Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
35. Resah


__ADS_3

Alena POV


Aku bangun kesiangan hari ini karena semalaman aku tidak bisa tidur. Sialnya lagi, ada jadwal kelas pagi sehingga aku tidak bisa tidur lebih lama lagi setelah subuh.


Aku baru berhasil memejamkan mataku untuk tidur setelah subuh dan hanya sekitar 15 menit saja. Salahkan laki-laki berengsek itu karena gara-gara dia aku sulit untuk tidur.


Aku memikirkan pertemuan kami nanti. Dia bilang akan menjemputku di kampus. Aku memikirkan bagaimana reaksi para rekan dosen kalau tahu dia menjemput untuk makan siang. Arrrgh… dasar menyebalkan!


Sepanjang malam tadi, wajah si gondrong menyebalkan itu, eh sekarang sudah tidak gondrong lagi, terus berseliweran dalam pikiranku.


Penampilan dia sekarang yang tidak gondrong memang terlihat lebih rapi dan bersahaja. Aku seperti melihat sosok pengusaha-pengusaha muda yang sering aku bayangkan ketika membaca novel-novel romantis. Tapi jujur, aku lebih menyukai tampilannya ketika masih gondrong. Di mataku, dia lebih seksi ketika berambut gondrong dan berpakaian sedikit urakan dengan jeans belel dan kameja flanelnya.


Aku jadi penasaran bagaimana bentuk perut dia. Apakah punya sixpack juga seperti kakakku? Eh, kenapa pula aku berpikiran kotor seperti ini. Ah, otakku sudah terkontaminasi virus berbahaya.


Sekarang aku termangu di depan lemari pakaian. Aku bingung memilih pakaian yang akan aku kenakan. Ini tidak seperti biasanya dimana aku akan memilih pakaian dengan cepat.


Ah, ini semua gara-gara dia. Untuk memilih pakaian yang akan aku kenakan saja menghabiskan banyak waktu. Waktuku yang berharga jadi terbuang dengan percuma.


Aku kesal karena belum juga berhasil menentukan baju yang akan aku pakai sedangkan waktu terus berjalan.


Aaargh… Sudahlah aku pakai baju yang biasa aku pakai saja. Setelah berhasil menentukan pakaian, sekarang aku bingung menentukan kerudung yang akan aku kenakan. Kerudung mana yang cocok dengan baju yang aku pilih?


Menyebalkan, aku menghabiskan waktu lebih dari 30 menit hanya untuk memilih pakaian dan kerudung saja. Untuk bawahan aku pilih yang warna hitam saja. Kalau aku mencoba mencocokkan warna bawahan yang akan aku pakai, mungkin bisa satu jam lagi aku baru berhasil memadupadankan outfit hari ini.


Aku kesal dan marah dengan diriku sendiri. Kenapa aku bisa bersikap seperti ini? Kenapa gara-gara memikirkan pertemuan kami siang nanti membuat aku gelisah sepanjang malam? Belum lagi memikirkan pertemuan kami nanti di hari Sabtu. Ingin rasanya menghilang ke planet Mars.


Alhasil aku terlambat masuk kelas pagi ini. Di dalam kelas pun aku tidak bisa fokus karena masih saja memikirkan pertemuan kami nanti. Aku melewatkan 2 jam terlama yang pernah aku rasakan. Padahal biasanya aku menikmati waktu saat mengajar di kelas. Terkadang waktu 2 jam terasa cepat berlalu. Berbeda dengan 2 jam sekarang yang terasa lambat sekali habisnya.


“Bu Alena pagi ini cantik luar biasa,” ucap salah seorang mahasiswi ketika kami berpapasan di lorong setelah keluar dari kelas.


“Eh….”


“Make-up nya cakep.” celetuk mahasiswi yang lain.


“Ajarin pakai make-up nya dong Bu.”


Aku membalas mereka hanya dengan senyuman. Aku merasa malu karena hari ini aku berdandan dan bersikpa tidak seperti biasanya. Aku merasa kalau aku bukan diriku.


Pagi tadi, selain lama menentukan outfit, tentu saja aku juga berlama-lama merias wajah agar terlihat lebih fresh. Aku tidak tidur semalaman yang mengakibatkan lingkar hitam di sekitar mata sehingga aku harus membubuhkan concealer yang agak tebal di sekitar mata. Salahkan saja laki-laki menyebalkan itu yang membuatku terjaga sepanjang malam.


