
Alena POV
Duh gawat, sekarang tinggal tersisa kami berdua di halaman belakang. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba semua orang yang tadinya asyik mengobrol dan bercengkrama di halaman belakang tiba-tiba semuanya menghilang. Tidak terlihat satupun keluarga atau temanku yang duduk-duduk di kursi taman.
“Hai,” sapanya.
"Eh,"
“Hai cantik. Daritadi dipanggil-panggil kenapa tidak menyahut? Kamu dengar kan? Apa kamu sedang memikirkan aku?”
Sepertinya tadi aku malah asyik dengan pikiranku sendiri sehingga tidak mendengar sapaannya.
Aku mendelikkan mata mendengar ia berkata cantik dan menuduh kalau aku sedang memikirkannya. Eh, aku memang sedang memikirkan dia. Isi kepalaku dipenuhi oleh sosoknya. Dasar menyebalkan.
“Tidak usah menggombal!” bentakku.
“Jadi perempuan itu harus lembut, jangan galak-galak. Kalau galak nanti ...”
“Siapa yang galak? Kamu jangan menuduh sembarangan. Lagian kalau aku galak apa urusannya dengan kamu, hah? Tidak suka sama perempuan galak?”
“Tuh kan galak. Bisa tidak kalau ngobrol sama aku jangan pakai nada orang yang mau tawuran?”
Pernyataannya membuatku semakin kesal.
“Terserah aku mau galak atau tidak. Bukan urusan kamu. Lagian siapa kamu berani-beraninya ngatur-ngatur aku, hah?!” Setelah mengeluarkan semua uneg-uneg, aku membuang muka karena tidak ingin melihat wajahnya.
Kalau aku melihat wajahnya sekarang, aku takut kalau jantungku tidak bisa diajak bekerjasama.
“Akhirnya kita bertemu juga,” ucapnya santai.
“Dari kemarin-kemarin juga kita ketemu,” selaku kesal.
“Maksudnya kita dipertemukan dan diperkenalkan secara resmi oleh Teh Iyah. Kamu pasti sudah mengetahui rencana perjodohan kita dari Teh Iyah, iya kan?” Aku terhenyak mendengar pertanyaan yang menyadarkanku akan kenyataan yang terpampang saat ini.
“Iya tahu. Memangnya kenapa? Kamu setuju dengan rencana dari Teh Iyah? Kamu tidak setuju, kan?” tanyaku penuh harap agar dia tidak menyetujui rencana dari Teh Iyah.
“Setuju seribu persen,” jawabnya yakin dan penuh percaya diri.
“Tapi aku tidak setuju.” Aku juga menjawab tegas.
“Aku yakin kamu akan setuju.”
“Jangan terlalu yakin akan sesuatu yang tidak meyakinkan,” jawabku mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
“Insya Allah aku yakin karena semua keluarga kamu mendukungku, termasuk kedua orangtua kamu.” jawabannya membuatku terhenyak.
Aku menyadari bahwa orangtuaku sudah terhipnotis oleh daya tarik magisnya. Aku juga tidak paham kenapa abah dan ibu bisa langsung menyukai laki-laki menjengkelkan yang ada di hadapanku ini. Bagaimana bisa abah dan ibu juga langsung menyetujui rencana perjodohan aku dengan pria menjengkelkan dan paling menyebalkan di seluruh dunia.
__ADS_1
“Walaupun semua keluargaku mendukung kamu, kalau aku tidak setuju, kamu mau apa?” tantangku.
“Akan akan terus berusaha dan berdoa agar kamu bisa menjadi pasangan halalku,” jawabnya yakin.
"Kamu akan capek karena usaha kamu akan sia-sia."
"Tidak akan sia-sia karena aku yakin hasilnya akan positif. Kamu tahu peribahasa Sunda, cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok? artinya adalah usaha yang dilakukan secara terus menerus, lama-lama akan membuahkan hasil. Aku yakin kalau aku terus berusaha lambat laun kamu juga akan luluh."
"Iya kalau luluh. Bagaimana kalau aku jadi benci sama kamu? Mau main dukun?"
"Ha-ha-ha. Kamu lucu. Tidak usah pakai dukun untuk menundukkan hati kamu. Aku yakin sekarang pun kamu sudah cinta sama aku, iya kan?"
"Jangan ngomong sembarangan!" Aku menutup telingaku tidak ingin mendengar apapun yang ia katakan. Aku takut kalau perkataannya akan menjadi kenyataan. Takut atau gembira? Ah, aku bingung dengan apa yang kurasakan saat ini.
