
Pagi yang cerah dengan suasana yang meriah. Di pagi hari ini sudah kudengar teriakan Aras dan Aris yang menolak untuk mandi pagi disertai suara kakakku yang terus menyuruh anak kembarnya untuk mandi.
Kulihat aki, abah dan ibu sudah duduk manis mengelilingi meja taman belakang dengan satu teko teh, rebusan singkong dan pisang.
Teh Iyah sedang asyik di dapur memasak sesuatu, mungkin nasi goreng kesukaan Aras dan Aris sedangkan kakakku masih mengejar Aras dan Aris yang berlarian mengelilingi rumah. Tampaknya Aras dan Aris memang sengaja susah mandi karena ingin main kejar-kejaran bersama ayah mereka.
Ketika aku sampai di taman belakang, Teh Iyah memanggilku.
“Len, sini dulu sebentar.”
Kuhampiri Teh Iyah di dapur.
“Apa, Teh?”
“Lanjutin nasi gorengnya. Teteh pengen ke kamar mandi. Gak tahan.”
Teh Iyah mengasongkan sutil ke hadapanku.
“Tinggal pindahin ke piring saja!” perintah Teh Iyah sebelum lari ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Setelah aku selesai memindahkan nasi goreng ke dalam 2 piring untuk Aras dan Aris, kulihat kakakku sudah berhasil menangkap Aras dan Aris lalu membawa mereka ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Aras dan Aris tampak sudah mandi dan rapi. Kakakku memang terbaik dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Mudah-mudahan saja Aras dan Aris tidak stres memiliki ayah seperti kakakku.
“Tantee...” Aras dan Aris kompak memelukku.
“Happy birthday, Tante,” ucap Aras memberiku selamat plus ciuman basahnya di pipi.
“Happy birthday, Tantenya Aris yang tercantik sedunia.” Aris tak mau kalah memberiku selamat dengan ciuman bertubi-tubi di kedua pipiku bergiliran.
“Tuh kan kalau kalian sudah mandi, Tantenya gak akan kena iler kalian yang bau,” kata kakakku disertai anggukan kepala oleh kedua anaknya.
Seluruh anggota keluarga sudah memberiku selamat setelah salat subuh berjamaah tadi. Hanya Aras dan Aris saja yang terlambat memberikan selamat karena mereka sulit bangun saat subuh.
“Ayah, Ayah… Acara ulangtahunnya Tante kapan mulainya sih? Kita makan-makan seperti waktu itu gak? Banyak tamu juga gak? Om dan Tante yang lain pada dateng juga gak?” tanya Aris bertubi-tubi pada ayahnya.
“Acaranya nanti siang habis salat zuhur. Mungkin ada yang datang tapi tidak sebanyak seperti minggu lalu,” jawab kakakku.
“Siapa saja yang datang? Mang Atep datang gak?” tanya Aris lagi.
“Tanya sama Ibu!” titah kakakku pada Aris.
“Ibu, Ibu… Mang Atep datang gak?” tanya Aras pada Teh Iyah.
Aku pura-pura tidak memperhatikan percakapan mereka tapi kubuka lebar telingaku agar bisa menangkap informasi apakah dia datang atau tidak.
“Ibu belum tau sih. Kalian telepon saja Mang Atepnya!” perintah Teh Iyah pada kedua anak kembarnya.
“Ah Ibu sama Ayah gak asyik.” Aras dan Aris kemudian mendekati nenek mereka untuk meminjam ponsel.
__ADS_1
“Nenek, pinjam hapenya dong,” pinta Aras.
“Buat apa?” tanya ibuku.
“Mau telepon Mang Atep.
“Nenek gak punya nomor hapenya Mang Atep,” jawab ibuku.
“Pinjem saja hapenya, nanti Aras minta nomernya sama Ibu,” pinta Aras sedikit ketus.
“Aras, yang sopan bilang pinjam hapenya!” tegur kakakku.
“Iya, Ayah. Maaf.” ucap Aras menyesal. “Maafin Aras, Nek.”
“Iya gak apa-apa sayang. Ini hapenya.” Ibuku memberikan ponselnya pada Aras.
