Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
80. Menunda


__ADS_3

Atep POV


Satu minggu telah berlalu, namun kami belum mendapatkan kabar baik mengenai Aras dan Aris. Kondisi Teh Iyah pun semakin memburuk. Teh Iyah depresi dan menolak untuk menyusui bayi kembar yang baru saja dilahirkannya.


Aku dan Alena memutuskan untuk mengundur pernikahan kami sampai batas waktu yang tidak bisa kami tentukan. Semuanya fokus pada Aras dan Aris.


Hari ini aku mengunjungi Teh Iyah di rumahnya. Ada Alena yang menemani.


“Bagaimana keadaan Teh Iyah, Len?”


“Masih belum membaik, Tep. Teteh masih menolak bayi-bayinya dan sering meracau. Coba kamu temui dan bujuk Teh Iyah.”


Aku masuk ke dalam kamar dan melihat Teh Iyah sedang berbaring dengan tatapan kosong.


“Teh…” panggilku pelan.


Tidak ada reaksi.


Aku duduk di sisi kanan tempat tidur.


“Teh…Teh Iyah…” kucoba memanggil lagi.


Kulihat air mata mengalir di pipinya. Teh Iyah menoleh menatapku.


“Atep?”


“Iya, Teh. Ini Atep.”


“Tep…” tiba-tiba Teh Iyah meraung.


“Teteh.” Aku mendekati dan memeluk Teh Iyah. “Jangan takut, Teh. Ada Atep.”


“Teteh takut, Tep. Apa yang Teteh takutkan terjadi juga. Aras dan Aris…Aras dan Aris…Teteh kangen sama mereka. Teteh takut kalau tidak bisa bertemu lagi dengan mereka.”


“Teteh jangan takut. Kita berdoa semoga Aras dan Aris segera ditemukan. A Endra juga tidak tinggal diam. Setiap hari Aa mencari Aras dan Aris.”


“Andai saja Teteh tidak bertemu lagi dengan dia. Andai saja Teteh tidak berbaikan dengan dia, Aras dan Aris tidak akan diculik. Kami akan hidup tenang bertiga tanpa dia. Teteh menyesal kembali lagi pada dia.” Teh Iyah berkata terbata-bata karena menangis.


“Teteh tidak boleh bicara seperti itu. Atep melihat kebahagian ketika Teteh bersama dengan A Endra.”


“Aku benci sama dia. Dia yang membuat semuanya menjadi kacau. Dari awal pertemuan Teteh dengan dia, tidak ada hal baik yang terjadi. Dia selalu membuat Teteh sakit. Dulu dia menyakiti Teteh saat selingkuh sama perempuan itu. Sekarang perempuan itu juga yang menculik Aras dan Aris. Karena perempuan itu mencintai dia, Aras dan Aris jadi korban. Perempuan gila itu tidak akan berhenti mengganggu. Dia gila dan berhasil membuat Teteh gila juga. Tolongin Teteh, Tep!”


“Teh, Aa juga menderita seperti Teteh. Sekarang Aa sedang berusaha mencari Aras dan Aris.” Alena menghampiri dan memeluk Teh Iyah.


“Lepas!” teriak Teh Iyah mengagetkanku dan juga Alena. “Kakak kamu penyebab semuanya. Aku benci dia. Aku menyesal bertemu dia. Andaikan dia tidak pernah hadir dalam hidupku, aku akan baik-baik saja.” Teh Iyah meronta melepaskan diri dari pelukan Alena.


Aku memberi isyarat pada Alena untuk melepaskan pelukannya dan pergi keluar.

__ADS_1


Alena meninggalkan kami berdua di kamar. Teh Iyah kembali menangis. Aku memeluknya mencoba untuk meredakan tangisannya.


Setelah beberapa saat, Teh Iyah kembali tenang.


“Teteh istirahat dulu. Atep tunggu di luar. Kalau Teteh membutuhkan Atep, panggil saja.”


Teh Iyah menganggukkan kepala.


Aku membetulkan letak selimut dan meninggalkan Teh Iyah yang sudah tampak tenang dan sepertinya tertidur karena kelelahan menangis.


“Bagaimana, Tep?” tanya Alena setelah aku menutup pintu kamar.


“Untuk sementara, kamu jangan menemui dulu Teh Iyah. Aku khawatir kehadiran kamu akan memicu kemarahan Teh Iyah.”


