Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
9. Musibah


__ADS_3

Atep POV


“Gila.” Sepertinya otakku sedang tidak bekerja dengan baik. Bagaimana bisa mulut ini mengeluarkan kata-kata seperti itu. Gila… dasar gila.”


Aku memukul-mukul kepalaku menyalahkan otak yang dengan seenaknya memberikan perintah kepada mulutku untuk mengatakan "Ibu cantik" dan “Ibu harus menikahi aku".


“Gila… Sepertinya aku sudah benar-benar gila. Bisa-bisanya aku bilang cantik sama dosen itu.”


Drrrrt…..


Aku melihat nama Ibu di layar ponsel memanggil.


“Assalamu’alaikum, Bu.”


“Wa’alaikumsalam, Tep. Kamu bisa bisa pulang hari ini?”


“Bisa aja, Bu. Apa ada masalah di rumah?”


“Ini, suami teteh kamu mendapatkan musibah dan harus dirawat di rumah sakit. Kamu pulang temenin Ibu buat menjaga si kembar.”


“Kenapa dengan suaminya Teh Iyah, Bu?


“Kena tusuk preman-preman suruhan orang yang maksa beli tanah Neng Iyah,”  jawab ibu di ujung telepon sana.


“Kok bisa, Bu. Gimana ceritanya?” tanyaku


“Neng Iyah dibawa paksa sama gerombolan preman itu lalu Den Kagendra melihatnya dan mengejar mereka. Kata Pa Yaya, Den Kagendra berkelahi sama preman-preman itu, lalu salah satu preman menusukkan pisau ke perut Den Kagendra.” Ibu menjelaskan kronologis musibah yang dialami oleh suami Teh Iyah.

__ADS_1


“Terus gimana, Bu?”


“Alhamdulillah, Den Kagendra selamat, hanya saja sekarang belum sadar dan Neng Iyah menunguinya di rumah sakit. Makanya Ibu butuh kamu buat jagain si kembar sama bantu Ibu buat nganter-nganter,” pinta Ibu.


“Siap, Bu. Sekarang juga Atep pulang.”


*********


Setelah aku mendengar kabar kakakku yang ditusuk oleh para preman dan sekarang masih koma, aku langsung bergegas membereskan meja kerja dan berlari melewati lorong gedung menuju tempat parkir.


Aku melajukan mobilku hingga melewati sedikit batas kecepatan yang diizinkan. Aku tahu ini salah dan bisa berakibat fatal tapi pikiranku sangat kalut. Kakakku adalah saudara satu-satunya dan kami sangat dekat.


Aku pernah melihat kakakku sangat terpuruk seperti mayat hidup hingga aku sampai berpikiran bahwa aku akan kehilangannya saat itu. Jadi, ketika barusan aku mendengar kalau kakakku kena musibah dan belum sadarkan diri, aku jadi kalut dan teringat masa ketika kakakku terpuruk.


Walaupun kakakku itu menyebalkan dan sering menjahiliku, tapi aku sangat menyayanginya. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika sampai kehilangannya sekarang.


Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya aku sampai juga di rumah sakit tempat kakakku di rawat. Aku berlari di lorong rumah sakit menuju kamar perawatan kakakku. Aku melihat Teh Iyah sedang duduk di samping kakakku yang belum siuman. Teh Iyah menelungkupkan kepalanya di atas kasur samping kakakku yang terbaring tak sadarkan diri, sepertinya Teh Iyah sedang tidur.


Teh Iyah terkesiap merasakan goyangan di bahunya.


“Eh…Len…kapan sampai?”


“Teh, sebaiknya teteh istirahat saja dulu. Biar Lena yang jaga Aa disini,” tawarku.


“Gak, Len. Teteh mau tunggu sampai Aa bangun.”


“Abah dan Ibu sudah diberitahu, kan?” tanyaku.

__ADS_1


“Abah dan Ibu sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Katanya mereka masih di bandara Lombok,” jawab Teh Iyah.


*******


Alena POV


Sudah satu hari berlalu, kakakku belum juga siuman. Saat ini, Teh Iyah sedang salat sehingga aku yang menemani kakakku.


“A… bangun A. Aa gak kasihan sama Aras dan Aris juga sama Teh Iyah? Kasihan Teh Iyah A, dari kemarin belum istirahat nungguin Aa bangun. Anak kembar Aa juga menangis terus karena gak bisa ketemu sama ayah mereka,” kuhapus air mata yang mengalir di pipiku dengan punggung tanganku.


“A… Lena pengen curhat sama Aa. Ada laki-laki nyebelin yang bikin Lena kesal. Aa harus cepat sadar biar bisa ngelindungi Lena. Kalau gak ada Aa, nanti Lena gimana? Cepet bangun dong A!”


Aku terus bicara pada kakakku dengan kalimat yang terputus-putus karena dadaku sesak menahan tangis.


Dua hari aku menemani Teh Iyah menunggui kakakku. Karena ada jadwal mengajar dan rapat yang tidak bisa ditinggalkan, dengan berat hati aku harus pergi ke kampus dan meninggalkan kakakku.


“A, Lena pamit dulu ya. Lena ada jadwal mengajar dan rapat. Jangan marah ya A. Setelah Lena selesai mengajar dan rapat, Lena pasti kesini lagi nemenin Aa. Kalau Lena kesini lagi, Aa harus sudah bangun. Lena tidak mau tau lagi, pokoknya Aa harus bangun. Kalau pas Lena ke sini lagi Aa belum bangun, Lena marah."


Setelah memberikan ancaman pada kakakku, aku mengecup kening kakakku dan memeluknya.


“Lena sayang Aa. Jangan tinggalin Lena.” Air mata kembali merembes dari pelupuk mataku.


Kupeluk Teh Iyah dengan erat. “Yang sabar ya, Teh. Insya Allah Aa segera bangun. Kita do’a terus.” Aku menguatkan Teh Iyah sekaligus menguatkan juga hatiku.


“Lena pergi dulu ya. Kalau urusan pekerjaan Lena udah selesai, Lena kesini lagi. Teteh jangan lupa jaga kesehatan juga. Lena pergi ya, Teh. Assalamu’alaikum,” pamitku pada Teh Iyah.


“Wa’alaikumsalam…” jawab Teh Iyah dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Aku bisa melihat jejak air mata di pipinya.

__ADS_1


*******


to be continued....


__ADS_2