki bucin itu membuat telingaku geli.
Kulihat Alena juga mengernyitkan keningnya.
Teh Iyah dan Kagendra menghentikan public display affection mereka setelah mendengar protes Alena.
Seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik tiba dan merangkul bahu Alena. Sepertinya perempuan paruh baya itu ibunya Alena dan laki-laki yang datang bersamanya adalah ayahnya Lena yang wajahnya pernah aku lihat ketika dulu beliau datang melamarkan Teh Iyah untuk anak laki-lakinya.
“Abah dan Ibu juga merasa kalau Atep ini laki-laki yang baik setelah mendengar cerita dari Aa dan Iyah.” ucap ibunya Alena.
“Ibuuu…..” suara protesnya Alena yang manja terdengar indah di telingaku.
“Saya Yusuf, Abahnya Lena. Kamu boleh memanggil saya Abah seperti Endra, Iyah, dan Lena memanggil saya.” Pak Yusuf mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.
Aku menyambut uluran tangan Pak Yusuf dan mencium punggung tangannya.
“Saya sudah pernah bertemu dengan Bapak ketika dulu Bapak datang ke rumah Teh Iyah,” kataku.
“Oh ya? Dulu saya tidak meihat kamu. Mungkin kamu masih remaja saat itu ya?” tanya Pak Yusuf.
“Baru lulus SMA, Pak,” jawabku.
“Panggil saja Abah, seperti yang lainnya,” pinta Pak Yusuf.
Aku mengangguk.
“Ini Ibu Indriani, ibunya Alena. Kamu juga boleh memanggilnya Ibu,” tambah Pak Yusuf.
Aku mencium punggung tangan Indriani yang tersenyum manis.
“Usia kamu sudah mau kepala tiga. Ibu tidak mau kamu kelamaan jadi perempuan single dan nanti malah semakin sibuk sama karir kamu.” Bu Indriani menyindir anak gadisnya.
__ADS_1
“Lena baru 28 tahun, Bu,” sahut Alena.
“Iya dua tahun lagi kamu 30 tahun,” balas Bu Indriani tidak mau kalah.
“Zaman sekarang, umur 30 tahun itu masih muda, Bu.” Alena mencoba membela diri.
Bu Indriani tidak menghiraukan protes dari putrinya.
“Nak Atep, kalau boleh Ibu tahu, usia kamu berapa? Apa kamu mau menerima calon istri yang usianya lebih tua. Kata Iyah kamu baru lulus kuliah. Usia kamu berapa? 24 tahun? Atau 25 tahun?” tanya Bu Indriani.
“Usia saya sekarang 27 tahun, Bu,” jawabku. “Saya memang sangat terlambat menyelesaikan kuliah karena disibukkan mencari biaya kuliah sendiri.”
“Oh, bagus kalau kamu membiayai kuliah kamu sendiri. Itu artinya kamu laki-laki pekerja keras. Kamu bekerja sambil kuliah?”
“Betul, Bu."
“Atep bantu-bantu Iyah ngurus butik dan café. Dia juga sudah mulai usahanya sendiri,” sahut Teh Iyah.
“Bagus! Pria yang bertanggung jawab,” puji Pak Yusuf.
“Saya memang sangat terlambat menyelesaikan kuliah karena sibuk mencari biaya untuk bayar kuliah.” ucapku cepat untuk menjawab keheranan Bu Indriani.
"Tidak apa-apa terlambat kuliah. Bagi Ibu dan Abah, persyaratan terpenting untuk jodohnya Lena bukan titel atau kekayaan tetapi agamanya," ujar Bu Indriani.
Aku tersenyum bangga mendengar pujian dari orangtua Alena. Sepertinya langkahku untuk bisa berjodoh dengan Alena akan mudah. Yang sulit adalah menaklukkan hati perempuan yang dingin itu.
“Abah setuju,” bisik Pak Yusuf yang masih bisa kudengar.
“Ibu juga setuju,” ucap Bu Indriani sambil mengedipkan mata pada Alena.
“Abah…Ibu…” suara malu-malu Alena membuatku semakin terpesona.
“Kalian berdua ngobrol-ngobrol saja dulu supaya lebih saling mengenal.” Pak Yusuf menepuk bahuku sambil berlalu untuk masuk ke dalam rumah.
“Abah dan Ibu ke dalam dulu,” Bu Indriani juga menepuk bahuku.
Aku mengangguk sebagai tanda hormat.
“Jaga anak Ibu baik-baik.” bisik Bu Indriani di dekat telingaku.
Aku tersenyum mendengarnya.
“Tep, saya sama Iyah juga masuk dulu ya. Kalian berdua ngobrol-ngobrol saja dulu.” A Endra manarik tangan Teh Iyah agar mengikutinya ke dalam rumah.
“Teteh yakin kalian berdua akan cocok,” teriak Teh Iyah yang mungkin terdengar oleh semua orang yang berada di halaman belakang.
“Kei….Prita…Teteh punya gamis dan tas baru buat kalian. Sini ikut Teteh.” Teh Iyah kembali berteriak memanggil kedua teman Alena yang tadi duduk bersama di kursi taman.
Aku yakin Teh Iyah sengaja memanggil mereka untuk memberiku dan Alena waktu dan tempat untuk mengobrol saling mengenal.
“Len, kita masuk dulu ya. Teh Iyah manggil tuh,” ujar salah satu dari teman Alena yang belum aku ketahui namanya.
“Eh, jangan. Eh, disini saja,” kulihat Alena tampak gugup setelah kedua temannya itu pergi.
“Hai.” Aku melambaikan tangan di depan wajah Alena.
Kulihat raut kesal wajahnya tapi anehnya sangat aku suka.
Alena melengoskan wajahnya dan memilih untuk kembali duduk di kursi taman.
Aku pun ikut duduk di kursi taman. Kami berdua duduk saling berhadapan. Aku suka dengan posisi seperti ini karena aku bisa melihat wajah Alena dengan jelas.
__ADS_1
********
to be continued....