
Alena POV
Menyebalkan… dasar laki-laki berengsek menyebalkan.
Akhirnya aku berhasil juga lepas darinya. Aku menyesal sudah memberi selamat padanya. Seandainya tadi aku tidak menghampirinya, kejadian yang memalukan ini tidak akan terjadi. Aku benar-benar menyesal. Andai saja tadi aku tidak menuruti keinginanan bodohku.
Ah, penyesalan memang selalu datang diakhir. Entah apa yang mendorong aku untuk menghampiri dan memberi selamat kepadanya, aku sendiri juga tidak memahaminya. Setelah tadi selesai rapat dosen penguji dan mengetahui kabar kalau dia mendapatkan nilai terbaik diantara para mahasiswa yang menjalani sidang hari ini, entah kenapa rasanya aku ingin menghampiri dan memberi selamat padanya.
Aku tahu kalau dia laki-laki yang kurang ajar dan berengsek yang tidak punya sopan santun. Tetapi entah kenapa seperti ada kekuatan magnet yang membuat aku tertarik dan menghampirinya. Aku juga tidak paham kenapa tiba-tiba saja kakiku melangkah mendekatinya.
Sepertinya dia benar saat mengatakan kalau bibir, otak dan hatiku tidak sinkron. Sepertinya semua bagian tubuhku tidak mau lagi menjalankan apa yang diperintah oleh otakku. Aku tahu kalau aku tidak boleh mendekatinya, tapi kakiku tidak mau mendengar apa yang diperintahkan oleh otakku. Atau apakah memang otakku yang memerintahkan kakiku untuk melangkah menuju dia?
Ah, sudahlah… Kepalaku jadi pusing memikirkan hal itu. Sebaiknya aku berhenti memikirkan laki-laki berengsek itu. Bisa-bisa vertigoku kambuh kalau terlalu sering memikirkan dia.
Eh, kenapa juga aku jadi sering memikirkan dia?
Sekarang saja isi kepalaku dipenuhi oleh sosoknya yang menyebalkan itu.
Huh… menyebalkan.
Apa memang benar yang dikatakannya kalau aku menyukai dia?
Iiiiiiih… amit-amit deh kalau sampai aku jatuh cinta sama dia.
Kugelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir sosoknya yang sejak tadi mengisi ruang dalam kepalaku.
“Jangan sampai Lena… jangan sampai kamu jatuh cinta sama dia…ingat kalau dia itu mahasiswa kamu.” Aku terus merapalkan kalimat-kalimat itu dalam hatiku seperti merapalkan mantra pengusir setan.
Drrrrrt…..
Aku terlonjak kaget merasakan ponsel yang bergetar di dalam saku rok panjangku.
Aku melihat nama Teh Iyah memanggil di layar ponsel.
“Assalamu’alaikum, Teh.”
“Tanteee……”
Kudengar teriakan duo krucil kesayanganku.
“Jawab dulu dong salamnya!” pintaku pada Aras dan Aris.
“Wa’alaikumsalam Tante cantik...” jawab Aras dan Aris kompak.
“Nah gitu dong. Kalau ada yang mengucapkan salam harus dijawab dulu.”
“Tante ada dimana? Boleh tidak kalau kita vidio call an?” tanya Aris.
Aku tahu jika yang bertanya adalah Aris dari nada suaranya yang ceria. Berbeda jika Aras yang bertanya, nada suaranya akan terdengar datar, persis seperti ayah mereka.
“Sebentar ya, Tante cari dulu tempat yang sepi biar enak ngobrolnya.”
__ADS_1
Setelah sampai di ruanganku, aku segera merubah panggilan menjadi vidio call.
“Nah sekarang udah nyala vidio call nya.”
“Tante lagi ada di mana? Pertanyaan Aris belum dijawab sama Tante.”
“Tante sedang ada di kampus. Memangnya kenapa? Aris kangen sama Tante? Kan baru saja beberapa hari yang lalu kita ketemu.”
“Aris kan selalu kangen sama Tante. Coba saja kalau Tante tinggalnya sama kita, pasti enak kita ketemu setiap hari.”
“Kalau ketemu setiap hari gak akan kangen-kangenan dong. Mending seperti ini, jadi Aris kangen terus sama Tante. Eh, Aras kok diam saja. Aras gak kangen juga sama Tante.”
“Aras juga kangen,” jawab anak berekspresi datar itu.
“Kalau kangen kok diam saja sih?” godaku.
“Memangnya kalau kangen harus teriak-teriak berisik?” jawab Aras.
“Enggak juga sih… he-he-he.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang selalu kehabisan kata-kata kalau menghadapi Aras.
