
Alena POV
“Kamu mau kemana? Mau kabur?” tuduhnya.
“Tidak!”
“Kenapa kamu mau pergi sendiri. Kan sudah saya bilang kalau saya menunggu di lantai bawah. Kenapa kamu meninggalkan saya?”
“Tadi aku cari kamu dari lantai bawah gedung sampai ke parkiran, tapi aku gak lihat kamu. Ya, aku pikir kamu sudah pergi dan membatalkan rencana makan siangnya,” sergahku.
Kulihat dia tampak memikirkan sesuatu.
“Oh, tadi ada yang mengajak ngobrol dulu. Mungkin kamu tidak melihat saya karena terhalang orang lain.”
“Makanya kalau ngobrol sama perempuan-perempuan cantik jangan lupa sama sekitar. Jangan merasa kalau dunia itu milik kalian berdua saja,” jawabku kesal.
“Eh, siapa yang mengobrol sama perempu… ooh, kamu cemburu ya?”
“Jangan mengkhayal! Siapa yang cemburu?” Aku tidak terima dengan tuduhannya.
Siapa yang cemburu? Cemburu itu tandanya cinta. Siapa yang cinta sama dia? Dasar cowok nyebelin. Dosa apa aku sampai bertemu dan kenal dengan cowok macam dia?
“Kita naik motor saya saja.”
Dia menarik tanganku menuju parkiran motor.
“Tidak usah tarik-tarik tangan segala. Lepas!” Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Takut nanti kabur lagi.” Dia semakin erat menggenggam tanganku.
“Tidak akan kabur. Lepas!” Aku menghentakan tanganku agar terlepas dari genggamannya.
Akhirnya tanganku terlepas juga dari genggamannya. Dia menatapku dan aku balas menatapnya kesal.
“Nih, pakai helmnya.”
Dia menyodorkan sebuah helm padaku. Sialan, bisa-bisanya dia mengajakku naik motor dengan dandanan seperti ini. Apa dia tidak sadar kalau aku sudah berpakaian rapi seperti ini?
Aku memandangi helm itu tanpa ada keinginan untuk memakainya.
“Sini!”
Dia mengambil kembali helmnya dan memasangkannya ke kepalaku.
“Eh,”
“Kamu belum pernah naik motor dan pakai helm?
“Bukan begitu…”
“Atau kamu malu kita pergi naik motor?” tanyanya tajam.
“Bukan begitu, tapi...”
“Nanti kita akan sering naik motor. Kamu harus terbiasa.”
“Haah...”
__ADS_1
"Siapa juga yang mau pergi bareng sama manusia nyebelin macam kamu. Dasar cowok nyebelin over pede," Rutukku dalam hati.
Kemudian dia menyalakan motor dan menyuruhku untuk naik.
“Cepat naik dan berpegangan kalau kamu tidak mau jatuh.”
Aku menuruti perintahnya segera naik ke jok motor dan berpegangan pada besi di belakang jok.
“Pegang pinggangku!” perintahnya.
“Tidak perlu. Aku pegangan ke belakang jok.”
“Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau kamu jatuh jangan salahkan saya.”
Aku memukul punggungnya karena kesal dengan kata-katanya dari tadi.
“Cepat jalan dan jangan cerewet. Saya bisa jaga diri saya sendiri.”
Kami sampai ke tujuan setelah 30 menit perjalanan. Cukup jauh juga jarak kampus dengan cafe tempat kami makan siang.
“Kenapa sih untuk sekadar makan siang saja kita harus menempuh perjalanan jauh? Di sekitar kampus juga banyak tempat makan yang enak,” protesku.
“Di sini pemandangannya indah. Kamu pasti suka. Kamu buruh refreshing biar tidak stres dengan beban pekerjaan kamu dan juga tidak sering marah-marah sama saya.”
Dia kembali menarik dan menggenggam tanganku.
“Bisa tidak kalau kamu tidak usah menarik tangan saya? Tunjukkan saja jalannya, saya ikuti kamu dari belakang.”
Sepertinya dia tidak mendengarkanku, terbukti dia tidak melepaskan tanganku.
Ah, sudahlah. Aku turuti saja kemauan dia daripada terjadi keributan lagi. Aku sudah capek berdebat terus dengan dia sejak tadi.
“Indah,” lirihku saat melihat pemandangan dari lantai atas.
