
“Hallo, Nan. Ini Atep. Coba ceritakan dengan jelas!” perintahku.
“Den Aras dan Den Aris belum pulang dari tadi. Biasanya dari satu jam yang lalu sudah pulang. Nani kira mereka sedang bersama dengan Teh Lena. Makanya Nani telepon Teh Lena.”
“Kenapa ada polisi? Bisa saya bicara sama mereka?”
“Selamat sore. Saya dengan Dandi dari kapolsek An***ani. Korban bernama Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di mobilnya. Kami sudah membawa saudara Sholeh ke rumah sakit terdekat.”
“Apa ada dua orang anak-anak berusia enam tahun bersama dengan korban?”
“Kami tidak menemukan anak-anak, hanya korban bernama Sholeh saja.”
“Kalau begitu saya akan melaporkan kehilangan.”
Aku menyerahkan kembali ponsel milik Alena.
“Bagaimana, Tep?”
“Aku khawatir mereka diculik, Len.”
“Apa? Apa yang dikatakan sama polisi?”
“Mereka tidak menemukan Aras dan Aris di mobil yang disupiri Pak Sholeh. Pak Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil.”
“Aras dan Aris kemana?”
“Belum diketahui pasti. Sekarang aku akan pergi ke kantor polisi untuk lapor.”
__ADS_1
“Kita harus kasih tahu Aa.”
Aku menganggukkan kepala. Bagaimana pun buruknya kabar ini, ayahnya Aras dan Aris harus mengetahui.
Aku memanggil A Endra yang sedang berada di ruangan Teh Iyah. Aku ingin segera memberitahu kabar kemungkinan Aras dan Aris diculik padanya.
“A, bisa bicara sebentar di luar?” Aku berusaha menyembunyikan kesedihan dan kekhawatiranku.
“Makanannya sudah sampai?” tanya A Endra.
Aku hanya mampu mengangguk.
“Mana rantang nasinya, Len?” tanyanya lagi. Kemudian ia melihat rantang nasi di samping Alena dan langsung membuka tutupnya, lalu menyendokkan beberapa sendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
“Pelan-pelan makannya, A.” Alena sebenarnya sudah tidak mampu menahan isak tangisnya di depan kakaknya tapi ia harus membiarkan kakaknya makan dulu supaya memiliki energi untuk menerima kabar penculikan Aras dan Aris..
“Aa…” Alena tidak bisa lagi menahan tangis di depan A Endra.
“Ada apa, Len?” Raut wajah A Endra terlihat khawatir dan lelah. Ia langsung menghentikan kegiatan makannya dan memeluk Alena karena tidak biasanya wanitaku itu menangis hingga sesenggukan. Ah, mungkin ia pernah menangis seperti itu sebelumnya, tetapi ini pertama kalinya aku melihat dia menangis putus asa. Hati nyeri melihatnya menangis.
“Aa… Aras dan Aris.”
“Kenapa dengan mereka?”
Air mata yang mengucur deras membuat Alena tidak bisa berkata-kata.
“Ada apa, Tep?” tanya A Endra beralih padaku karena sudah dipastikan Alena tidak akan mampu menjawab pertanyaan kakaknya..
__ADS_1
“Tenang dulu, A.”
Aku dan A Endra duduk bersisian, sedangkan Alena masih terisak dengan bahu bergetar sambil memeluk lengan kakaknya.
“Tadi Nani telepon kalau ada polisi yang datang ke rumah dan melaporkan bahwa Pak Sholeh ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil lalu dibawa ke rumah sakit oleh polisi. Menurut polisi, mereka tidak menemukan Aras dan Aris bersama dengan Pak Sholeh,” jelasku mencoba menyampaikannya setenang mungkin. Aku tidak ingin membuat suasana semakin runyam. Sedikitnya aku sudah memahami perangai A Endra yang meledak-ledak.
“Apa?” Sudah kuduga A Endra sangat emosi ketika mendengar kabar ini. Ia berteriak dan mencengkram kerah kamejaku. “Mereka diculik!” Ia marah, sorot matanya membias antara marah dan khawatir.
“Saya juga berpikir seperti itu. Makanya saya akan segera lapor ke polisi,” kataku.
“Len, kamu tunggu di sini. Aa dan Atep akan ke kantor polisi,” perintahnya pada Alena.
Alena menganggukkan kepala.
“Jangan bilang apa-apa dulu sama Iyah kalau kamu nanti menemui Iyah. Basuh dulu wajah kamu. Jangan sampai Iyah tahu kalau kamu menangis. Mengerti?” perintah A Endra tegas. Ada sorot kemarahan dari tatapannya. Ternyata dia bisa sangat menakutkan jika sedang emosi. Aku bisa membayangkan bagaimana kehidupan Teh Iyah saat masih bersama Kagendra yang tidak mencintainya. Pasti sangat menderita.
“Iya, A.” Alena belum bisa mengendalikan diri. Bahunya masih bergerak naik dan turun karena tangisan. Mata dan hidungnya berwarna merah karena banyaknya air mata yang keluar.
“Len, jagain Teh Iyah,” ucapku.
“Atep, kamu harus menemukan Aras dan Aris. Bagaimana pun caranya. Jangan balik kalau mereka belum ketemu.”
“Insya Allah, Len. Aras dan Aris pasti segera ditemukan. Mungkin mereka mencari bantuan saat Pak Sholeh pingsan.”
Aku meninggalkan Alena dalam keadaan masih menangis.
**********
__ADS_1
to be continued...