
Alena POV
“Nanti kalau berbaring, tidurnya pakai bantal yang lebih tinggi dan jangan terlalu banyak buka mata, kamu pejamkan saja mata biar tidak terasa pusing."
Dia membetulkan letak bantal agar aku nyaman berbaring.
Tunggu sebentar, saya pergi ke dapur dulu buat ambil air minum. Kamu harus banyak minum air putih. Dengan banyak minum air putih bisa mengurangi sakit kepala.”
Terdengar samar-sama suara ribut dari dapur. Mungkin dia mencari gelas atau apalah aku juga tidak tahu. Tak lama kemudian dia masuk kembali ke kamar sambil membawakan segelas air putih.
“Ini diminum dulu airnya.”
Dia membantuku duduk dan mendekatkan gelas berisi air ke bibir. Setelah kutandaskan air dalam gelas, dia menyimpan gelas kosong itu di atas meja kecil di samping ranjang.
“Oh ya, kalau kamu butuh bantuan saya dan sulit untuk manggil, telepon saja ke hape saya.”
“Ya,” ucapku lirih.
“Ini hape kamu, saya simpan hapenya di sini.”
Dia meletakkan hape milikku di meja samping tempat tidurku.
“Maaf tadi saya buka-buka tas kamu untuk mengambil kunci unit dan hape. Mudah-mudahan kamu gak marah sama saya,” katanya.
“Saya akan pulang kalau kamu sudah merasa baikan dan mungkin sudah sanggup untuk mengusir saya.”
Dia langsung keluar setelah mengatakan hal itu.
Setelah dia menutup pintu kamar, aku langsung membuka jilbab dan pakaian lalu kuganti dengan piyama yang tadi dia ambilkan. Aku merebahkan kembali tubuhku di atas kasur yang empuk dan nyaman.
Setengah jam aku tertidur ketika aku terbangun karena ingin ke kamar mandi. Aku mencoba untuk bangun tapi kepalaku masih sangat pusing dengan pandangan yang masih berputar-putar.
Aku langsung memejamkan mata lalu menarik dan mengeluarkan nafas dengan perlahan. Aku berpegangan ke meja kecil di samping ranjang. Nahas, gelas yang ada di atas meja tersenggol tanganku dan pecah dengan mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring.
Tak berapa lama kudengar pintu kamar dibuka.
“Kenapa ... Oh maaf, saya...”
Kulihat dia terkejut melihatku dan kembali menutup pintu kamar.
Astaghfirulloh, aku tidak memakai jilbab. Dia sudah melihat aku yang tak menutupi aurat. Dengan segera aku mengambil jilbab instan dan memakainya.
Setelah beberapa saat, dia kembali membuka pintu kamar dengan menutup matanya.
__ADS_1
“Maaf, Tadi saya langsung saja membuka pintu kamar karena saya mendengar sesuatu yang pecah. Saya kan jadi khawatir dan spontan masuk ke kamar. Kamu tidak apa-apa kan? Ini saya sudah bisa buka mata saya belum?”
“Ya,” jawabku lirih.
Ternyata dia gentleman juga. Dia menghormatiku dengan berusaha untuk menjaga pandangannya. Tapi lucu juga melihat dia yang menutup mata rapat-rapat padahal sebelumnya dia sudah melihatku tanpa jilbab. Ish, dia sudah melihat auratku. Bagaimana ini?
“Saya bersihkan dulu pecahan kacanya biar tidak kena kaki kamu.”
Dia keluar dari kamar dan tak berapa lama masuk kembali sambil membawa sapu dan pengki. Setelah selesai membersihkan pecahan kaca yang menyebar di lantai kamar, dia berjongkok di dekatku.
“Kamu tadi mau ngapain?” tanyanya.
“Ke kamar mandi. Tapi saya pusing karena pandangan saya masih berputar-putar, bikin saya pusing.”
“Kamu mau pipis?”
Aku memukul lengannya karena dia berkata frontal seperti itu.
“Kenapa mukul saya? Kamu malu karena pengen pipis?”
