
Alena POV
Dia melanjutkan, “Kalau kita berjodoh dan menikah, kamu mau terima aku apa adanya?”
Aku menghela nafas demi menenangkan debaran dalam dada.
“Len….Len…”
Aku masih menenangkan diri supaya suaraku tidak bergetar ketika menjawab pertanyaannya.
“Len…kamu masih disitu kan?”
“Ehem, hm… Seperti yang kamu bilang tadi, ini seandainya kan. Aku akan menerima siapapun nanti yang akan menjadi imamku dengan syarat utama agamanya.”
“Jadi kamu akan menerimaku yang baru lulus kuliah dan belum punya pekerjaan yang stabil?”
“Hmmm…kan sudah aku bilang aku mencari pasangan dengan agamanya yang baik, yang bisa membawaku ke surga. Sudah jelas kan?”
“Berarti kamu menerimaku?”
“Tau ah…”
Aku langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Kulihat namanya kembali memanggil di layar ponselku.
Tak kuhiraukan panggilannya, aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah aku selesai mandi, kulihat puluhan kali panggilan tak terjawab di ponselku.
“Len………” kudengar Teh Iyah berteriak memanggilku dari bawah.
Gegas aku turun menjawab panggilan Teh Iyah.
“Ada apa, Teh?”
“Nih, Atep nelfon Teteh. Katanya mau bicara sama kamu, tapi kamu tidak menjawab panggilannya.”
“Tadi Lena mandi.” jawabku.
“Nih, terima telepon dari calon suami kamu.” goda Teh Iyah.
“Calon suami apaan sih.” gerutuku kesal. Bukan kesal pada godaan Teh Iyah tapi kesal padanya yang selalu membuatku jengkel.
“Hallo…apa?”
“Jangan galak-galak dong.”
“Cepetan mau ngomong apa?”
“Kenapa tadi ditutup teleponnya?”
“Kebelet pipis.” jawabku asal.
“Jadi jawabannya apa?” tanyanya keukeuh.
“Jawaban apa?”
“Yang tadi aku tanyakan.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Apa harus aku ulang pertanyaannya?”
“Gak.”
“Jadi apa jawabannya?”
__ADS_1
“Kamu ngeselin.”
“Tapi ngangenin kan?”
“Cih…ngayal.”
“Hehehe….”
“Gak usah ketawa…”
“I love you.”
Deg….
Jantungku berdetak tak karuan…sepertinya wajahku memerah seperti kepiting rebus jika merasakan hawa panas yang tiba-tiba kurasakan di sekitar wajahku.
“Len…Lena…are you still there?”
“Kalau kamu ngomong yang gak-gak lagi, aku tutup teleponnya.” ancamku.
“Aku gak ngomong yang enggak-enggak. Aku hanya mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku.”
“Kenapa kamu jadi tukang gombal kaya gini sih? Gak cocok tau gak.”
“Jadi cocoknya bagaimana?”
“Udah ah… kalau gak ada yang penting lagi, aku tutup teleponnya. Jangan nyusahin Teh Iyah lagi. Kalau aku gak jawab telepon kamu berarti aku memang lagi gak bisa jawab.”
“Makanya angkat telepon dari aku dan jangan suka tutup seenaknya.”
“Ya udah, aku tutup teleponnya sekarang. Assalamu’alaikum…”
“See you tomorrow. Wa’alaikumsalam.”
Pyuh…akhirnya selesai juga percakapan yang membuatku lelah jiwa dan raga ini.
***********
Atep POV
Sudah hampir seminggu aku tidak mengirimkan pesan padanya. Sebenarnya aku sudah rindu mendengar suaranya juga rindu untuk menggodanya. Yah, sepertinya menggoda dia sudah menjadi candu untukku.
Dalam lima hari ini aku sibuk dengan berbagai event yang diadakan di cafeku. Aku juga sibuk mempersiapkan acara kejutan untuk ulang tahun Alena. Rencananya, aku akan melamar dia di acara ulang tahunnya. Untuk memuluskan rencanaku, aku bekerjasama dengan Teh Iyah.
Teh Iyah memberitahuku agar aku menemui kedua orangtua Alena untuk meminta izin mereka terlebih dahulu sebelum aku melamarnya secara langsung.
