Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
30. Rasa yang Hadir


__ADS_3

Atep POV


Aku menarik tangan Bu Alena menuju tempat yang tidak terlalu ramai.


“Apa-apaan sih? lepas! Kalau kamu tidak melepaskan tangan kamu dari tangan saya, saya akan teriak!” ancam Bu Alena.


“Silahkan saja teriak. Kalau kamu teriak, orang-orang malah akan curiga dengan apa yang kita perbuat di sini.” jawabku seenaknya.


“Jangan kurang ajar!”


“Siapa yang kurang ajar? Saya hanya ingin kita berdua mengobrol tanpa ada tatapan curiga dari orang-orang.”


“Dengan kamu bertindak seperti ini, orang-orang akan curiga,” bentaknya dengan suara tertahan.


“Tidak akan, kalau kamu nurut dan tidak memberontak.” Aku tetap menarik tangannya.


Setelah kami berada dalam sebuah ruangan, aku segera melepaskan tangan Bu Alena.


“Mau kamu apa sih?” tanyanya kesal.


“Sebuah alasan,” jawabku tegas.


“Alasan buat apa? kamu jangan mengada-ngada.”


“Alasan kenapa kamu tidak mau datang.”


“Apakah saya wajib memberikan alasan?”


“Ya!” jawabku tegas.


“Saya tidak harus memberikan alasan kenapa saya tidak mau memenuhi undangan kamu. Selama ini kita tidak pernah dekat. Hubungan kita sebatas dosen dan mahasiswa. Tidak ada hubungan khusus diantara kita. Saya berhak untuk menolak undangan kamu.”


Hening


Aku mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Bu Alena.


“Kenapa kamu memaksa? Coba kamu pikirkan. Apa kamu mau menghadiri undangan seseorang dengan terpaksa? Kalau saya, saya tidak mau melakukan sesuatu dengan terpaksa.”


Kalimatnya menghempaskan impianku yang sudah terlanjur terbang di awang-awang.


“Saya hanya ingin berterima kasih sama kamu. Saya ingin memperkenalkan kamu pada kakak dan ibu saya,” jawabku lemah.


“Sudah saya bilang kalau kita tidak memiliki hubungan apapun.”


“Ada. Ada hubungannya,” lirihku.

__ADS_1


“Maksud kamu apa?” bentaknya.


“Hubungan dosen dan mahasiswa. Bukankah itu juga sebuah hubungan.” Aku tetap keukeuh dengan keinginan untuk mengundang Bu Alena. Aku juga tidak paham kenapa aku sangat menginginkan Bu Alena untuk bisa hadir dalam acara syukuran yang diadakan Teh Iyah.


“Baiklah, saya akan memberikan alasan. Semoga alasan yang saya berikan bisa membuat kamu paham dan tidak terus-terusan memaksa.”


“Jangan coba-coba untuk mengarang alasan!” Aku menatap tajam ke arah mata Bu Alena.


“Kenapa kamu mengancam saya?”


“Saya tidak mengancam kamu.”


“Kamu mengancam saya dengan tatapan tajam kamu.”


“Apa kamu merasa terintimidasi dengan tatapan saya?”


“Tidak. Kenapa saya harus merasa terintimidasi?”


“Kalau begitu kenapa kamu bilang kalau saya mengancam kamu dengan tatapan saya?”


“Arrrgh… Stop!. Bicara sama kamu tidak akan ada habisnya. Kamu ngenyel.” Bu Alena sudah berbalik untuk meninggalkanku.


“Kamu yang terlalu rumit. Kalau saja kamu mengiyakan undanganku, maka perdebatan ini tidak perlu terjadi.”


“Saya tidak suka sama sifat kamu yang seperti ini," ujar Bu Alena membuat egoku sedikit tersentil.


“Kamu tidak perlu menyukai sifat saya. Tidak ada yang meminta kamu untuk menyukai sifat saya," balasku


“Susah memang kalau bicara sama orang menyebalkan seperti kamu.”


“Kamu membenci saya?” tanyaku.


“Kalau saya bilang iya, kamu mau apa?” tantang Bu Alena.


“Jangan terlalu benci. Nanti rasa benci itu akan berubah menjadi cinta.” Aku melihat reaksi terkejut Bu Alena setelah aku mengatakan tentang benci menjadi cinta.


“Kenapa saya harus cinta sama kamu. Beri saya alasan kenapa saya harus mencintai kamu. Kamu bukan tipe pria idaman saya.” kalimatnya ini menohokku dan membuat rasa percaya diriku menukik tajam.