Aku kembali memukul lengannya karena dia tidak berhenti menggodaku.
“Saya gendong ya. Maaf, saya izin buat gendong kamu.
Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, aku membuka handle pintu dan membiarkan dia untuk menggendong dan mendudukkanku di samping bathtub. Kemudiandia membuka tutup toilet.
“Saya bantu kamu sampai sini karena saat ini saya belum boleh membantu lebih jauh.”
Sekarang belum boleh? Maksudnya nanti-nanti boleh gitu? Dasar menyebalkan. Aku merutuknya dalam hati. Apa sih maksud dia berbicara seperti itu. Apa dia tidak sadar kalau detak jantungku kembali tidak normal. Eh, mana bisa dia mendengar detak jantungku.
Setelah selesai buang air kecil, aku mengambil wudu karena sudah masuk waktu asar. Setelah aku menyelesaikan ritual wudu, kudengar pintu kamar mandi diketuk dari luar.
“Sudah selesai?”
Aku membuka pintu kamar mandi dan melihat dia sedang berdiri sambil memandangku tajam.
“Kenapa bajunya basah-basah seperti itu?”
“Habis wudu,” jawabku.
“Bisa jalan sendiri atau perlu digendong lagi?”
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku mencoba untuk berjalan walaupun perlahan dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
Aku merasa tubuhku melayang. Ternyata dia kembali menggendongku.
“Bahaya kalau jalan sambil tutup mata. Nanti kamu tersandung. Jangan gengsi minta tolong. Saya kan sudah bilang kalau saya akan menemani kamu sampai sehat.”
Aku diam saja tak ingin merespon perkataannya.
“Salat sambil berbaring saja. Di mana mukenanya?”
Aku menunjukkan tempat aku menyimpan mukenaku dengan telunjuk.
Dia mengambilkan mukenaku dan membantu untuk memakainya.
Setelah selesai salat, aku tidak melepaskan mukena karena sulit untuk melepaskannya dalam keadaan berbaring. Aku masih belum sanggup untuk bangun sendiri.
“Sudah salatnya?”
Aku mengangguk.
“Mau lepas mukenanya?”
“Tidak usah,” jawabku.
“Apa ada keluarga yang bisa saya hubungi untuk menemani kamu? Saya merasa gak enak kalau saya harus menginap di sini. Biar saya bantu untuk menghubungi keluarga kamu.”
“Orangtua saya di luar kota. Mereka sedang liburan bersama dengan cucu mereka. Saya tidak mau membuat mereka khawatir. Saya ada kakak yang tinggal di Bandung tapi mereka kakak dan istrinya sedang liburan ke luar negeri. Tidak mungkin saya menghubungi kakak saya. Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Saya bisa sendiri.”
“Cih…”
Aku mendengar dia mendengus.
“Kalau kamu mau pulang, cepat pulang saja. Tidak usah mendengus seperti itu. Saya ucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah menolong saya. Silahkan kamu bisa pulang.”
Aku kembali memejamkan mata karena masih tidak kuat melihat ruangan yang terlihat berputar-putar juga tidak ingin melihat wajahnya yang menyebalkan.
Tak terasa air mata merembes dari sela-sela mataku yang terpejam. Aku tidak mengerti kenapa aku menangis. Apakah aku terlalu kesal sampai menangis, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas air mataku keluar setelah mendengar dengusannya. Dia terdengar tidak ikhlas menolong dan menemaniku. Hal itu membuatku kecewa hingga mengeluarkan air mata. Kenapa juga aku merasa sekecewa ini hanya karena mendengar dengusannya.
“Saya akan merasa jadi orang jahat kalau saya meninggalkan kamu sendirian ketika kamu masih sakit seperti ini.”
Aku sudah mencoba menahan isak tangisku tapi sepertinya tetap saja suara isakanku keluar.
“Eh, kamu menangis? Kenapa nangis? Kepalanya sakit lagi? Perutnya mual? Mau muntah atau kenapa?”
*******
__ADS_1
to be continued....