Tadi pagi aku menemui Abah dan Ibunya Alena di rumah mereka. Mereka menerima maksudku dengan baik tapi mereka menyerahkan keputusan diterima atau tidaknya aku sebagai suami anak perempuan mereka pada Alena sepenuhnya.
Aku belum memberitahu ibuku perihal rencanaku ini karena masih ada kekhawatiran dalam diriku kalau Alena akan menolakku. Aku tidak ingin ibuku merasa sedih jika melihat lamaran anak laki-lakinya ditolak.
Setelah mendapatkan restu dan dukungan dari orangtua Alena, aku juga akan meminta restu dan dukungan dari kakak laki-lakinya. Aku mengirimkan pesan pada kakaknya Alena untuk meminta waktu untuk bertemu.
Assalamu’alaikum, A. Sekarang saya ada di Jakarta. Boleh bertemu?
Kukirimkan pesan pada Kagendra.
Agak lama aku menunggu balasan darinya.
Setelah hampir satu jam aku menunggu tak tentu, aku mendapatkan jawaban dari Kagendra.
Kamu datang saja ke kantor jam makan siang. Saya sedang sibuk, tidak bisa menemui kamu di luar kantor.
Baik, A.
Tidak usah bawa makan siang. Saya pesankan.
Baik, A.
__ADS_1
Lalu dia mengirimkan alamat kantornya.
Jam 12 aku sampai di gedung tempat Kagendra bekerja. Aku menuju lobi dan memberitahu maksud kedatanganku pada resepsionis yang sedang berjaga.
“Nama saya Atep. Saya sudah ada janji dengan Pak Kagendra.”
“Silahkan Pak Atep langsung naik saja ke lantai 10. Sudah ditunggu oleh beliau.” jawab resepsionis berparas cantik itu.
Sampai di lantai 10, aku bingung harus menuju ruangan mana.
“Assalamu’alaikum, A. Saya sudah di lantai 10.” aku menghubungi Kagendra.
“Tunggu saja. Nanti Rudi ke situ.” balasnya.
Tak berapa lama kemudian, muncullah sekretaris sekaligus asisten pribadinya Kagendra yang sudah sering kulihat wajahnya karena sering mendampingi bosnya dimanapun bosnya itu berada.
“Ikut saya, Bos sudah menunggu di ruangannya.” perintah Rudi.
Aku mengikuti Rudi menuju ruangan Kagendra.
“Assalamu’alaikum, A” sapaku.
“Wa’alaikumsalam. Duduk, Tep.” Kagendra mempersilahkan aku duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Aku duduk di sofa dengan meja yang sudah penuh dengan berbagai macam makanan.
“Kita makan siang dulu.” titah Kagendra.
Kami bertiga makan dalam hening. Setelah kami selesai makan siang, Rudi menyuruh OB untuk membersihkan meja bekas kami makan.
“Kamu jauh-jauh datang ke sini ada perlu apa?” tanya Kagendra to the point.
“Mau minta izin dan restu.” jawabku.
“Izin dan restu apa?”
“Izin dan restu untuk menikahi Alena.”
“Kalau masalah itu minta izinnya sama Abah dan Ibu.”
“Sudah tadi pagi.” jawabku percaya diri.
“Gerak cepat juga.” Kagendra terkekeh mendengar penuturanku.
“Sekarang saya mau minta izin dan restu pada kakak laki-lakinya.”
“Jadi ceritanya kamu mau minta dukungan?” tanyanya menyelidik.
“Ya begitulah.” jawabku santai.
“Kalau saya sih pasti mendukung siapapun yang Lena pilih sebagai calon suaminya kelak.”
“Jadi Aa memberi izin dan restu buat saya?” tanyaku.
“Kalau Lena menerima kamu, akan saya izinkan dan restui.”
“Terima kasih A. Izin dan Restu Aa sangat berarti untuk membuat saya lebih percaya diri mengejar cinta Lena.”
“Hahahaha….” Kagendra terbahak mendengar pernyataanku.
Aku pun ikut tertawa.
“Selamat mengejar cinta,” ucapnya.
*************
to be continued...
__ADS_1