
Atep POV
“Halo, Tep. Sekarang kamu dimana? Acara syukurannya sudah mau dimulai. Gimana sih kamu ini?”
Kudengar cerocosan Teh Iyah dari ponselku.
“Iya, Teh. Sebentar lagi meluncur ke sana. Tadi ada masalah sedikit di cafe.” Aku memberikan alasan selogis mungkin.
“Jangan banyak alasan. Cepat kamu ke sini! Kalau terlambat, Teteh marah banget,” ancam Teh Iyah.
“Iya…iya... Tetehku yang paling cantik.”
Masih kudengar samar-samar gerutuan Teh Iyah. Entah kepada siapa gerutuan itu ditujukan. Mudah-mudahan sih bukan kepadaku.
Kulajukan motorku dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat. Aku tidak mau Teh Iyah mengamuk karena aku terlambat datang ke acara yang sudah disiapkannya dengan sepenuh hati.
Tapi rencana manusia tinggal rencana. Manusia tidak bisa mengelak dari takdir kemacetan di hari Sabtu. Lokasi tempat cafeku berada memang berada di lokasi yang populer untuk kunjungan para wisatawan lokal maupun internasional. Jadi bukan suatu yang aneh kalau kemacetan kerap menghadang pada saat akhir pekan.
Walaupun aku menggunakan motor, tetap saja tidak dapat melaju dengan cepat. Banyak rintangan kemacetan dimana-mana.
Ketika berhenti menunggu lampu merah, kurasakan ponselku bergetar. Pasti telepon dari Teh Iyah lagi.
“Atep Dananjaya! Sekarang posisi kamu sudah sampai mana?” tanya Teh Iyah dengan nada tinggi.
“Kena macet di Dago, Teh,” jawabku.
“Kan semua orang Bandung juga tau kalau weekends itu macet dimana-mana. Kenapa kamu tidak mempersiapkan lebih awal?”
“Kan masalahnya juga muncul mendadak, Teteh…”
“Pokoknya Teteh gak mau tau. Acaranya sudah dimulai. Teteh marah sama kamu.”
“Jadi bagaimana?” tanyaku.
“Bagaimana apanya?” bentak Teh Iyah.
“Gak usah datang ke rumah Teteh atau tetap harus?”
“Atep Dananjaya. Kuping kamu mau Teteh jewer sampai lepas, hah?”
“Bentar Teh, sudah mau lampu hijau. Atep menepi dulu.”
“Gak usah menepi-menepi segala. Pokoknya cepat kamu datang ke sini. Dalam waktu 10 menit kamu harus sudah sampai disini. Titik!”
Tanpa mendengar jawabanku, Teh Iyah memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Setelah memasukkan ponsel kembali ke dalam saku jaketku, aku menggeber motor kesayanganku agar segera mengantar sampai ke rumah Teh Iyah dalam waktu yang sudah ditentukan, 10 menit.
Untung saja dulu aku seorang pembalap. Sekarang waktunya menjajal skill yang sudah lama tidak aku gunakan. Aku berharap tidak ditilang oleh polisi.
15 menit kemudian aku sudah sampai depan rumah Teh Iyah. Kulihat suasana yang sangat ramai. Banyak mobil yang terparkir di halaman samping rumah Teh Iyah yang luas dan juga di pinggir jalan.
Ada lima sampai enam mobil yang terparkir di halaman dan mungkin ada lebih dari lima mobil yang diparkir di sisi jalan. Untung saja jalan umum di komplek rumah Teh Iyah luas sehingga tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.
Kuparkirkan motor retroku di halaman samping di pinggir mobil yang cukup familiar karena warnanya yang unik.
Mirip mobilnya Alena. Sepertinya tipe dan warna mobil Alena sudah sangat kukenal.
Kulihat dua orang yang wajahnya belum pernah kulihat duduk di kursi teras depan.
“Assalamualaikum,” ucapku memberi salam pada mereka.
“Waalaikumsalam,” jawab mereka kompak.
“Mau bertamu pada siapa?” tanya salah satu dari mereka.
“Saya Atep, adiknya Teh Iyah,” jawabku.
“Oh Atep calonnya Lena ya?” tanya pria yang satunya lagi.
“Hah?” Aku terheran-heran mendengar pertanyaan pria itu.
“Iya. Terima kasih.”
Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun segera bergegas masuk ke dalam rumah.
Baru saja sampai di depan pintu, Aras dan Aris berlarian dan menghambur dalam pelukanku.
“Mang Atep kemana saja? Kenapa baru datang? Dari tadi Ibu marah-marah nungguin Mang Atep,” cerocos Aris.
“Mang Atep kena macet,” jawabku singkat.
“Ayo cepat masuk!” Aras menarik tanganku.
“Ibu… Mang Atep sudah datang,” teriak Aris memanggil Ibunya.
Kulihat Teh Iyah dengan wajah marahnya berjalan menuju tempat aku berdiri.
“Atep Dananjaya. Darimana saja kamu? Baru datang jam segini,” omel Teh Iyah.
“Maaf, Teh. Macet banget.”
__ADS_1
“Alasan.”
“Serius, Teh. Macet banget,” kataku membela diri.
“Sudah tahu kalau weekends itu macet. Tidak usah memakai kata macet sebagai alasan. Basi! Sudah sana makan dulu!” perintah Teh Iyah.
Aku menganggu dan berjalan menuju tempat makanan dihidangkan dengan Aras dan Aris yang masih menempel.
“Mang Atep tau gak?” tanya Aris.
“Tau apa?”
“Aras dan Aris sebentar lagi mau punya adik?”
“Hah?” aku terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Aris.
“Beneran Aras dan Aris mau punya adik?” tanyaku pada Aras.
“Kan tadi udah dikasih tau sama Aris. Kenapa masih tanya sama Aras?” protes Aras.
“Yah untuk memastikan saja. Takutnya Mamang salah dengar.”
“Ih, kok Mang Atep gak percaya sama Aris sih?” protes Aris.
“Percaya kok. Eh, tapi bener Ibunya Aras dan Aris mau punya dedek bayi lagi?” tanyaku masih belum percaya.
“Beneer… adiknya Aras dan Aris, katanya kembar juga seperti Aras dan Aris.”
“Haaah?” aku semakin terkejut dengan kabar bahagia yang kudengar ini.
Aku bahagia mendengar kabar Teh Iyah yang sedang hamil anak kedua, eh ketiga dan keempat. Aku sangat yakin jika Teh Iyah sangat bahagia dengan kehamilannya yang kedua ini. Sekarang ada suami yang mendampingi di saat-saat tersulit saat hamil.
“Kalau Mang Atep sudah makan, nanti Aris kenalin Mamang sama Tante Lena.”
Hampir saja aku lupa kalau Teh Iyah memang berencana memperkenalkan aku dengan adiknya Kagendra di acara syukuran ini.
Karena lapar, aku mengambil porsi yang agak banyak dari biasanya dan kuhabiskan hidangan yang ada dalam piringku dengan waktu yang cukup singkat.
Setelah menyimpan piring kosong ke tempat cuci, Aras dan Aris menarik tanganku dan menggiring aku ke halaman belakang.
“Tanteee…” teriak Aris memanggil tantenya.
Deg
************
__ADS_1
to be continued....