
Atep POV
“Len…” Aku memanggil namanya pelan.
Dia berbalik dan menatapku.
"Cantik…"
Dia cantik dan aku sungguh terpesona. Mungkin dia bukan wanita tercantik di dunia tapi di mataku dia adalah wanita cantik yang sempurna.
“Hai!” Aku menyapanya.
“Hai!”
“Selamat ulang tahun.” Aku memberikan sebuket bunga yang mungkin sudah sedikit layu karena aku membelinya tadi pagi.
“Terima kasih.”
Hening…
“Kenapa baru datang?” tanyanya.
“Maaf. Tadi ada urusan yang harus segera aku selesaikan.”
“Kamu sudah makan?”
Aku menggeleng.
“Makan dulu. Teh Iyah sudah menyiapkan banyak makanan.
“Nanti saja. Aku mau bicara sama kamu?”
“Mau bicara apa?” tanyanya sedikit ketus. Walaupun nada suaranya selalu ketus tapi aku suka. Mungkin aku sudah gila tapi aku benar-benar tidak merasa sakit hati dengan keketusannya. Nada suaranya yang ketus terdengar indah di pendengaranku. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Semuanya akan terasa indah.
“Aku ingin bicara sesuatu yang penting. Sangat penting bagiku tapi mungkin tidak terlalu penting bagi kamu.”
“Mau bicara apa? Tidak usah banyak basa basi.”
“Hm….”
Belum juga aku mulai bicara, Aras dan Aris kembali datang dengan membawa sepiring penuh makanan yang aku duga akan mereka berikan padaku.
“Mang Atep, ini buat Mamang. Kata Ibu, Mang Atep belum makan.” Aris menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Sedang Aras membawa sepiring kecil dessert dan segelas air putih.
“Kata Ibu, Mang Atep juga belum sempat minum pas tadi datang. Nih minum dulu.” Aras menyodorkan segelas air putih padaku.
“Makasih dua kesayangan Mang Atep.” Aku mengucapkan terima kasih pada Aras dan Aris sambil mengacak rambut mereka.
__ADS_1
Kulihat Alena yang hendak melangkah pergi.
“Mau kemana? Tunggu aku makan!”
Dia duduk di sampingku. Sepertinya dia tidak merasa nyaman duduk di sampingku karena kulihat dia mengetuk-ketukkan tangan di atas pahanya. Sepertinya dia merasa gugup berada dekat denganku. Dia tidak tahu saja kalau aku juga sebenarnya sangat gugup. Jantungku rasanya seperti mau melompat saja dari tempatnya.
Untuk menutupi rasa gugupku, aku menyuapkan nasi dan lauk pauk tanpa suara.
“Aku cari dulu Aras dan Aris,” katanya tiba-tiba.
“Buat apa mencari mereka?”
“Buat menemani kita di sini.”
“Kenapa kita perlu ditemani mereka?”
“Pokoknya aku mau cari mereka dulu.” Dia bersikeras dengan keinginannya dan hendak beranjak dari sampingku.
“Tetap di sini!” Aku meraih pergelengan tangannya ketika dia hendak berdiri.
“Aku mau ambil ponsel dulu.” Dia sudah bersiap untuk berdiri lagi.
“Aku bilang tetap disini.” Kembali kutarik tangannya.
“Aku canggung tidak melakukan apapun sementara kamu makan,” ucapnya.
“Kalau begitu aku berhenti makan saja.”
“Jangan! jangan suka membuang-buang makanan. Aku hanya mau ambil ponsel saja. Aku janji tidak akan lama,” serunya melarangku untuk berhenti makan.
“Baiklah.” Setelah mendengar janjinya, aku melepaskan pegangan tanganku di pergelangan tangannya. Aku bersikap seperti anak kecil yang tidak mau ditinggalkan ibunya. Huh, sungguh memalukan. Aku benar-benar tidak ingin berjauhan dengannya.
Aku sudah menyelesaikan makanku ketika ia kembali dari mengambil ponsel dan kembali duduk di sampingku.
“Len,” panggilku.
“Hm…”
“Sesuatu yang penting itu. Bisa kita bicarakan sekarang?”
“Ya. Kamu mau bicara apa?”
“Kalau aku melamar, kamu mau menerima aku?”
“Haaah….”
Kulihat raut terkejut di wajahnya. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan menanyakan hal ini.
__ADS_1
Aku meraih kedua tangannya dan merangkumnya dengan tanganku.
“Aku serius. Aku ingin melamarmu hari ini. Rencananya aku akan langsung melamar tanpa bertanya dulu padamu sebagai kejutan tapi aku tidak mau kamu marah karena aku seenaknya melamar tanpa bertanya kesediaanmu.”
“Tentu saja aku bakal marah.” Dia berkata sewot.
“Itulah sebabnya aku bertanya dulu. Bagaimana? Kamu mau menerima lamaranku?”
“Kenapa mendadak sekali?”
“Tidak mendadak. Aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Aku meminta dukungan Teh Iyah untuk melamar kamu hari ini, di syukuran ulang tahun kamu.”
Tiba-tiba ia memukul lenganku.
“Kenapa menyusahkan Teh Iyah yang sedang hamil. Dasar adik tidak tahu diri.” Dia mendengus.
“Teh Iyah yang menawarkan diri. Aku juga sudah menolaknya, tapi Teh Iyah keukeuh ingin membuat perayaan ini menjadi sesuatu yang spesial buat kita.”
Dia mendelikkan matanya tanda tidak suka dengan tindakanku yang sudah merepotkan Teh Iyah.
“Aku juga sudah meminta restu pada kedua orang tua kamu. Kepada kakak kamu. Mereka semua merestui hanya saja keputusan terakhir ada di tangan kamu. Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
“Kamu mau?”
“Eh,”
“Mau tidak?”
“Mau apa?”
“Menjadi istriku.”
“Gak tau.” Jawabannya membuatku kebingungan.
“Kenapa tidak tahu?”
“Terlalu mendadak. Aku belum bisa berpikir.”
“Kamu suka sama aku?”
“Eh?”
“Suka atau tidak suka?” desakku.
“Eeeeh….”
__ADS_1
*********
to be continued...