Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
55. Genggaman Tangan


__ADS_3

Alena POV


Lima hari berlalu tanpa hambatan dan gangguan. Aku juga heran selama lima hari ini dia tidak sekalipun mengirimkan pesan ataupun menelfon.


Eh, kenapa juga aku peduli dan mengharapkan pesan darinya. Ish… Tapi kan seharusnya dia menelepon atau sekedar kirim pesan lewat Whatsapp. Apa dia marah padaku? Ah, sudahlah buat apa dipikirkan. Terserah dia mau menghubungi atau tidak. Aku tidak peduli. Tapi kenapa aku jadi kesal begini. Mungkin benar kalau aku sudah jatuh cinta kepadanya. Masalah hati memang sulit untuk dikendalikan. Otakku selalu memerintahkan untuk cuek danm tidak peduli padanya, tapi hatiku...


Jum’at sore, aku sudah berada di rumah kakakku. Rencananya besok ada syukuran ulang tahunku. Aku sudah menolak karena kasihan dengan Teh Iyah yang sedang hamil muda tapi harus sibuk mempersiapkan syukuran untukku tapi Teh Iyah bersikeras untuk mengadakan syukuran di rumahnya. Kalau aku menolak bantuannya, bisa-bisa aku dipecat jadi adik oleh kakakku.


“Teh, istirahat dulu. Jangan mondar mandir terus.” Aku khawatir melihat Teh Iyah yang sibuk memberikan arahan pada para pekerja yang menata dekorasi untuk acara besok.


“Kalau gak Teteh cek, takutnya gak bener,” ujar Teh Iyah sambil terus memberikan arahan.


“Cuma acara ulang tahun saja kenapa heboh seperti ini sih, Teh?” protesku.


“Pokoknya Teteh kepengen ngasih yang spesial buat kamu.” Senyum Teh Iyah terlihat misterius.


“Apa sih pake spesial segala. Lena kan sudah bukan remaja lagi.”


“Pokoknya percaya saja sama Teteh. Kamu cukup duduk santai saja.”


“Masa Lena duduk-duduk santai sedangkan Teh Iyah yang lagi hamil malah sibuk mondar mandir. Kalau nanti Teteh sakit, bisa-bisa Lena disembelih sama Aa,” candaku.


“Aa juga tau kok kalau Teteh yang jadi ketua panitianya. Jadi dia gak akan protes. He-he-he…”


“Ish…pakai panitia segala.” dengusku. Kalau Teh Iyah sudah punya keinginan, tidak ada yang bisa menghalangi termasuk kakakku. Kakakku memang bos yang disiplin dan galak untuk para pegawainya tapi ia tidak akan berkutik kalau sudah berhadapan dengan istrinya. Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang kalau laki-laki sekeras batu sekalipun akan bertekuk lutut jika sudah bertemu dengan pawangnya.


“Sana ke kamar kamu aja daripada ngerecokin di sini!” usir Teh Iyah.


Karena sudah diusir Teh Iyah, dengan enggan aku naik ke kamar. Lumayan aku bisa istirahat setelah seharian tadi sibuk di kampus.


Aku berbaring di kasur sambil mengecek medsosku. Setelah bosan membaca dan melihat-lihat postingan teman-temanku, aku mengecek WhatsApp ku untuk melihat apakah ada pesan dari dia atau tidak. Aku juga mengecek status Whtasapp-nya barangkali saja dia posting sesuatu. Dia memang sering memasang status promo-promo yang diadakan cafe tempatnya bekerja.


Ish…kemarin-kemarin saja hobi menggangguku dengan mengirim pesan-pesan tidak penting. Sekarang tidak satu pun pesan datang dari dia selama 5 hari terahir ini. Status Whatsapp pun tidak ada.


Ini kenapa juga aku jadi menunggu-nunggu pesan dari dia. Menyebalkan…


Ddrrrrt…..ddrrrrt…


Bunyi dering ponsel membuatku kaget, apalagi ketika kulihat namanya di layar.


Karena kesal, aku tidak langsung menjawab panggilannya.


Tidak lama, teleponku berdering lagi. Dia meneleponku lagi.


Inginnya aku tidak menjawab panggilannya tapi aku khawatir dia tidak akan menelepon lagi.


“Assalamualaikum,” sapanya dari ujung sana.


“Wa’alaikumsalam,” kujawab salamnya. “Ada apa?” tanyaku ketus.

__ADS_1


“Calon suami menelepon malah diketusin. Tanya dulu kabarnya, jangan ketus begitu.”


