Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
22. Membantu


__ADS_3

Alena POV


“Kalau gak buka mulut, saya paksa buka. Mau dipaksa dengan cara apa? Atau mau makan bubur dengan cara alternatif. Kalau Bu Alena tidak mau disuapi pakai sendok, saya suapi pakai mulut saya. Mau?”


Aku terkejut mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya. Disuapi pake mulut dia. Apa maksudnya? Dia sudah gila. Kalau saja aku tidak sedang sakit, maka aku tidak akan segan-segan untuk menonjok mulut kurang ajarnya itu.


Tetapi mau tidak mau, suka tidak suka, dan sebal tidak sebal, aku tetap harus berterima kasih padanya karena dia sudah menolongku.


Aku merasakan sendok berisi bubur yang menempel di bibirku. Dengan terpaksa aku membuka mulutku karena aku cukup gentar juga mendengar perkataannya yang akan menyuapi bubur dengan mulutnya. Menjijikan sekali usulnya itu.


Setelah tiga suapan aku merasakan sakit pada lambungku disertai mual yang sangat. Aku kembali merapatkan bibir.


“Kenapa bibirnya tidak mau membuka lagi? Ayo cepat habiskan buburnya! Setelah buburnya habis, minum obat!” perintah si gondrong nyebelin.


Aku menggeleng dan menutup rapat mulutku.


Tangannya masih keukeuh memegang sendok yang didekatkan pada mulutku.


“Sudah cukup,” kataku dengan suara memelas dan memohon.


“Satu sendok lagi.” Dia memaksa.


Aku kembali menggeleng dengan lemah.


“Buka mulut kamu atau saya akan memaksa kamu membuka mulut kamu,” perintahnya tegas.


Aku teringat kembali dengan ancaman bahwa dia akan menyuapiku dengan mulutnya. Aku bergidik membayangkan dia melakukan ancamannya. Karena gentar dengan ancamannya, terpaksa aku membuka kembali mulut dan menelan bubur yang disuapkannya dengan susah payah.


Tak terasa sesendok demi sesendok, si gondrong nyebelin menyuapkan bubur hingga isi dalam mangkuk tersebut habis.


“Nah kan kalau kamu nurut jadinya enak. Coba kamu nurut dari tadi, kan tidak usah ada acara drama pemaksaan. Atau kamu memang ingin disuapin pake cara alternatif itu, heh?” ujarnya kurang ajar karena sudah main ancam, menggoda dan mempermalukan dosennya.


Dengan susah payah aku membuka mulut untuk melayangkan protes pada si gondrong nyebelin.


“Kenapa kamu panggil saya dengan sebutan kamu? Harusnya kamu paham kalau saya itu dosen kamu dan saya lebih tua dari kamu. Kenapa kamu tidak sopan sekali pada saya?”


Akhirnya setelah mengumpulkan kekuatan, aku mampu juga melayangkan protes yang sudah bergejolak dalam hatiku.


“Maaf, Bu. Kebiasaan ngobrol sama teman,” jawabnya membuatku makin kesal.


“Jangan kesal seperti itu. Nanti vertigonya kambuh lagi.”

__ADS_1


“Siapa yang sakit vertigo?” tanyaku sengit. Aku merasa kalau aku tidak pernah mengalami vertigo sepanjang usia dewasaku.


“Sepertinya memang vertigo kalau saya lihat dari gejala-gejala yang tadi kamu tunjukkan.”


“Saya…tidak…” Aku masih menyangkal, tidak terima kalau aku terkena vertigo.


“Saya tahu karena ibu saya juga punya penyakit vertigo. Tadi ketika kamu berada di parkiran, saya lihat kamu hampir pingsan. Kemudian kamu bilang kalau penglihatan kamu seperti berputar-putar. Lalu kamu juga mengalami mual yang sangat hingga ingin muntah. Iya, kan?”


Aku mengangguk tapi langsung memejamkan mata karena aku merasa pusing.


“Pusing, kan? Nah, gejala yang kamu alami itu persis seperti gejala yang ibu saya alami ketika sakit vertigonya kambuh.”


“Saya belum periksa ke dokter kalau saya punya penyakit vertigo.” ujarku lemah dan masih memejamkan mata.


“Mau saya antar ke dokter?” tawarnya.


“Bagaimana supaya saya bisa sembuh? Kamu kan berpengalaman menghadapi pasien yang mengalami vertigo.


“Kamu harus cukup istirahat dan jangan terlalu memikirkan apapun yang bisa membuat kamu stres,” jelasnya.


Aku mengangguk pelan tanda kalau aku mengerti apa yang dia katakan.


