Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
48. Cerita


__ADS_3

Atep POV


“Ya…itu juga yang akan aku minta sama kamu sekarang.”


“Maksudnya?” tanyaku heran.


“Sebagai seorang kakak laki-laki, aku juga berkewajiban untuk menjaga adik perempuanku. Aku minta sama kamu untuk memperlakukan Lena dengan baik. Jangan sakiti dia seperti dulu aku pernah menyakiti Iyah.”


“Aa percaya sama saya?” tanyaku gugup.


“Aku percaya kamu laki-laki baik yang akan memperlakukan perempuan dengan baik.” jawabnya.


“Tapi bisa saja saya tidak sesuai dengan harapan Aa dan keluarga. Saya baru lulus kuliah dan belum punya penghasilan yang tetap. Saya juga bukan berasal dari keluarga menak seperti keluarga Aa ataupun keluarga Teh Iyah. Saya takut kalau saya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.” Kuungkapkan segala kekhawatiranku.


“Iyah banyak cerita tentang kamu. Tentang kontribusi kamu pada bisnis-bisnisnya. Juga tentang kamu yang sedang merintis usaha sendiri. Jika apa yang diceritakan oleh Iyah tentang kamu itu benar adanya maka tidak ada masalah bagi keluarga kami.”


“Saya khawatir akan jadi masalah di kemudian hari.”


“Masalah seperti apa?”


“Saya menyadari jika Lena sudah hidup enak sejak anak-anak. Saya khawatir jika nanti dia menikah dengan saya tidak akan terbiasa dengan hidup sederhana yang saya jalani.”


“Lena bukan tipe perempuan matrealistis. Kami tidak dididik secara bermewah-mewahan. Walaupun nanti pasti ada perbedaan kebiasaan, itu tugas kamu sebagai suami untuk membimbing Lena supaya bisa jadi istri yang sholehah. Aku percaya kamu bisa melakukannya.”


“Terima kasih atas kepercayaannya. Tapi saya belum yakin kalau Lena bisa dan mau menerima saya. Sekarang saja dia masih suka marah-marah kalau ketemu sama saya.” aku mengungkapkan kekhawatiranku pada kakak Alena satu-satunya itu.


“Sepertinya kamu harus belajar lagi trik menghadapi perempuan. Menghadapi perempuan itu gampang-gampang susah. Kadang kita dibuat jengkel sama sikap mereka yang tidak jelas. Kamu tadi lihat kan bagaimana sikap Teteh kamu itu.” Kagendra terkekeh.


“Iya….Lena juga sering marah-marah gak jelas. Kalau ditanya suka bilang terserah tapi marah kalau kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Pas dia sakit, saya tanya dia mau makan apa, malah dijawab terserah. Saya kan….”


“Eh, tunggu! kenapa kamu bisa tahu kalau dia pernah sakit?” selidik A Endra.


“Eh… ehm…” Aku sedikit ketar ketir melihat tatapan tajam A Endra.


“Ceritakan dengan jelas dan rinci!” perintahnya.


“Ehm, tapi A Endra jangan marah kalau saya menceritakan kejadian saat Lena sakit,” pintaku.


“Ya… Cepat ceritakan! Jangan banyak basa-basi tidak jelas.”


Aku menceritakan kejadian saat Alena sakit. Dimulai dari saat aku menemukan Alena yang hampir pingsan di tempat parkir kampus sampai saat aku bermalam di unit miliknya.

__ADS_1


“Sialan! Kenapa kamu tidak mengabari kami?” umpat Kagendra.


“Mana saya tahu kalau Lena itu adik A Endra. Saya juga baru tahu Lena itu adik Aa pas kemarin dikenalkan sama Teh Iyah,” kataku membela diri.


“Kamu menginap di apartemen Lena?”


“Hm…” Aku mengangguk.


“Kamu sudah melakukan apa saja sama Lena, hah?” suara A Endra yang meninggi ditambah gebrakan tangannya pada meja membuatku kaget setengah mati. Aku baru melihat sosok A Endra yang seperti ini. Dia terlihat menyeramkan saat murka. Aku bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Teh Iyah saat tinggal bersama sosok A Endra dengan sifatnya yang masih buruk. Untung saja sekarang A Endra sudah berubah.


“Tidak melakukan apa-apa, A. Lena kan sedang sakit. Saya cuma membantu menggendong dia sampai ke unitnya lalu menemani dia sampai dia bisa ditinggal. Saya sudah menanyakan orang yang bisa dihubungi tapi Lena menolak. Dia malah marah sama saya karena menyangka saya tidak ikhlas menemani dia. Akhirnya dengan terpaksa saya menginap di apartemennya. Itu juga cuma satu malam. Besok paginya juga saya pulang,” jelasku.


“Terus apa maksud kamu gendong-gendong si Lena?”


“Lah kan saat itu Lena kena vertigo dan susah buat jalan sendiri. Ya sudah saya bantu gendong.”


“Jadi kamu pegang-pegang badan si Lena, hah?” bentak A Endra. Duh, bisa dipecat dari calon adik ipar kalau begini urusannya.