“Tanteee…” panggil Aris.
“Apa?” tanyaku.
“Tante jadi kan maen ke rumah Aris? Kata Ibu, hari Sabtu Tante mau ke sini.”
“Insya Allah, hari Sabtu nanti Tante main ke rumah Aras dan Aris.”
“Len….”
“Eh ada Teteh juga.”
“Sabtu besok kamu harus datang ya. Teteh ngadain syukuran.”
“Syukuran apa, Teh?” tanyaku heran dengan rencana syukuran yang akan diadakan oleh Teh Iyah. Seingatku Teh Iyah sudah mengadakan syukuran pindah rumah. Minggu kemarin juga ada syukuran ulang tahun pernikahan mereka. Sekarang syukuran apa lagi?"
“Syukuran buat adiknya Teteh. Kamu ingat kan sama adik angkat Teteh? Jadi hari ini tuh sidang kelulusannya. Alhamdulillah setelah tujuh tahun berjuang, dia lulus juga. Katanya sih dia mendapat nilai terbaik juga. Teteh mau mengadakan syukuran buat pencapaian dia.”
Aku sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Teh Iyah. Jantungku berdebar keras. Jangan-jangan, adik angkatnya Teh Iyah itu… Apa mereka orang yang sama?.
Deg…
Sepertinya mereka memang orang yang sama. Nama mereka sama. Aku ingat, Aris atau Aras pernah memberitahuku nama dari paman kesayangan mereka.
Atep
Ya, nama yang sama. Pasti mereka orang yang sama. Hari ini mereka pun lulus sidang setelah tujuh tahun menghabiskan masa kuliah. Pasti paman kesayangan dua keponakanku dan mahasiswaku yang menyebalkan itu orang yang sama.
Deg…
Jantungku berpacu cepat.
__ADS_1
“Len…”
Oh my God… Bagaimana kalau ternyata dia?
“Len…”
Ya Tuhan… Bagaimana ini? Apakah aku harus menolak undangan teh Iyah?
“Len…kamu kenapa?”
Bagaimana caranya aku menghindar? Kembali aku teringat kalau Teh Iyah, Aras dan Aris ingin menjodohkan aku dengan dia. Bagaimana ini?
“Tante Lenaaaa…..”
Kedengar teriakan Aras dan Aris dari layar ponsel.
“Eh… kenapa Aras dan Aris teriak-teriak?” protesku.
“Tante Lena kenapa sih? Dari tadi Ibu panggil-panggil malah asyik melamun. Gak sopan tau kalau tidak jawab panggilan orangtua.” Si datar Aras mengomeliku.
“Eh…” aku terkejap mendengar omelan Aras.
“Tuh kan melamun lagi,” protes Aras.
“Aras juga tidak sopan mengomel pada yang lebih tua," protesku pada Aras.
Aras langsung melengos mendengar perkataanku. Dasar anaknya Kagendra. Mirip banget sih kelakuan kamu sama ayah kamu. Menyebalkan….
Sama menyebalkannya dengan paman kalian itu.
Eh, kenapa aku jadi ingat dia lagi.
“Len….” kudengar Teh Iyah memanggilku lagi. Entah berapa kali tadi Teh Iyah memanggilku.
“Iya, ada apa Teh?”
“Maaf ya kalau Aras begitu. Nanti Teteh tegur dia.” Sepertinya Teh Iyah tidak enak dengan sikap Aras kepadaku.
“Gak apa-apa, Teh. Aras kan memang begitu. Lena sudah paham kok karakternya Aras. Mirip banget sama Aa. Jadi Lena udah biasa dengan karakter yang menyebalkan seperti itu. he-he-he.”
“Tetap saja sikap dia tidak baik. Sifat kakak kamu itu memang menurun banget sama Aras. Kadang Teteh juga suka kesal sama kelakuannya Aras. Kamu hebat bisa bertahan hidup selama puluhan tahun sama kakak kamu.”
“A Endra itu emang nyebelin tapi dia juga baik banget. Terbukti kan walau nyebelin, Teh Iyah cinta banget sama A Endra.”
“Iya juga sih,” kekeh Teh Iyah.
Aku tersenyum melihat Teh Iyah yang salah tingkah.
“Iiiiih kenapa jadi ngomongin Aras sama ayahnya sih. Balik lagi ke soal yang tadi. Pokoknya kamu harus datang. Kamu ingat kan kalau Teteh ada niat untuk memperkenalkan kalian berdua. Jadi ini kesempatan yang baik buat kalian berkenalan.”
************
__ADS_1
to be continued...