
Alena POV
Akhirnya aku sampai juga di rumah Teh Iyah. Belum juga masuk ke dalam rumah, jantungku sudah bereaksi tidak normal. Ada rasa takut dan khawatir ketika kami bertemu nanti mengingat percakapan terakhir kami yang berakhir tidak baik.
Setelah aku masuk ke dalam rumah, kulihat sudah banyak orang di dalam. Ada Aki dan kedua orangtuaku, ada juga paman dan bibinya Teh Iyah, ada pengasuh Teh Iyah yang juga ibu dari laki-laki itu.
Tidak lama setelah aku tiba di dalam rumah, kudengar teriakan dari Keisha.
“Lenaa...”
“Kamu juga ke sini, Kei?” tanyaku heran.
“Iyalah… A Endra yang mengundang kami.” jawab Keisha, sahabatku sekaligus istri dari sepupuku.
“Bareng sama Kak Fian?” tanyaku.
“Ya iyalah. Pertanyaan yang aneh,” ejeknya.
“Nyebelin.”
“Makanya cepet punya suami biar bisa pergi barengan kemana pun,” ejek Keisha lagi.
“Cih…sekarang aja bisa ngomong kaya gini. Sepuluh tahun yang lalu siapa yang kabur dari Kak Fian? Siapa yang nangis bombay karena cintanya gak terbalas?” Aku membalas ejekan Keisha.
“Ish, jangan bahas masa lalu,” protes Keisha.
“Makanya jangan bahas masalah itu terus. Selama kamu bahas yang begituan, aku bakal mengingatkan kamu tentang masa lalu itu.”
“Dari sahabat laknat” Keisha memukul bahuku pelan. “Aku itu sayang banget sama kamu. Aku ingin kamu juga bertemu jodoh secepatnya. Pasti seru juga kalau kita nanti ketemuan sudah bawa anak masing-masing.”
“Kamu sudah isi?” tanyaku.
“Belum nih. Doain supaya aku cepet hamil. Mau nyusul si Prita tapi sepertinya gak akan bisa tersusul dengan mudah. Sekarang aja dia udah punya buntut 2, sepasang pula.”
“Hm...” Aku menanggapi Keisha dengan gumaman.
“Makanya cepetan nikah biar aku ada temen untuk berjuang bersama. He-he-he…” kekeh Keisha.
“Eh, ngomong-ngomong apa kabar tuh sepupu kamu si Erika dan si Edies? Masih betah aja mereka di luar negeri sana?” tanyaku pada Keisha. Erika dan Edies adalah 2 sahabatku yang lain, selain Keisha dan Prita.
__ADS_1
Kami berlima bersahabat sejak duduk di sekolah dasar. Awalnya kami berteman karena orangtua kami pun berteman. Hingga usia dewasa, persahabatan kami pun terus berlanjut, malah sekarang ikatan kami lebih kuat karena dipersatukan ikatan keluarga. Kami berlima, aku, Keisha, Prita, Erika dan Edies.
Erika dan Edies adalah sepupu dari Keisha. Keisha yang ada di hadapanku ini sekarang sudah sah menjadi sepupuku karena dia menikahi sepupuku, Kak Fian. Kak Fian juga sahabat paling dekat dan satu-satunya kakakku. Sedangkan Prita, menikah dengan sepupuku lain yang juga adik dari Kak Fian. Jadi Keisha dan Prita menjadi saudara ipar, dan keduanya menjadi saudara sepupuku. Lingkaran pergaulan kami ya disitu-situ saja dan mendapatkan jodoh pun tidak jauh-jauh.
Mungkin kalau aku memang berjodoh dengan dia, aku mendapatkan jodoh juga tidak jauh-jauh karena dia adalah adik angkat dari istri kakakku sendiri.
Eh, kenapa aku punya pikiran kalau aku akan berjodoh dengan dia? Apa aku memang mengharapkan bisa berjodoh dengan dia?
Tidak…tidak…tidak…
Aku mengeleng-gelengkan kepala dengan kuat.
“Ada apa, Len?” tanya Keisha berhasil membuatkan terkejut.
“Eh?”
“Itu… Kenapa kamu geleng-geleng kepala gitu? Kepala kamu sakit?”
