Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
60. Siap


__ADS_3

Atep POV


Hari ini. Sudah tiba waktunya. sejak kemarin malam, jantungku sudah berdebar tidak normal setiap kali kubayangkan wajahnya.


Lama aku mematut diriku di depan cermin yang tergantung di dinding kamar yang tidak begitu luas ini. Berkali-kali aku memakai kameja kemudian melepaskannya kembali merasa belum menemukan pakaian yang cocok untuk kupakai ke acara syukuran ulang tahun kekasih hatiku, Alena.


Setelah bongkar pasang beberapa kali, akhirnya aku memutuskan untuk memakai kameja berwarna abu-abu tua dipadukan dengan celana jeans yang warnanya masih bagus alias tidak belel. Kusingkirkan ide memakai jeans belel dan sobek kesukaanku. Kemarin siang, aku sudah merapikan rambut yang mulai gondrong lagi. Aku ingin tampil dengan lebih rapi di hadapan keluarga Alena. Bukannya aku mencari muka tetapi aku ingin menjaga etika dan kesopanan saja.


Kurasakan getaran ponsel di saku celanaku.


Aku melihat nomor yang tidak dikenal di layar ponsel. Khawatir klien baru atau memang ada orang yang perlu menghubungiku, aku langsung memijit tombol terima.


“Assalamualaikum,” ucapku memberi salam.


“Mang Ateep…” kudengar teriakan Aras dan Aris memekakkan telinga.


“Kalau ada yang mengucap salam itu harus jawab dulu. Ini malah teriak-teriak,” tegurku pada dua keponakan kesayangan.


“Waalaikumsalam,” jawab mereka kompak.


“Ini Aras dan Aris pakai hape siapa?” tanyaku heran karena tidak biasanya Aras dan Aris meneleponku dengan menggunakan nomor yang belum aku simpan. Biasanya mereka meneleponku dengan menggunakan hape Teh Iyah atau ayah mereka.


“Aris pakai hape punya nenek. Mang Atep mau ke sini gak?” cerocos Aris.


“Memangnya ada apa di rumah Aras dan Aris?” tanyaku mengetes mereka.


“Kan sekarang ulang tahunnya Tante Lena. Di sini juga ada aki uyut, aki sama nenek,” jawab Aris.


“Memangnya Mang Atep boleh datang?” tanyaku.


“Kan Mang Atep pacarnya Tante Lena. Masa Tante Lena ulang tahun, Mang Atep gak dateng sih?” protes Aris.

__ADS_1


Aku terkejut mendengar perkataan Aris yang menyebutkan kalau aku adalah pacar tantenya.


“Lho, Aris tahu darimana kalau Mang Atep pacar Tante Lena? Siapa yang bilang?”


“Gak ada yang bilang. Tapi Aras bilang kalau Tante Lena punya panggilan kesayangan buat Mang Atep.” Jawaban Aris membuatku geleng-geleng kepala. Bagaimana anak seumuran mereka bisa menyimpulkan dengan seenaknya kalau aku dan tante mereka berpacaran.


“Aras tahu darimana?” tanyaku pada Aras. Aku penasaran juga bagaimana mereka bisa menyimpulkan hubunganku dengan tante mereka.


“Pas Aras mau telepon Mang Atep dari hapenya Tante, Aras lihat kalau namanya Mang Atep di hapenya Tante itu Devil. Aras kan sudah bisa baca. Terus Aras tanya sama Ayah kenapa Tante pakai nama Devil?”


“Terus Ayah bilang apa?” tanyaku penasaran.


“Ayah bilang kalau Devil itu nama panggilan sayang dari Tante Lena buat Mang Atep. Tapi kan Aras masih gak ngerti kenapa nama panggilannya kok gak mirip kaya nama Aras dan Aris. Harusnya kan nama panggilan itu mirip-mirip."


“Terus?”


“Terus Aras tanya sama Ibu. Ibu juga bilang itu panggilan sayang dari Tante Lena buat Mang Atep.”


“Kan yang sayang-sayangan itu pacaran. Kaya Teh Tuti sama pacarnya itu suka bilang sayang-sayang. Terus Bik Nani yang di sini juga suka bilang sayang-sayang gitu di telepon sama pacarnya,” jawab Aras polos.


Duuh, pergaulan anak-anak sekarang makin membuatku geleng-geleng kepala.


“Tapi kata Ibu, Mang Atep sama Tante Lena gak boleh pacaran.” Aras memberikan pernyataan yang membuatku terkejut.


“Lho, kenapa?”


“Kata Ibu, pacaran itu tidak boleh. Jadi Mang Atep gak boleh pacaran sama Tante Lena!” ucap Aras tegas.


“Kalau gak boleh kenapa kalian bilang kalau Tante Lena itu pacarnya Mang Atep?” tanyaku.


“Hm… kenapa yaa?” Aras memberikan pertanyaan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Mang Atep gak akan pacaran sama Tante Lena tapi Mang Atep akan langsung menikah sama Tante Lena,” jawabku.


“Nah itu. Ibu juga bilangnya begitu. Cuma Aras lupa saja gimana tadi ngomongnya.”


“Ya sudah kalau begitu. Mang Atep harus kerja dulu. Sudah dulu ya ngobrolnya.”


“Eeeh sebentar, Mang. Jadi nanti Mang Atep kesini gak?” sepertinya Aris yang bertanya karena nada suaranya sedikit terdengar lebih ceria.


“Insya Allah nanti Mang Atep ke rumah Aras dan Aris,” jawabku.


“Asyiiiik…” teriak Aras dan Aris.


“Sudah dulu ya. Assalamu’alaikum.” Aku memberi salam sebelum menutup sambungan telepon.


“Waalaikumsalam,” jawab Aras dan Aris kompak.


Kubuka kotak kecil yang kupegang, ada sebuah cincin berhiaskan batu berlian. Konon berlian itu simbol cinta dan pengabdian. Walaupun aku tidak percaya dengan simbol-simbol cinta tapi untuk melamar perempuan yang akan jadi pasangan hidupku tapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perempuan yang kusayang.


Nanti. Suatu saat nanti, aku akan membelikan cincin dengan mata yang lebih besar. Untuk sekarang, aku baru sanggup membeli cincin dengan mata yang kecil saja. Setelah menjadi suaminya aku akan bekerja lebih keras lagi untuk membuat dia bahagia.


Memang berlian yang aku beli ini bukanlah berlian termahal karena tentu saja aku belum sanggup untuk membelikan berlian termahal. Lagipula ini baru cincin untuk melamar saja. Nanti jika kami sudah menikah, akan aku berikan hadiah termahal yang sanggup aku berikan.


Cincin berlian yang aku beli ini hanyalah 1 karat saja tapi sudah membuat tabunganku berkurang banyak tapi demi perempuan yang aku cinta biarlah aku berkorban. Banyak laki-laki lain yang malah berkorban sangat banyak untuk perempuan yang mereka cintai.


Setelah puas memandangi cincin yang kubeli, aku memasukkan kotak tersebut ke dalam waist bag. Setelah melirik cermin untuk terakhir kalinya dan yakin jika penampilanku sudah sempurna, aku mengambil kunci motor dan mengeluarkannya dari dalam garasi kecilku.


Kuraba kembali kotak kecil itu yang sudah tersimpan dengan aman di dalam wasit bag. Baru saja akan kunyalakan mesin motor, ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk. Kulihat nama stafku yang menelepon.


“Gawat, Kang….”


***********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2