“Iya nih, semalaman tidak tidur jadi harus pakai make-up yang gak biasanya,” ucapku malu.


Aku memang dekat dengan para mahasiswa. Mungkin karena aku dosen muda yang membuat mereka tidak segan dalam berinteraksi denganku. Aku juga berusaha tidak menjaga jarak dengan mereka.


Sebenarnya, aku hanya menjaga jarak dengan dia. Tapi aku juga heran kenapa dia bisa mendekatiku bahkan berani untuk mengajakku makan siang padahal aku sudah jaga jarak.


“Kapan-kapan kasih pelajaran tata cara memakai make-up di kelas, Bu Alena,” canda salah seorang mahasiswi.

__ADS_1


Aku tertawa mendengar usulan mahasiswiku.


“Kalau di kelas mengajar cara memakai make-up, kasihan dong mahasiswa yang laki-laki,” ujarku.


“Ah, mereka mah pasti seneng-seneng aja kalau lihat cewek-cewek cantik.”


Kamipun tertawa bersama mendengar ucapan tersebut.


“Saya duluan ya. Ada kelas lagi,” pamitku pada 3 orang mahasiswi yang mengobrol denganku.


“Baik, Bu. Ketemu lagi next week di kelas yaa,” ucap mereka kompak.


Setelah selesai sholat zuhur, sebuah pesan masuk.


Gondrong Nyebelin:


Saya tunggu di parkiran


Ya, sebentar


Beberapa menit kemudian, masuk lagi pesan baru.


Gondrong Nyebelin:


Kamu dimana?


Gondrong Nyebelin:


Saya jemput ke musala


Jangan


Gondrong Nyebelin:


Tunggu di musala. Saya ke sana sekarang.


Jangan!!!!!!!


Aku panik membaca pesan kalau dia sedang menuju ke sini. Aku segera menelepon dia tapi setelah beberapa kali aku mencoba menghubunginya, dia tidak juga mengangkat panggilanku. Dasar menyebalkan.


Sepertinya aku harus segera pergi dari musala.


Aku bergegas merapihkan mukena dan dengan setengah berlari menuju ruangan dosen.


“Mau kemana?”


Aku kaget ketika tanganku ditarik.

__ADS_1


Ketika melihat siapa yang menarik tanganku, aku menjadi panik.


“Lepas! Jangan buat ribut disini!” kataku pelan hampir berbisik karena tidak ingin terdengar oleh orang lain.


“Saya tidak membuat keributan.”


Dia belum melepaskan cengkraman tangannya.


“Aku bilang lepas!” ujarku tegas.


Dia pun melepaskan cengkraman tangannya.


“Kamu tunggu saja di bawah!” perintahku.


“Jangan kabur!” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.


Cih, menyebalkan. Aku kesal karena detak jantungku mulai tidak normal lagi. Duh, kenapa sih jantung ini tidak mau mendengar perintahku.


Dengan segera aku membereskan meja kerja dan bergegas menuju tempat parkir.


Setelah sampai di tempat parkir, aku mengedarkan pandangan mencari keberadaanya, tapi aku tidak menemukannya.


“Dimana sih dia? Tadi bilangnya menunggu di bawah. Aku cari sampai ke tempat parkir tetap tidak ketemu.” Aku menggerutu kesal.


Kalau memang dia tidak ada, lebih baik aku langsung pulang saja. Tidak ada kelas lagi setelah jam istirahat, jadi aku bisa kabur.


Segera kulangkahkan kaki menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Kurogoh kunci mobil dan kupijit tombol untuk membuka kunci mobil. Tangan kananku sudah berada di handle mobil ketika tangan yang kekar mencengkram tangan kiriku.


“Mau kabur?” bisiknya tepat di dekat telinga kananku.


“Eh,”


Aku terkejut dan segera mendorong tubuhnya menjauh dari tubuhku.


Refleks kaki kananku menendang tulang kering pria yang tadi mencengkram tanganku.


“Aww!”


Kulihat pria itu mengaduh kesakitan dan mengusap-ngusap tulang keringnya yang tadi kutendang.


“Kamu barbar sekali. Kenapa menendang kaki saya?”


“Suruh siapa kamu mengagetkanku. Refleksku sangat baik. Tendangan itu karena refleks sebagai pertahanan diri,” ucapku santai.


“Kamu mau kemana? Mau kabur?” tuduhnya.


**********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2