
Atep POV
Satu detik yang menegangkan. Kulihat ekspresi wajah Alena setelah melihat yang dilakukan oleh Evangeline.
Sebuah vas bunga melayang ke arahku. Beruntung aku berhasil menghindari lemparannya.
Kudengar suara tawa Evangeline bergema sebelum dia meninggalkan ruanganku.
“Len…”
“Bibir kamu sudah tidak suci lagi,” bentaknya.
Ah, wanitaku. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membela diri. Aku pasrah. Aku duduk di kursi kerja mengistirahatkan ragaku yang terasa sangat letih. Kemudian aku melihat Teh Iyah dengan tatapan kosongnya.
“Teh, Teteh…Teh Iyah!” panggilku sedikit keras.
Aku beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri Teh iyah dan mengguncang tubuhnya.
“Teh, Teteh kenapa?”
Alena menghambur memeluk Teh Iyah.
Aku mengambil segelas air dan menyodorkannya pada Teh Iyah tetapi tidak ada reaksi apapun. Kemudian kudekatkan gelas ke bibirnya. “Minum dulu, Teh.”
“Atep...” panggil Teh Iyah.
“Iya, Teh.”
“Teteh takut. Dia datang lagi untuk mengganggu kami. Menggoda lagi A Endra.”
Kulihat air mata sudah bercucuran mengaliri pipinya. Tidak kulihat sosok Teh Iyah yang tangguh dan pemberani.
Aku tahu bagaimana perjuangan Teh Iyah di awal-awal pelariannya. Ada banyak air mata dan kesedihan sampai akhirnya ia berhasil melalui badai itu. Tiap malam, Teh Iyah menangis dengan perut yang semakin membesar tanpa kehadiran seorang suami di sisinya.
__ADS_1
Sekarang aku melihat lagi Teh Iyah yang rapuh seperti saat berpisah dari suaminya dulu.
“Jangan takut, Teh. Selain ada Atep, sekarang suami Teteh ada bersama Teteh, dan Atep yakin A Endra tidak akan pernah meninggalkan Teteh lagi.” Kuusap lembut punggungnya.
“Lena akan menelepon Aa. Dia harus tahu kalau Natasha mungkin akan muncul kembali untuk mengganggu kalian. Ini tidak bisa didiamkan. Lena khawatir nenek lampir itu akan bekerja sama dengan sepupunya untuk menghancurkan keluarga kita.”
“A, lagi dimana? Iya iya…assalamu’alaikum. Aa di mana? Bisa pulang sekarang? Teh Iyah sakit. Pokoknya cepat pulang. Teh Iyah belum bisa bicara sama Aa. Dia masih syok….ceritanya nanti saja kalau Aa sudah di sini…. iya iya…hati-hati di jalan. Tidak usah ngebut. Iya…iya…Lena pasti temani. Ada Atep juga.”
“Bagaimana?” tanyaku.
“Aa segera pulang.”
“Kamu pending dulu amarah kamu ya.” Aku berbisik karena khawatir terdengar oleh Teh Iyah.
“Ih, mana ada marah dipending?”
“Kamu sudah tidak marah lagi sama aku, kan?”
“Memangnya kamu yakin itu ciuman pertamaku?” godaku.
“Hah? Jadi…”
“Stttt… jangan marah. Aku belum pernah mencium perempuan manapun. Yang tadi tidak termasuk ciuman karena terjadi diluar kehendakku.”
“Nanti saja bicarakan masalah kita. Yang terpenting sekarang adalah Teh Iyah. Sebaiknya aku dan Teh Iyah pulang saja.”
“Kalian sudah makan?” tanyaku.
“Belum. Rencananya kami mau makan di sini. Tetapi bukannya disuguhi makanan lezat malah disuguhi pertunjukkan murahan.”
“Makan dulu. Kasihan Teh Iyah.” kataku.
“Teh, kita makan dulu ya.” tawarku.
__ADS_1
Teh Iyah menggelengkan kepala.
“Teteh harus makan, kasihan keponakan-keponakan Lena yang ada di sini.” Alena mencoba membujuk sambil mengelus lembut perut Teh Iyah yang besar karena mengandung dua bayi.
Kuperintahkan pada bagian dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Teh Iyah dan Alena.
“Minum dulu air jahe hangatnya, Teh.” Aku menyodorkan gelas pada Alena agar membantu Teh Iyah.
“Sebentar lagi makanannya siap.”
Kulihat wajah Teh Iyah yang masih pucat. “Jangan khawatir, Teh. Sekarang Teteh tidak sendirian. Selain ada Atep, ada banyak orang yang akan mendukung Teteh. Atep yakin suami Teteh tidak akan tergoda oleh perempuan lain. Atep yang menjadi saksi bagaimana besarnya cinta A Endra pada Teteh.”
“Hm…”
“Sekarang Teteh fokus saja pada keluarga Teteh. Jangan pikirkan yang lain, apalagi sebentar lagi keponakan-keponakan Atep akan lahir. Teteh harus tetap kuat dan sehat.”
Tak lama kemudian beberapa piring berisi makanan sudah tersaji di atas meja.
“Makan, Teh. Pelan-pelan saja kalau masih enggan untuk makan.”
Aku bersyukur Teh Iyah mau makan walaupun tidak banyak seperti biasanya.
“Aku antar kalian pulang.”
Alena mengangguk. Dia menuntun Teh Iyah menuju tempat parkir.
"Aaargh...Sakit!"
"Teh Iyah!"
*******
to be continued...
__ADS_1