“Masih pusing?” Si gondrong nyebelin tapi tampan itu bertanya. Eh, kenapa aku sampai punya pikiran kalau dia itu ganteng. Aku ini sedang sakit tapi otakku ini bisa-bisanya berpikir yang tidak-tidak.


Setelah menjawab pertanyaannya, aku memaksakan diri untuk bangun dari rebahan. Aku bermaksud pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan diri.


Ketika aku mencoba untuk berdiri, aku merasakan bahwa sekelilingku seakan-akan berputar dengan cepat seperti naik wahana komidi putar. Aku memejamkan mata untuk menghindari penglihatanku yang terasa berputar.


“Kenapa? Pusing lagi?”


Aku mendengar pertanyaannya tapi tidak sanggup untuk menjawab pertanyaannya.


“Pasti pusing lagi. Seperti sedang berputar-putar?”


Aku masih belum sanggup meresponnya. Aku merasa mual dan keinginan muntah yang sangat.


“Mau tiduran dan istirahat di kamar? Kalau iya, izinkan saya untuk masuk ke kamar tidur kamu. Saya akan membantu kamu untuk sampai di ranjang yang nyaman.”


"Mual. Ingin muntah," ucapku dengan mata terpejam.


"Saya antar kamu ke kamar mandi."

__ADS_1


Aku hanya sanggup menganggukan kepalaku dengan lemah dengan mata yang masih terpejam.


Kudengar pintu kamar dibuka dan setelahnya aku dibuat terkejut karena dia menyelipkan tangannya di punggung dan bagian belakang kakiku.


“Kamu mau ngapain?” tanyaku sambil membuka mataku yang langsung kututup lagi karena penglihatanku masih terasa berputar-putar.


"Kamu ingin muntah, kan? Saya gendong kamu sampai ke kamar mandi. Kalau berjalan nanti pusingnya bertambah.


Aku tidak bisa membalas kata-katanya dan menurut saja dengan apa yang dia lakukan.


Aku memuntahkan apa yang ada dalam perutku ke dalam wastafel di dalam kamar mandi. Arus merasa dia memijit tengkukku.


Setelah puas mengeluarkan semua makanan dari dalam perut, aku merasa kelelahan yang luar biasa. Air mata mulai merembes membasahi pipiku.


“Saya bantu kamu rebahan di atas kasur. Saya tahu kalau kamu masih merasa sangat pusing. Tidak masalah kan kalau saya menggendong kamu lagi?”


Aku diam tidak merespon pertanyaannya. Dia tidak pernah mau menuruti apa yang kukatakan jadi sebaiknya aku tidak usah menjawabnya.


Eh, kenapa jantungku berdetak tidak normal? Apakah sakit vertigo juga mengakibatkan detak jantung jadi tidak normal begini? Aku harus segera menemui dokter kalau memang sakit kepala mempengaruhi detak jantungku. Dadaku berdebar tak karuan. Sepertinya ini hal yang gawat.


Dia meletakkanku di atas kasur kemudian menyelimutiku.


“Saya akan menemani kamu sampai kamu merasa baikan. Kalau kamu membutuhkan bantuan saya, panggil saja saya."


“Ya, makasih,” ucapku lirih. Sepertinya aku memang harus bersyukur karena ada dia disini. Untuk sementara aku kesampingkan dulu perasaan benciku padanya. Aku sudah tidak peduli sebutan yang dia alamatkan padaku. Kalau saja aku dalam keadaan sehat, pasti aku akan marah setiap mendengar dia memanggil 'kamu' padaku.


“Boleh saya buka lemari untuk mengambilkan baju ganti buat Ibu? Pakai baju yang longgar biar lebih nyaman. Yang mana lemari tempat bajunya? Saya khawatir membuka bagian lemari yang salah.”


Aku menunjukkan lemari tempat baju rumahanku ditempatkan. Beruntung aku menempatkan pakaian dalam di lemari yang lain jadi aku tidak akan malu kalau dia melihat pakaian dalamku menumpuk di dalam lemari.


Dia menyimpan piyamaku di atas kasur lengkap dengan jilbab instan.


“Ini piyamanya. Saya keluar biar kamu bisa ganti baju. Kamu juga bisa buka jilbab kamu dan kalau nanti kamu menyuruh saya untuk masuk ke kamar, kamu bisa pakai kerudung yang ini.


Aku hanya sanggup mengangguk.


"Ya sudah, saya ada di luar. Ingat! kalau butuh bantuan, panggil saja saya.”


"Hm... Makasih."


**********

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2