“Jarang sekali kita mendapatkan jodoh seperti yang kita inginkan,” ucapku lirih.


Aku menginginkan Teh Iyah menjadi jodohku tapi hal itu tidak terjadi. Kisah cinta Teh Iyah dan suaminya bisa dibilang indah dan mungkin termasuk pada cinta sejati. Kagendra, suaminya Teh Iyah bukanlah tipe pria dengan sifat yang baik.


Menurutku, Kagendra bukanlah pria yang tepat untuk Teh Iyah. Dia tidak pantas mendapatkan istri sebaik dan selembut Teh Iyah. Tapi sekarang anggapanku itu ternyata salah. Kagendra adalah suami terbaik yang Tuhan kirimkan untuk Teh Iyah. Walaupun di sudut hatiku yang terdalam, aku masih belum bisa menerima jika mereka akhirnya bersatu lagi.


Seorang Kagendra dengan segala sifatnya yang buruk bisa berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan Teh Iyah. Pria yang memiliki sifat sangat buruk seperti Kagendra itu akhirnya bertekuk lutut pada seorang perempuan dan menjadi seorang family man. Dia sangat menyayangi Teh Iyah dan anak-anak mereka.

__ADS_1


“Apa maksud kamu?” Aku mendengar Bu Alena bicara dengan nada yang semakin sengit.


“Tidak ada maksud apapun. Saya hanya bicara kebenaran bahwa manusia tidak selalu bisa mendapatkan jodoh yang dia inginkan. Begitupun dengan kamu dan saya. Kamu tidak bisa memilih dengan siapa kamu berjodoh. Sekarang kamu benci saya, siapa yang tahu kalau nanti kamu akan mencintai saya.”


“Jangan mengkhayal!”


“Saya tidak mengkhayal. Saya hanya mengingatkan kamu untuk menjaga bibir, otak dan hati kamu. Bisa jadi semuanya tidak sinkron. Bibir kamu bicara tidak tapi tidak sesuai dengan otak dan hati kamu. Otak kamu bilang untuk membenci saya tapi hati kamu mungkin saja tidak begitu, iya  kan?"


Aku tidak paham kenapa aku bisa bicara dengan kepercayaan diri seperti ini. Aku tidak tahu mahkluk apa yang merasukiku. Bu Alena mampu membuat rasa percaya diriku turun tajam tapi disaat bersamaan mampu membuat kepercayaan diriku jadi meningkat.


“Cih, jangan terlalu percaya diri. Bisa jadi apa yang kamu pikirkan itu salah besar. Bibir, otak dan hati saya baik-baik saja dan mereka bekerja dengan sebagaimana mestinya.”


“Kamu yakin?” tanyaku dengan senyum.


“Sangat yakin!” jawab Bu Alena dengan tatapan tajam dan menusuk.


Aku mendekatkan wajahku untuk menggodanya. Kedua tanganku mengurungnya hingga punggung dia terbentur tembok di belakangnya.


“Bagaimana kalau sekarang saya men….”


Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dia mendorong dan memukul dadaku.


“Minggir! jangan dekat-dekat.”


Bu Alena mencoba untuk menjauh dari kungkunganku tapi dengan cepat aku meraih tangannya.


“Mau kemana?”


“Bukan urusan kamu.” Dia menghentakkan tangan hingga terlepas dari cengkraman tanganku.


Bu Alena berlari meninggalkanku yang tersenyum lebar. Sangat menyenangkan melihat dia marah dan jengkel.


Perasaan dalam hati memang tidak bisa diprediksi. Sepertinya aku jatuh cinta pada Bu Alena. Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini mulai bersemayam di dalam hatiku. Tapi aku yakin kalau aku mulai jatuh cinta pada dosen pembingbingku yang galak. Jantungku terus berdebar dan bertalu-talu setiap aku bertemu dan menatap wajahnya.


Sosok Teh Iyah yang sudah lama bertempat tinggal di dalam hatiku perlahan mulai memudar dan meninggalkan tempatnya. Sejujurnya, sosok Teh Iyah tidak akan pernah meninggalkan hatiku. Hanya saja mulai sekarang perannya berubah tidak lagi menjadi seorang perempuan yang aku cintai tapi kembali lagi menjadi kakak perempuan yang aku sayangi.


Drrrt...


Kurasakan ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk.


"Assalamu'alaikum, Teh."


*******


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2