
“Sttt! Cepat siapkan susu buat Teh Iyah. Siapkan juga makanannya. Bilang sama Inah buat menyiapkannya.”
“Siap Bos.”
Setelah memberi ASI pada Ardan dan Arkan, wajah Teh Iyah terlihat lebih ceria dan ada senyum di bibirnya. Aku bersyukur Teh Iyah sudah mulai bisa menerima keadaan.
“Len, Aa mana?”
“Lena tidak tahu, Teh. Sejak dua hari lalu belum pulang.”
“Coba kamu telepon A Endra. Bilang sama dia kalau Teteh mau bicara.”
“Baik, Teh.”
Baru saja aku memijit nomor kakakku ketika Atep memanggilku.
“Apa?”
“A Endra pulang,” bisiknya.
Aku langsung berlari menyongsong kepulangan kakakku untuk memberitahunya kalau Teh Iyah sudah mau berbicara padanya.
“A…”
Panggilku ketika kakakku manaiki tangga dari arah garasi.
“Len...” Wajahnya begitu pucat. Mungkin dia kelelahan mencari Aras.
__ADS_1
“Aa!” Aku terkejut. Kulihat kakakku ambruk di dekat pintu sebelum masuk. Beruntung Pak Rudi berhasil menangkap kakakku sehingga tidak terjerembab.
“Aa kenapa?” kuguncang tubuh kakakku yang terasa panas. “Aa demam, Pak Rudi?”
Pak Rudi menyentuh dahi kakakku, “Iya, sepertinya Bos sakit. Dua minggu memporsir tenaga dan pikiran. Wajar kalau Bos sampai pingsan begini. Dari kemarin belum makan juga.”
“Kenapa Pak Rudi tidak mengingatkan Aa?” aku bertanya pada asisten kakakku dengan nada suara yang sedikit tinggi.
“Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana keras kepalanya kakak kamu, Len. Beribu kali saya ingatkan, mana mau dia ikuti kalau dia tidak mau,” ungkap Pak Rudi.
“Huh, iya juga sih.” Aku bisa memahami kegalauan kakakku yang masih belum berhasil menemukan Aras dan Aris.
“Jadi ini bagaimana? Mau biarkan Bos di sini sampai sadar sendiri atau bagaimana?”
“Astaghfirullah, Lena sampai lupa.” Aku memanggil Atep sambil berteriak.
“Ada apa, Len?”
“Kenapa itu A Endra tiduran di teras begitu?”
“Bukan tiduran tapi pingsan. Cepat bantuin Pak Rudi.”
“Siap, Bos.”
Pak Rudi dan Atep bekerja sama menggotong tubuh A Endra yang masih belum sadarkan diri. Pak Rudi menggotong tubuh bagian atas sedangkan Atep menggotong bagian bawah tubuh A Endra.
“Sekarang kamu juga jadi Bos, Len?” tanya Pak Rudi sambil berbisik.
__ADS_1
“Apaan sih?” Aku memukul lengan Pak Rudi yang sedang membawa beban tubuh kakakku.
“Jangan pukul seenaknya, Len. Kalau saya kaget, kepala kakak kamu bisa-bisa kejedot lantai.”
“Ish!” Aku mencebik kesal.
Teh Iyah masuk ke kamar ketika kami baru saja membaringkan A Endra di atas kasur.
“Aa kenapa, Len?”
“Pingsan,” jawabku.
“Pingsan kenapa?”
“Kecapekkan mungkin.”
Kulihat Teh Iyah menghambur menghampiri suaminya. Air mata sudah mulai mengaliri pipinya lagi.
“Bangun, A… Aa kenapa seperti ini? Jangan meninggalkan Iyah. Bangun A.” Teh Iyah mengguncang-guncangkan tubuh kakakku yang tidak merespon apapun.
“Tenang saja Bu Bos. Jangan khawatir, Bos hanya pingsan. Sebentar lagi juga siuman.” ucap Pak Rudi dengan santai dan tenang.
“Tenang bagaimana? Kenapa Pak Rudi tidak menjaga suami saya? Kerjanya Pak Rudi apa?” bentak Teh Iyah mengagetkan kami semua.
“Eh, itu, maksudnya Bu Bos jangan sedih. Bos tidak akan meninggalkan Bu Bos. Dia hanya pingsan karena kelelahan.”
“Kamu juga Lena. Kenapa diam di sini? Cepat pergi ke dapur dan ambilkan minum untuk Aa. Sekalian bawa juga baskom berisi air hangat!” Suara Teh Iyah terdengar tegas saat memberikan perintah. Sepertinya Teh Iyah sudah kembali.
__ADS_1
*********
to be continued...