“Eh…” Aku bingung untuk memberikan alasan yang tepat pada Keisha.
Walaupun Keisha itu sahabatku, tapi aku masih malu untuk menceritakan tentang dia dan perasaanku pada sahabatku itu.
“Tuh, Prita baru dateng,” seruku ketika melihat Prita yang baru saja masuk bersama suami dan kedua anaknya. Anaknya yang masih batita digendong oleh suaminya sedangkan dia menggendong anaknya yang masih bayi.
“Duuh lucunya Ara cantik, keponakan Tante yang paling cantik.” Aku menggendong Ammara, anak Prita yang batita sambil menciuminya dengan gemas.
Keisha menggendong anak Prita yang masih bayi.
“Udah cocok punya bayi tuh,” kata Prita pada Keisha.
“Iya…doakan aku supaya cepet punya baby yang lucu kaya baby kamu.” Keisha menciumi wajah bayi dalam gendongannya.
“Wah, rame juga acara syukurannya. Full squad ini. Sampai Aki juga hadir,” ungkap Prita.
“A Endra hobi banget bikin syukuran. Baru juga bulan kemarin syukuran rumah baru, terus syukuran ulang tahun pernikahan. Sekarang katanya syukuran kelulusan adik angkatnya Teh Iyah,” jelasku.
“Aku sih dengernya mau syukuran ngejodohin kamu,” celetuk Keisha.
“Haaah, jangan becanda kamu.” Aku mencubit gemas lengan Keisha.
__ADS_1
“Serius, kamu mau dijodohkan, Len?” tanya Prita penasaran.
“Siapa yang bilang. Denger gosip darimana. Berita hoax itu,” elakku.
“Kak Fian yang bilang,” jawab Keisha yakin.
“Haaah… Dasar Kak Fian lambe turah, hobi banget nyebar gosip,” kesalku.
“Serius, Len. Kak Fian cerita sama aku kalau A Endra bilang mau jodohin kamu sama adik angkatnya Teh Iyah. Memang Teh Iyah belum bilang sama kamu?” tanya Keisha.
“Udah bilang sih, tapi dia bilang kalau mau ngenalin aja dulu. Aku juga gak nyangka kalau mulut A Endra itu ember juga. Belum tentu juga aku mau sama dia atau dia mau sama aku.” Aku kesal pada kakakku karena seenaknya menyebarkan hal yang belum pasti.
“Tapi kalau lihat squad yang full team begini sih, sepertinya fix, acara ini buat acara lamaran. Tuh, ibu dari adik angkatnya Teh Iyah juga hadir. Keluarga kamu juga semuanya hadir. Waaah, bakal bikin seragam lagi deh kita, Kei.” goda Prita.
“Jangan ngomong sembarangan,” seruku.
“Cieeeee... yang mau dijodohin.” goda Keisha dan Prita kompak.
“Assalamualaikum semuanya,” seru kakakku menarik perhatian semua yang hadir di ruangan ini.
“Terima kasih kepada keluarga dan sahabat semuanya karena telah berkenan hadir pada acara syukuran hari ini di tempat kami yang sederhana ini.”
Sederhana apaan? Ini rumah luas dan mewah begini disebut sederhana. Aku gak nyangka kalau kakakku sekarang sudah bisa bicara dengan manis. Efek cinta Teh Iyah memang luar bisa.
“Hari ini kami mengadakan syukuran atas kebahagiaan dan keberkahan yang telah Allah limpahkan kepada kami.”
“Yang pertama, kami mengadakan syukuran untuk kelulusan adik angkat Iyah yang baru saja selesai sidang dan berhasil lulus dengan nilai terbaik. Walaupun aktor utamanya belum hadir tapi tidak mengurangi rasa syukur kami, terutama Mak Isah, ibu dari Atep, adik angkat istri saya.
Kulihat Mak Isah, ibu dari laki-laki itu meneteskan air mata haru.
Mungkin nanti, Mak Isah akan menjadi ibu mertuaku.
Eh, kok bisa-bisanya hal itu melintas lagi dalam pikiranku?
Gawat...
“Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah kabar bahagia dari kami berdua.”
Kulihat A Endra dan Teh Iyah saling menatap penuh cinta.
__ADS_1
***********
to be continued....