Semua perkataannya membuatku merasakan berbagai macam perasaan. Di satu sisi aku tidak suka dengan rencana perjodohan dan orang yang akan dijodohkan denganku. Tapi disisi lain aku juga merasa lega karena ternyata dia yang Teh Iyah rencanakan untuk menjadi pendampingku.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranku yang sangat aneh ini.
“Jadi bagaimana?” tanyanya membuyarkan lamunanku.
“Bagaimana apanya?” tanyaku.
“Bagaimana hubungan kita selanjutnya?”
“Gak tahu!” jawabku ketus.
“Bagaimana kalau kita jalankan saja rencana perjodohan yang memang sudah direncanakan oleh Teh Iyah. Bagaimana? Kamu setuju? Aku harap kamu setuju. Kita juga tidak tahu kan dengan siapa kita akan berjodoh. Kalau memang kita berjodoh ya pasti kita akan berjodoh. Sejauh mana pun kamu menghindar, kalau memang kita berjodoh, pasti kita akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan tetapi kalau memang kita tidak berjodoh, kita akan berpisah secara baik-baik tanpa ada kebencian yang bersemayam dalam hati kita. Bagaimana? Setuju kan?”
“Tapi…”
“Baiklah. Kamu juga setuju kan? Kita jalani saja dulu.”
Dia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman.
Aku tidak menyambut uluran tangannya. Aku tidak berani bertindak gegabah. Jika aku salah dalam bertindak saat ini maka masa depanku akan dipertaruhkan.
Tanpa menungguku bereaksi, dia menarik tanganku dan menjabatkan tangannya dengan tanganku.
“OK, deal. Aku adalah calon suami kamu, dan kamu adalah calon istriku,” ikrarnya secara sepihak.
“Apa-apaan? Aku gak setu…”
“Setuju atau tidak setuju. Pokoknya setuju.”
“Aku gak ma…”
“Mau tidak mau, Insya Allah mau,” tegasnya.
__ADS_1
Aku meronta mencoba melepaskan tangan dari genggaman tangannya.
“Lepas!” perintahku.
Dia semakin mengeratkan genggamannya.
“Lepasin, Atep. Aku mohon.”
Kemudian dia melepaskan tanganku.
“Ini pertama kalinya kamu memanggil namaku. Aku senang mendengar suara kamu memanggilku Atep. Boleh aku mendengar sekali lagi kamu memanggil namaku?”
“Diam kamu!” bentakku.
“Alena.” Dia memanggil namaku tanpa ada embel-embel Ibu atau Bu lagi.
“Apa kamu mengizinkan kalau mulai sekarang aku memanggil nama kamu tanpa embel-embel Ibu lagi?” tanyanya.
“Terserah kamu. Kalaupun aku tidak mengizinkannya, kamu akan tetap memanggil namaku tanpa sebutan bu atau ibu. Aku tidak akan membuang energi dengan percuma hanya untuk berdebat dengan kamu.”
“Hai, Alena.”
“Alena.”
“Lena.”
“Lena.”
Aku mendengus mendengar dia terus-terusan menyebut namaku.
“Aku suka memanggil nama kamu. Nama yang cantik, secantik pemiliknya.”
“Tidak usah menggombal. Aku tidak akan terpengaruh dengan rayuan gombal seorang playboy seperti kamu.”
Dia terkekeh mendengar kekesalanku.
"Apa kamu cemburu mengetahui aku seorang playboy?"
"Hah, untuk apa aku cemburu? Kamu belum jadi kekasih ataupun suamiku. Kamu bebas mau bergaul atau bahkan berpacaran dengan perempuan lain sebanyak yang kamu inginkan. Apa yang kamu lakukan belum, eh bukan menjadi urusanku. Paham?" Nah kan aku keceletot mengatakan belum menjadi urusanku. Kalau belum kan artinya nanti akan. Duuh...
"Namun, aku mendengar kecemburuan dalam nada suara kamu," ucapnya.
"Jangan sok tahu. Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak suka orang yang overestimate terhadap dirinya sendiri."
"Aku tidak menilai diri terlalu berlebihan. Aku hanya bilang kalau aku mendengar nada cemburu dari suara kamu."
"Hah, memangnya kamu ahli suara yang bisa menebak perasaan seseorang dari hanya mendengar suaranya? Dasar menyebalkan."
__ADS_1
************
to be continued....