“Benar kan apa yang saya bilang. Di sini, pemandangannya indah. Kamu pasti suka.”
Aku mengangguk.
“Kamu suka?”
“Ya.”
“Kita duduk di sini saja,” ajaknya.
Kami duduk di dekat pagar pembatas.
“Kamu mau pesan apa?” tawarnya sambil memberikan buku menu kepadaku.
“Makanan apa yang spesial di sini?” tanyaku sambil membolak-balikkan buku menu.
“Kamu pilih saja apapun yang kamu suka. Makanan di sini semuanya enak.”
Aku masih melihat-lihat menu dan bingung memilih.
“Kalau kamu bingung, saya bisa merekomendasikan makanan yang mungkin kamu suka.”
“Apa?” tanyaku.
__ADS_1
“Sup iga bakarnya enak kalau kamu suka. Di sini semua menunya makanan tradisional dan tidak ada makanan western seperti steak atau apalah itu makanan dari luar.”
“Ya sudah, aku pesan iga bakar saja.”
Aku tidak peduli lagi dengan menu makanan yang ada karena perutku sudah kelaparan. Aku bukanlah pemilih makanan, kalau lapar apapun bisa aku makan asal halal dan bisa dimakan.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan kami pun terhidang di atas meja.
Dia memesan menu yang sama denganku. Iga bakar dengan air teh tawar hangat. Menu yang sederhana tapi harganya tidak sederhana. Aku melihat harga dari seporsi saja sudah cukup mahal. Apa ia sanggup membayar pesanan kami berdua? Aku bukannya meremehkan dia, tapi dia kan baru lulus dan belum memiliki pekerjaan. Aku hanya khawatir saja.
Kulihat pelayan yang mengantarkan pesanan kami mengangguk hormat pada dia. Apa pelayan itu mengenalnya? Ah, terserah sajalah apakah dia kenal atau tidak bukan urusanku. Sekarang saatnya aku mengisi perut dengan makanan yang terlihat lezat dan menggiurkan.
Kami makan dengan tenang. Sepertinya dia kelaparan juga hingga menghabiskan makanannya dengan cepat.
“Kamu mau pesan makanan apa lagi?” tanyanya setelah aku melahap suapan terakhirku.
Aku menggeleng.
“Banyak cemilan yang enak di sini. Kita masih lama di sini. Jadi kalau kamu mau nyemil, pesan saja.”
“Ngapain lama-lama di sini? Aku kira kita akan pulang setelah menghabiskan makanan kita. Aku masih banyak kerjaan.”
“Jangan bohong. Kamu sudah tidak ada kelas lagi kan?”
“Tidak ada kelas bukan berarti aku tidak punya kerjaan yang lain,” jawabku kesal.
“Jangan terlalu lelah bekerja. Kamu di sini saja dulu. Nikmati pemandangan di sini.”
“Susah ngomong sama kamu.” Aku mendengus kesal.
Walaupun aku kesal dengan omongannya tapi ternyata dia benar. Pemandangan di sini indah, sayang kalau cuma sebentar saja. Menuruti apa yang dia katakan, aku benar-benar menikmati keindahan alam yang terpampang indah di hadapanku.
Setelah puas menikmati keindahan alam, aku mengajaknya pulang.
“Ayo kita pulang, sudah sore.”
“Ya.”
Tumben tidak mendebatku. Biasanya dia tidak akan langsung menerima yang aku katakan.
“Kita salat asar dulu di sini. Setelah salat, aku akan langsung mengantar kamu ke apartemen. Mobil kamu tinggal saja di kampus. Besok pagi aku jemput kamu.”
“Tidak bisa!”
“Bisa!” ucapnya tegas.
Karena sudah lelah, aku turuti saja apa yang dia mau. Toh, sia-sia juga kalau aku mendebat dia yang keras kepala karena ia pasti akan memaksakan kehendaknya. Daripada menghabiskan energi untuk sesuatu yang sia-sia lebih baik aku mengalah saja.
Waktu azan magrib hampir berkumandang saat kami sampai di apartemenku.
“Besok saya jemput kamu. Jangan menolak dan jangan kabur!”
“Tidak perlu. Besok saya pakai taksi online saja.”
“Sudah saya bilang kalau saya yang akan antar kamu ke kampus.”
“Terserah!” jawabku sambil menyerahkan helm dan langsung berbalik menuju pintu gedung masuk apartemen.
__ADS_1
**********
to be continued...