Alena mulai menangis. “Kenapa jadi begini? Aku gak mengerti kenapa Teh Iyah sampai menyalahkan Aa. Apa dia tidak menyadari bahwa Aa juga sedih seperti halnya dia?”


“Teh Iyah sedang depresi, Len. Kita harus memaklumi keadaanya sekarang. Dia baru saja melahirkan lalu mengetahui kabar Aras dan Aris diculik.”


“Kasihan mereka. Ayahnya belum kasih nama, Ibunya tidak mau menyusui mereka. Mereka juga belum aqiqah. Aku sudah menyiapkan empat kambing untuk aqiqah mereka.”


“Kenapa A Endra belum memberikan nama? Apa sudah ada nama yang disebutkan? Kalau sudah ada bisa kita adakan aqiqah buat mereka.”


“A Endra pernah bilang namanya Upin dan Ipin. Masa nama mereka Upin dan Ipin?” cebik Alena. Raut wajahnya yang lucu membuatku sedikit tertawa. Tawa yang tidak pernah hadir selama satu minggu ini.


“Coba kamu tanyakan namanya pada A Endra. Bilang sama dia kalau kita yang akan melaksanakan aqiqah buat mereka.”


“Bagaimana?”


“Tidak diangkat.”


“Coba kamu kirim pesan teks saja.”


Setelah menunggu lebih dari dua jam, akhirnya Kagendra membalas pesan Alena.


“Apa jawabannya?” tanyaku.


“Kata Aa, untuk sementara baru terpikir nama Ardana dan Arkana.”


“Memangnya mereka tidak menyiapkan nama?”


“Gak tahu.”


“Ya sudah untuk sementara namanya Ardana dan Arkana.” kataku.


“Ardana Putra Nataprawira dan Arkana Putra Nataprawira.” usul Alena.


“Mirip nama Aras dan Aris. Hanya tambah Putra dan nama keluarga.”

__ADS_1


Mendengar nama Aras dan Aris membuat raut wajah Alena kembali sedih. Air mata keluar mengaliri pipinya.


“Bagaimana keadaan Aras dan Aris sekarang? Mereka pasti ketakutan. Jahat sekali orang yang menculik mereka.”


“Kita doakan yang terbaik buat mereka. A Endra juga sedang mengerahkan timnya untuk mencari mereka.”


“Apa tidak lapor polisi saja?”


“A Endra tidak mau.”


“Harusnya lapor polisi saja yang lebih profesional.”


“Tim A Endra sama profesionalnya dengan polisi.”


“Aku juga sudah menghubungi sepupu kami. Dia seorang polisi dan berjanji mau membantu. Hanya saja sekarang juga dia lagi ada misi. Jadi belum bisa bantu banyak,” kata Alena.


Ya mudah-mudahan sepupu kamu bisa bantu.”


“Hm…”


“Jadi kapan acara aqiqah buat Ardana dan Arkana?” tanyaku.


“Malam ini juga. Pas tujuh hari kelahiran mereka.”


“Kamu sudah menyiapkan segalanya?”


“Tidak usah mewah. Yang penting rasa syukur kita sama Tuhan lalu kita bagi kebahagian kita dengan orang banyak. Walaupun sekarang kita sedang mendapatkan musibah.”


Acara aqiqah dilaksanakan sore hari setelah waktu ashar. Rambut Ardana dan Arkana sudah digunting dan nama mereka sudah tercetak di kotak nasi yang akan dibagikan pada warga di sekitar. Sepertinya Alena melaksanakan acara ini dengan baik.


Kami berdua yang menggendong Ardana dan Arkana ketika acara potong rambut. Sepertinya kami sudah cocok menjadi orangtua. Abah dan Ibu tidak sempat datang karena mereka pun sedang fokus pada Aras dan Aris.


“Kasihan keponakan Tante. Sabar yah sayang-sayangnya Tante.” Alena menatap sayang pada dua keponakan barunya.


“Tep, susu formula mereka habis. Kamu bisa beli kan?”


“Merk apa?”


Alena menujukkan kaleng bekas susu formula yang diberikan pada Ardana dan Arkana.


“Mereka baru sedikit saja merasakan ASI. Kasihan mereka, Tep.” Kulihat air mata menetes mengaliri pipi Alena.


Aku hanya bisa menatap mereka dan berharap agar badai ini segera berlalu.


*********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2