
Atep POV
“Satu bulan lagi kita sah. Mudah-mudahan kita juga punya anak kembar.”
“Tidak mau. Punya anak kembar itu capeknya double.”
“Kebahagiannya juga double kan?”
“Sok tahu.”
“Lihat saja Teh Iyah dan A Endra. Apa kamu melihat mereka susah dalam membesarkan anak-anak mereka? Tidak kan? Bahkan saat Teh Iyah dulu membesarkan Aras dan Aris sendirian, tidak pernah aku melihat Teh Iyah yang sedih karena punya anak kembar. Dulu Teh Iyah sedih karena tidak bersama dengan ayahnya Aras dan Aris.”
“Gimana nanti saja. Memangnya kita bisa mengatur sendiri mau punya anak kembar atau tidak. Biasanya sih kalau dalam keluarga itu sudah ada yang punya anak kembar, pasangan lainnya tidak akan punya anak kembar.”
“Kata siapa?”
“Aku. Kan tadi aku yang bilang seperti itu.”
“Iya, tante cerewet.” Aku mencubit gemas pipi wanita kesayanganku.
“Sakit Atep!” teriak Lena sambil memelototkan mata.
“Jangan ribut! Nanti bayi-bayinya terganggu.”
“Kamu yang salah kalau sampai mereka menangis.”
Sekarang aku dan Alena sedang duduk bersisian di kursi panjang dekat dengan kamar bayi. Aku memperhatikan A Endra yang sedang menggendong bayi-bayinya. Lengkap sudah kebahagian Teh Iyah dengan suami dan keempat anak-anak mereka. Terlihat raut bahagia terpancar dari wajah A Endra walaupun dia terlihat lelah tapi rasa lelah itu terhapus dengan melihat wajah anak-anaknya.
“Capek, A?” tanya Alena pada Kagendra yang menghempaskan tubuhnya di samping kami.
“Hmmm….”
“Sudah ada nama buat mereka?”
“Sudah.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Masih belum diputuskan. Nanti saja diumumkan kalau sudah pasti.”
“Jadi Lena musti panggil mereka siapa dong? Adiknya Aras dan Aris, begitu?”
“Ya tidak begitu juga. Nama panggilannya sudah ada. Aa bersikeras yang beri nama, soalnya Aa tidak punya andil sama sekali ketika pemberian nama buat Aras dan Aris.”
“Salah siapa saat itu tidak ada di samping Teh Iyah,” selorohku.
“Sialan kamu, Tep. Dasar adik ipar kurang ajar.”
“Jadi siapa panggilan mereka?” tanya Alena lagi.
“Upin, Upin.”
Aku hampir tersedak mendengar jawaban dari Kagendra. Bagaimana bisa dia memberi nama bayi kembarnya dengan karakter animasi populer dari negara tetangga.
“Serius, A? Nama mereka Upin dan Ipin.”
Kagendra tertawa terbahak melihat raut wajah Alena yang terlihat kecewa.
“Tapi masa iya dikasih nama Upin dan Ipin sih?”
Sepertinya Alena tidak terima jika keponakan-keponakan barunya diberi nama Upin dan Ipin.
“Memangnya kamu mau nama yang seperti apa?” tanya Kagendra.
“Yang normal atuh, A. misalnya Rafa dan Rafi, Dani dan Doni, Arfa dan Arfi, Arfan dan Arfin, yang seperti itu.”
“Sudah banyak nama yang seperti itu. Pasaran.”
“Yey, memang mau kasih nama yang seperti bagaimana. Ribet amat sih, A.”
“Aa inginnya kasih nama Salma dan Salwa, tapi sayang mereka laki-laki, jadi tidak bisa diberi nama Salma dan Salwa.”
“Aa ingin punya anak perempuan, ya?”
“Inginnya seperti itu, tapi takdirnya dapat anak laki-laki lagi. Sekarang Aa punya empat orang anak laki-laki.”
__ADS_1
“Lena sudah bisa membayangkan bagaimana empat orang bocah fotokopian Aa. Ribet ribet deh,” kata Alena sambil terkikik yang terdengar lucu di pendengaranku. Aku pun mencoba membayangkan Aku dan Alena bersama dengan anak-anak kami.
“Len, telepon kamu bunyi tuh.” Aku menunjuk ponsel milik Alena yang memang diatur silent.
“Hallo, Assalamu’alaikum, Nan. Ada apa?”
“Iya, Mang Edi sudah sampai.”
“Gak. Aras dan Aris gak sama Lena.”
“Ada apa, Len?” tanyaku khawatir.
Alena memberikan isyarat agar aku tidak bertanya dulu.
“Kan biasanya dijemput sama Pak Sholeh. Pak Sholehnya sudah pulang belum?”
“Kemana mereka? Sudah coba telepon Pak Sholeh?”
“Kok bisa tidak bisa dihubungi? Pak Sholeh bawa hape kan? Coba terus hubungi Pak Sholeh.”
“Apa?”
“Pak Sholeh masuk rumah sakit. Ini gimana sih?”
“Polisi?”
“Ada apa Len?” tanyaku semakin khawatir.
“Aras dan Aris, Tep. Mereka belum pulang.”
“Sini teleponnya. Biar aku yang bicara. Kamu tenang dulu.”
Alena menyerahkan teleponnya padaku. Air mata sudah bercucuran mengaliri pipinya. Sepertinya ia benar-benar takut dan khawatir.
************
to be continued...
__ADS_1