Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
71. Kejutan


__ADS_3

Alena POV


“Maafin Aa,” ucapku lirih.


“Iiih kamu gak usah minta maaf atas kesalahan dari Aa kamu. Lagian Teteh dan A Endra sudah saling memaafkan. Sekarang kamu fokus saja sama urusan kamu dan Atep. Sebelum menikah kalian sudah saling mencintai jadi seharusnya tidak ada masalah, tapi yang namanya pernikahan itu tidak akan berjalan mulus selamanya.Teteh yakin kamu dan Atep sudah dewasa dan pasti bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang kalian hadapi dengan kepala dingin. Jangan seperti pernikahan Teteh dan A Endra.”


Aku mengangguk.


“Tapi kalian sekarang bahagia, kan?”


“Iya, sangat bahagia. Badai yang pernah menghantam kami di awal pernikahan itu sangat berat. Baik Teteh maupun A Endra sama-sama terluka dan tidak mudah untuk berdamai dengan luka masing-masing.”


“Lena mengerti, Teh. Lena tidak tahu seberat apa Teteh harus menanggung luka sendirian apalagi saat itu Teteh sedang mengandung Aras dan Aris. Mungkin Teteh tidak tahu bagaimana menderitanya Aa saat itu. Lena jadi saksi bagaimana Aa menghadapi semuanya. Iiih kalau diingat-ingat lagi, Lena merasa takjub Aa bisa berdamai dengan lukanya. Dari kecil Aa sudah menderita dengan segala trauma yang dialaminya ditambah oleh sakit karena ditinggal Teh Iyah, lengkap sudah penderitaan Aa.”


“Tapi A Endra laki-laki yang kuat. Buktinya sekarang dia baik-baik saja, kan?”


“Iya sih,” jawabku sambil terkikik. “Sangat kuat malah sampai bikin Teteh hamil lagi, kembar pula.”


“Aduh,” pekikku saat Teh Iyah melemparkan bantal kursi dan mengenai kepalaku.


“Yuk, pergi. Kalau kelamaan ngobrol di sini nanti terlalu siang sampai ke cafenya.”


Kami menggunakan mobil milik Teh Iyah dengan aku sebagai supir dan Teh Iyah duduk di samping.


“Aras dan Aris tidak akan marah tidak kita ajak?”


“Gak lah. Mereka kan lagi sekolah.”


“Marah tidak kalau pas pulang sekolah, tidak ada siapa-siapa di rumah?”


“Gak akan. Mereka sudah terbiasa.”


“Teteh sudah pernah ke cafe tempat Atep kerja?”


“Pernah beberapa kali.”


“Lena ingin punya bisnis bareng sama Atep. Mungkin buka cafe, jadi Atep gak usah kerja sama orang lain.”

__ADS_1


“Hm, nanti kamu bicarakan saja sama Atep.”


“Menurut Teteh, dia bakalan tersinggung tidak kalau Lena bilang mau kasih modal buat usaha?”


“Kamu omongin saja sama Atep.”


“Teteh kok tidak antusias sih.”


“He-he-he…masa sih?”


“Itu perut sudah besar begitu. Kapan HPL-nya?” tanyaku.


“Kata dokter sih dua bulanan lagi. Tapi gak tau deh, ini perut udah berat begini. Pas hamil Aras dan Aris perut Teteh gak sebesar ini.”


“Mungkin dulu Teteh gak banyak makan. Kalau sekarang, Teteh cuma bilang pengen makan aja langsung Aa sigap bikin atau beli.”


“Ha-ha-ha, iya juga sih. Minggu kemarin Teteh bilang kepengen mpek-mpek asli dari Palembang, si Aa langsung terbang ke Palembang cuma beli mpek-mpek.”


“Bahagia kan punya suami seperti Aa?”


“Alhamdulillah. Asal jangan balik aja sifatnya kaya yang dulu.”


“Jangan nyebut nama nenek lampir itu, Len.”


“Iya maaf, Teh. Kalau sampai nenek lampir itu merusak keluarga Aa, Lena gak akan segan buat hancurin dia,” kataku geram.


“Sudah, sudah…jangan diingat-ingat lagi masa lalu yang tidak mengenakkan itu. Kita berdo’a saja supaya dijauhkan dari segala gangguan. Kalaupun ada masalah, semoga kita bisa kuat menghadapinya.”


Aku memarkirkan mobil di tempat parkir yang cukup penuh hingga sedikit kesulitan untuk mendapatkan tempat. Maklum saja, jam makan siang, banyak orang yang datang ke cafe untuk mengisi perut kosong apalagi menu di cafe ini unik dan enak walaupun lokasinya jauh dari pusat kota.


Setelah berhasil memarkirkan mobil, aku dan Teh Iyah langsung masuk ke cafe.


“Selamat siang, Bu Sadiyah,” sapa staf cafe dengan sopan, membuatku sedikit heran kenapa mereka menyapa Teh Iyah seakan-akan mereka mengenalnya. Apakah Teh Iyah sering datang ke cafe sampai-sampai para staf dan waiter di cafe menyapanya dengan sopan?


“Atep ada?”


“Kang Atep ada di ruangannya, tapi sedang ada tamu,” jawab staf yang bernama Firman yang kubaca dari nametag-nya.

__ADS_1


“Siapa tamunya?”


“Bu Evangeline.”


“Siapa dia?” tanya Teh Iyah sedikit ketus.


“Pemasok biji kopi yang baru.”


“Kita mau langsung ke ruangannya saja,” kata Teh Iyah.


Jujur saja aku sedikit bingung menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi di depan mataku. Aku heran kenapa Teh Iyah terlihat marah ketika staf bernama Firman itu mengatakan bahwa Atep sedang menerima tamu. Yang membuatku semakin bingung adalah Atep yang memiliki ruangan di cafe ini. Memangnya pekerjaan dia di cafe ini sebagai apa sih? Awalnya aku mengira kalau dia pelayan di cafe ini. Sekarang aku menerka kalau dia mungkin bekerja sebagai bagian administrasi atau keuangan.


Ah, sudahlah daripada aku menerka-nerka sendiri, lebih baik aku ikuti saja Teh Iyah.


Kami naik tangga menuju lantai atas. Aku membantu Teh Iyah untuk menaiki tangga karena sepertinya dia kesulitan naik karena membawa gembolan besar di perutnya.


“Hati-hati, Teh.”


“Ini gak bisa dibiarkan, Len. Perasaan Teteh gak enak begini.”


“Kenapa sih, Teh?” tanyaku heran.


“Sudah, jangan banyak tanya. Kita harus cepat-cepat sampai ke ruangannya Atep.”


Tidak mengetuk terlebih dahulu, Teh Iyah langsung membuka pintu.


Dia di sana... bersama dengan seorang perempuan berpakaian kurang bahan.


“Atep!” teriak Teh Iyah. “Astaghfirullah…Apa yang sedang kalian lakukan?”


Kulihat dia membalikkan tubuhnya.


“Teh Iyah?” Dia terkejut melihat Teh Iyah.


Kemudian…


“Lena…” Dia memanggilku lirih.

__ADS_1


*******


to be continued...


__ADS_2