“Calon suami siapa? Ngarang aja.” jantungku berdebar-debar tidak karuan mendengar dia menyebut dirinya sebagai calon suami. Ish, jantungku ini memang tidak tahu diri. Untung saja suara debaran jantungku tidak terdengar olehnya. Kalau sampai dia mendengar bisa malu tujuh turunan tujuh tanjakan.


“Kan calon suaminya kamu. Masa kamu lupa? Kalau kamu mau tau kabarku, kabar aku baik-baik aja. Kemarin-kemarin aku gak sempat kirim pesan ke kamu soalnya aku lagi sibuk banget. Kamu apa kabar?”


“Siapa yang nanya?” ketusku.


“Barangkali kamu malu nanya, jadi aku inisiatif saja menjawab. He-he-he…” kekehnya tidak tahu malu.


“Nanti pas tengah malam aku boleh telepon kamu ya?” pintanya.


“Mau ngapain?”


“Mau ngucapin selamat ulang tahun,” jawabnya.


“Iiiih, tidak usah repot-repot segala.Aaku mau tidur cepat malam ini, jadi jangan ganggu aku dengan telepon dari kamu. Gak penting banget sih, kaya remaja alay saja pakai ngucapin ulang tahun tengan malam,” gerutuku.


“Maklum belum pernah pacaran. Jadi pengen ngerasain bagaimana rasanya jadi laki-laki yang romantis terhadap calon istrinya.”


“Iiih…gak mau…gak mau… Nanti aku bilangin sama Teh Iyah kalau kamu alay begini biar dimarahin sama Teh Iyah dan juga kakakku.” Aku tidak percaya dengan ucapan kalau dia belum pernah pacaran. Mana mungkin playboy seperti dia belum pernah pacaran. Di kampus saja, setiap kali aku melihat dia sedang dikelilingi banyak perempuan.


“Boleh vicall gak?” tanyanya.


“Gak!”


“Kenapa?”


“Lho memangnya besok kita ketemuan?” tanyanya heran.


“Eh…besok kan ada acara syukuran ulang….eh, gak jadi. Nanti-nanti juga kita ketemu. Kamu kan suka maksa-maksa buat ketemuan gitu.” Aku jadi malu karena beranggapan dia akan datang ke acara syukuran ulang tahunku.


“Jadi sekarang kamu mau aku ajak ketemuan?”


“Kalau aku bilang tidak mau, kamu pasti maksa.”


“Tapi kamu juga mau kan?” tanyanya dengan nada menggoda.


“Tau ah…” jawabku kesal.


“Besok ketemuan yuk!” ajaknya.


“Gak bisa. Aku ada acara keluarga.”


“Oh, ya sudah.”


Hening….


“Mau ngomong apa lagi?” tanyaku.

__ADS_1


“Hmm…boleh gak kalau aku antar jemput kamu ke kampus? Jam kerja aku kan fleksibel.”


“Memangnya kamu gak akan dimarahin bos kamu kalau kamu sering izin?” tanyaku.


“Gak akan. Bosnya baik.”


“Kamu kerja di cafe sebagai apa sih? Kok bos kamu bisa baik begitu sama kamu?” tanyaku penasaran.


"Aku pegawai kesayangan bos."


“Oh…”


Sebenarnya aku ingin bertanya lebih lanjut lagi tentang posisi dia dalam pekerjaannya. Tapi aku tidak ingin membuat dia terbebani dengan pertanyaanku. Aku mengerti pekerjaan seperti apa yang akan didapat oleh orang yang baru lulus kuliah. Walaupun aku tahu kalau dia juga membantu Teh Iyah dalam mengelola bisnis milik Teh Iyah.


“Len….” panggilnya.


“Hm…”


Aah, sepertinya aku sudah bisa menerima cara dia memanggil namaku dan sepertinya aku suka dengan caranya memanggilku. Kurasakan wajahku menghangat.


“Boleh tanya sesuatu gak?”


“Tanya apa?” nada suaraku sudah tidak ketus lagi.


Hening…


“Hm, seandainya…ini hanya seandainya saja ya.” Dia terdengar ragu-ragu.


Hening kembali…


“Iya, seandainya apa?” tanyaku tidak sabar.


“Hm, kamu jangan marah ya?”


“Iya.”


“Janji?”


“Ish, menjengkelkan. Iya iya…aku gak akan marah. Cepetan mau ngomong apa? Kalau masih terus begini, aku tutup teleponnya.”


“Tunggu! jangan tutup dulu! Dengerin dulu.”


“Ya makanya cepetan kalau mau ngomong.”


“Iya, ini juga mau ngomong. Hm... Kalau kita berjodoh dan menikah….”


Aku menahan nafas…


***************

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2