
Alena POV
“Ardan, Arkan, maafkan Tante ya. Tante tidak bisa berbuat banyak buat kalian. Kalian harus kuat.” Kutatap wajah adik-adiknya Aras dan Aris yang sedang minum susu formula. Ah setiap kali aku mengingat Aras dan Aris pasti air mata ini mengalir. Kalian dimana? Tante kengen sama kalian.
“Len,” kudengar suara Teh Iyah.
“Teteh,” Aku terkejut melihat Teh Iyah sudah berada di ambang pintu kamar Ardan dan Arkan.
“Len, Teteh mendengar suara tangis bayi.”
“Ini Ardan dan Arkan.” Kutunjukkan bayi kembar yang dilahirkan oleh Teh Iyah dua minggu yang lalu. Bayi kembar yang belum pernah merasakan sekalipun sentuhan dan air susu dari ibu mereka.
“Len,”
Tiba-tiba Teh Iyah menangis histeris.
“Maafkan Ibu, maaf…”
The Iyah menghambur mengambil salah satu bayi kembarnya lalu menciumi wajah bayinya. “Maafkan Ibu, maaf…”
Setelah menggendong Ardan, Teh Iyan menggendong dan menciumi Arkan.
__ADS_1
“Yang mana Ardan dan yang mana Arkan?” tanya Teh Iyah.
“Lena gak yakin siapa yang lahir lebih dahulu. Hanya saja Lena memberikan nama Ardan buat yang ini.” Aku menunjuk salah satu bayi Teh Iyah yang berukuran lebih besar sedikit.
“Siapa yang beri nama?”
“Aa. Aa hanya memberi nama Ardana dan Arkana. Untuk nama lengkap mereka Lena tambahkan Putra Nataprawira seperti nama Aras dan Aris.” Kulihat raut wajah Teh Iyah yang tidak berubah ketika kusebut nama Aras dan Aris.
“Maafkan Lena karena seenaknya memberi nama. Saat akan diadakan aqiqah buat mereka, Lena belum dapat nama lengkapnya dari Aa. Maaf juga karena Lena tidak bertanya pada Teteh karena…”
“Maafkan Teteh, Len. Maaf karena sikap Teteh yang sulit didekati. Terima kasih sudah memberi nama yang baik dan melaksanakan aqiqah untuk mereka.”
“Selama dua minggu ini, Teteh berjuang untuk bisa berdamai dengan semua yang terjadi. Teteh menyadari bahwa Teteh salah karena sudah mengabaikan Ardan dan Arkan. Teteh juga sulit untuk kalian dekati. Teteh berdosa sama Aa karena sudah durhaka sama suami.”
“Gak, Teh. Aa pasti mengerti kondisi Teteh. Teteh harus yakin kalau Aa pun tidak diam. Dua minggu ini Aa terus berusaha mencari keberadaan Aras dan Aris. Lena yakin Aa pasti menemukan Aras dan Aris.”
Kulihat Teh Iyah menyusut air matanya yang kembali mengalir.
“Teteh mau memberi mereka ASI?” tanyaku. “Kasihan Ardan dan Arkan baru sedikit merasakan air susu ibu mereka.
“Hm…” Teh Iyah menganggukkan kepala.
__ADS_1
Aku membantu Teh Iyah untuk menyusui Ardan. Setelah selesai menyusui Ardan, Teh Iyah menggendong Arkan dan mulai menyusuinya. Aku sangat bersyukur akhirnya Teh Iyah mau menerima Ardan dan Arkan.
Dua minggu, Aku dan Atep berusaha untuk menjaga Ardan dan Arkan dengan baik. Memberikan kasih sayang yang belum mereka dapatkan dari ayah dan ibu mereka.
Kulihat Atep yang hendak masuk ke dalam kamar sambil membawa satu kantong plastik berisi susu formula untuk Ardan dan Arkan.
“Tunggu di situ, Tep.” Aku menghalangi Atep karena Teh Iyah masih menyusui Arkan.
“Kenapa?” tanyanya heran.
“Teh Iyah sedang menyusui Arkan.”
“Oh, maaf. Alhamdulillah, akhirnya Teh Iyah mau juga menyusui mereka.”
“Sttt! Cepat siapkan susu buat Teh Iyah. Siapkan juga makanannya. Bilang sama Inah buat menyiapkannya.”
“Siap Bos.”
**********
to be continued...
__ADS_1