“Ya kalau tidak pegang mana bisa saya gendong dia,” jawabku berusaha terlihat santai.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Aku musti lapor sama Abah. Biar kalian cepat-cepat dinikahkan.”


“Eh, jangan gitu juga A. Nanti Lena marah sama saya kalau Aa lapor sama Abah. Please, jangan lapor A. Saya yang nanti kena marah karena cerita masalah sakitnya ke A Endra.” Aku memelas minta kebijakan pada A Endra.


Aku terkekeh mendengar pernyataan Kagendra.


“Jangan tertawa kamu!” bentaknya. Tuh kan, salah lagi. Adik kakak mirip sekali galaknya.


“I-iya, A. Maaf,” cicitku.


“Iyaah!” A Endra berteriak memanggil Teh Iyah.


“Apa sih teriak-teriak? Berisik!” Teh Iyah datang tergopoh-gopoh dari dalam rumah sambil membawa sepiring singkong dan ubi rebus diikuti oleh asisten rumah tangga mereka yang membawa dua gelas air teh.


“Ini nih adik kamu. Seenaknya tidur di apartemen Lena.”


“Apaaa?”


“Gak usah teriak-teriak,” tegur A Endra.


“Siapa yang bilang, A?” tanya Teh Iyah terlihat panik.

__ADS_1


“Tuh, adik kesayangan kamu.” A Endra mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.


“Beneran, Tep? Kamu menginap di apartemennya Lena?” tanya Teh Iyah sambil melotot.


“Ya begitulah,” jawabku asal.


“Ya begitulah bagaimana sih? Kenapa kamu bisa menginap di apartemen Lena? Kalian ngapain berduaan di sana, hah? Gak berbuat mesum kan?” selidik Teh Iyah.


“Astaghfirullah. Teteh jangan menuduh begitu. Atep cuma menemani Lena yang sedang sakit,” jawabku sedikit tidak terima dengan tuduhan Teh Iyah.


“Ya habisnya kamu gak jelas sih ngomongnya. Yang namanya laki-laki dan perempuan bukan mahrom menginap dalam satu tempat itu tidak diperbolehkan. Kalau kamu berbuat begitu di desa bisa digerebek sama warga terus diarak dan dinikahkan langsung. Dasar kamu itu seperti tidak tahu adat saja,” Teh Iyah menggerutu panjang lebar.


“Bukannya begitu Teh. Atep kasihan sama Lena karena tidak ada yang menemani ketika sakit.”


“Pas Lena sakit itu kamu yang menemani dia?” tanya Teh Iyah.


“Ya begitulah,” kemudian aku mulai menceritakan kejadian saat Alena sakit dan bagaimana aku sampai menginap di apartemennya.


“Kalian sudah berbuat sejauh itu kenapa tidak cerita sama kami, hah?” bentakan Teh Iyah membuatku kaget. Ternyata Teh Iyah bisa galak seperti juga. Mungkin terpengaruh oleh suaminya yang galak.


“Berbuat jauh bagaimana maksud Teteh? Atep sama Lena tidak melakukan apapun yang di luar batas. Atep cuma menolong Lena,” kataku masih membela diri.


“Kenapa pas Teteh kenalkan kalian tidak cerita kalau kalian sudah saling mengenal bahkan sudah pernah bermalam bersama. Kenapa malah pura-pura tidak pernah kenal sebelumnya?” cecar Teh Iyah. Dia mirip juru periksa kalau sedang menginterogasi seperti ini.


“Kalau Atep cerita, takut Lena marah. Kan Teteh tahu sendiri bagaimana galaknya Lena. Hampir tiap ketemu sama Atep, Lena selalu marah sama Atep. Makanya pas Teteh kenalkan Lena ke Atep dan ada rencana menjodohkan kami, Atep khawatir Lena akan menolaknya.”


“Memang dia nolak. He-he-he.” Tawa Teh Iyah membuat hatiku mencelos. “Tapi kan kamu tahu sendiri, Tep. Kalau apa yang dikatakan oleh perempuan itu seringnya tidak sesuai dengan kata hatinya. Mulutnya memang menolak tapi hatinya kan siapa yang tahu.”


“Kamu banget, kan?” ucap A Endra. Sangat jelas ia menyindir istrinya.


“Apa sih, A? nyambung aja,” kesal Teh Iyah karena bicara kenyataan.


“Kamu bilang kalau perkataan perempuan sering tidak seirama dengan kata hatinya. Kamu juga seperti itu, kan?” A Endra terus menggoda Teh Iyah. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi peperangan lokal.


“Iyah gak seperti itu?”


“Jadi kamu bukan perempuan, huh?” Raut wajah A Endra terlihat lucu saat menggoda Teh Iyah.


“Aa gak usah ikut campur. Iyah lagi bicara sama Atep bukan sama Aa.”


Nah kan, genderang peperangan sudah ditabuh. Seru nih...

__ADS_1


***********


to be continued....


__ADS_2