Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
77. Melapor


__ADS_3

A Endra sudah selesai melaporkan kejadian hilangnya Aras dan Aris, lalu ia menghubungi orang-orangnya lewat telepon dan terdengar nada suaranya yang meninggi.


“Bagaimana, A?” tanyaku.


“Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencari mereka. Sekarang kita kembali ke TKP. Mobilnya masih di sana. Kita lihat apakah cam yang ada di dashboard masih bisa kita buka. Itu pun kalau mereka tidak menghancurkannya.”


Ketika tiba di tempat kejadian, A Endra langsung memeriksa isi mobil dan dengan kecewa menemukan bahwa kamera yang ada di dashboard mobil sudah dihancurkan oleh para penculik.


A Endra langsung melihat ponselnya lalu mengaktifkan salah satu aplikasi.


“Yes!”


“Kenapa, A?” tanyaku penasaran karena melihat raut wajah A Endra yang berubah sedikit cerah.


“Aras dan Aris memakai jam tangan khusus sehingga aku bisa menangkap sinyal keberadaan mereka. Bodohnya aku karena saking kalutnya tidak teringat akan hal ini.”


“Dimana mereka, A?”


“Masih di dalam kota, tidak jauh dari sini.”


A Endra kembali memberikan perintah kepada para anak buahnya.


Satu jam kemudian, A Endra dan aku sampai di sebuah gedung kosong. Dengan hati-hati kami masuk ke dalam gedung tersebut tapi sayang tidak ada siapapun dalam gedung tua tersebut. Hanya ada dua jam tangan yang tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


“Sialan,” umpatnya.


Aku memungut kedua jam tangan milik Aras dan Aris, lalu menyerahkannya pada A Endra.


“Ini jam tangannya, A”


“Mereka mengetahui kalau aku memasang tracker di jam tangan mereka.”


A Endra memukuli dinding gedung hingga darah segar keluar dari pori-pori kulitnya yang terluka.


“Sabar, A. Kita pasti menemukan Aras dan Aris.” Aku menepuk pundak calon kakak iparku untuk menenangkan.


Arrrgh…..!!!


“Sabar, A. Kita pasti menemukan Aras dan Aris. Saya yakin para penculik itu tidak akan menyakiti Aras dan Aris karena mereka mengingingkan sesuatu dari Aa sebagai tebusan.”


A Endra kembali menelepon anak buahnya dan memberikan perintah untuk terus memantau pergerakan para penculik walaupun dengan sedikit petunjuk. Ia mengancam seluruh akan membubarkan organisasi yang sudah dipimpinnya bertahun-tahun jika anak buahnya tidak berhasil menemukan petunjuk keberadaan Aras dan Aris.


Aku menyupiri mobil yang membawa kami kembali ke rumah sakit.


“Sebaiknya A Endra membersihkan diri dulu sebelum ke rumah sakit. Saya khawatir Teh Iyah akan bertanya-tanya melihat keadaan A Endra yang seperti ini.”


“Ya. Sebaiknya begitu.”

__ADS_1


Aku membelokkan mobil menuju rumah agar A Endra bisa membersihkan diri sekalian membawa keperluan Teh Iyah dan bayi-bayinya yang tadi tidak sempat terbawa.


“Apa ada yang dicurigai, A?” tanyaku hati-hati. Kami sudah berada di mobil menuju rumah sakit.


“Belum ada, Tep. Timku sedang menyelidiki beberapa orang yang dicurigai.


“Apa Natasha termasuk?” Aku menyebut sebuah nama yang mungkin tabu diucapkan di hadapan A Endra dan Teh Iyah.


“Apa? Natasha? Kenapa kamu mencurigai Natasha?”


“Lena yang cerita dan kebetulan perempuan yang memasok bahan ke cafe saya adalah sepupu dari Natasha.”


“Kamu kenal dengan sepupunya Natasha? Ceritakan detailnya.”


Kemudian aku menceritakan kejadian tadi siang ketika Evangeline datang dan mengakui dirinya sebagai sepupu Natasha.


“Aku khawatir Natasha yang ada dibalik penculikan ini, tapi aku juga tidak bisa gegabah menuduh tanpa ada bukti yang jelas. Lagipula, Natasha belum pernah menghubungiku selama ini.”


Aku menganggukkan kepala, setuju dengan pendapat A Endra. Kita memang tidak bisa gegabah menuduh orang lain. Tapi aku sedikit curiga kalau masih ada nama Natasha dalam hatinya. Apa A Endra sedang membela mantan kekasihnya itu? Aku juga tidak tahu apa yang ada di pikiran kakak laki-laki dari calon istriku.


**********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2