“Ayah, minta nomernya Mang Atep,” pinta Aris pada kakakku.
“Ayah tidak ingat nomornya. Ayah juga tidak pegang hape. Minta saja nomornya ke tante kalian,” jawaban A Endra membuatku terkejut. Pasti Aras dan Aris akan langsung memintanya padaku.
“Tantee...” Aras dan Aris berlarian ke arahku yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
“Ada apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu maksud mereka menghampiriku.
“Punya nomer hapenya Mang Atep gak?” tanya Aras.
“Minta doong,” pinta Aris.
“Buat apa?”
“Mau telepon Mang Atep,” jawab Aras.
Aku memberikan nomornya pada dua keponakanku.
“Memangnya kalian sudah bisa caranya menelepon?” tanyaku.
“Bisa. Tante sebutin aja nomernya berapa. Aras sudah tau angka,” jawab Aras percaya diri.
“Nih kalian pakai saja hapenya Tante.” Aku menyerahkan ponsel pada Aras.
“Ini sudah nomernya Mang Atep?” tanya Aras ketika menerima ponselku.
“Sudah,” jawabku santai.
“Kok namanya bukan Mang Atep sih? Ini namanya d-e-v-i-l. De-vil… Devil itu siapa? Devil itu kata bahasa inggris kan?” pertanyaan Aras membuatku kaget karena aku baru ingat kalau aku memang menamainya Devil. Gawat nih. Degan tingkat kekepoan Aras dan Aris sangat super duper, mereka pasti akan bertanya pada ayah mereka.
Aku memang menamainya ‘devil’ setelah menggantinya dari ‘gondrong nyebelin’ dan lupa belum mengedit lagi dengan nama yang benar.
“Ayaah…” teriak Aras mencari ayahnya.
__ADS_1
Nah, kan seperti yang sudah kuduga. Aras pasti akan menanyakan arti kata devil pada ayahnya. Segera kukejar Aras dan kurebut kembali ponselku.
“Tantee…. kanapa hapenya diambil?” protes Aras.
“Tante gak jadi pinjemin hape sama kamu,” ketusku.
Aku lega karena berhasil mengambil kembali hapeku.
“Kenapa?” tanya Aras tidak terima dengan tindakanku.
“Gak kenapa-kenapa. Tante cuma gak jadi aja pinjemin hapenya.” Kemudian, aku langsung pergi ke kamarku.
Kulihat kakakku keluar dari kamarnya.
“Ayaah… arti kata devil itu apa sih?” tanya Aras sambil berlari menuju tempat kakakku berdiri di atas tangga.
“Aras jangan sambil lari-lari naik tangganya.” teriak Teh Iyah dari dapur. Mungkin dia melihat anaknya itu naik tangga sambil lari.
Aku langsung menarik Aras yang berlari menuju tangga dan membekap mulutnya.
“Jangan tanya-tanya sama Ayah!” perintahku.
“Ayaah…” Aras mencoba melepaskan pegangan tanganku.
“Ada apa?” tanya kakakku.
“Artinya devil apa?” tanya Aras cepat setelah mulutnya terbebas dari bekapanku.
“Kenapa Aras tanya itu?” kakakku menatap anaknya curiga.
Sebelum aku sempat menutup mulut Aras, dia sudah lari menuju ayahnya.
“Di hapenya Tante. Pas Aras mau telepon Mang Atep, nama di hapenya Tante itu devil. Aras sudah bisa baca. Pas Aras tanya siapa itu devil, Tante langsung ambil lagi hapenya. Devil itu bukan nama orang kan? Itu bahasa inggris tapi Aras belum tau artinya,” cerocos Aras pada ayahnya.
Duh dasar anak dingin yang satu itu, kok bisa sih sekarang banyak kata-kata keluar dari mulutnya. Biasanya juga dia irit bicara.
Kakakku tertawa seraya memandangku dengan sorot menggoda.
“Devil itu nama panggilan buat Mang Atep dari Tante Lena. Panggilan sayang.” Jawaban kakakku membuatku makin kesal. Dasar duo AC dingin menyebalkan.
“Oh nama panggilan… seperti Aras dan Aris? Nama Aras kan Faras dipanggil Aras. Tapi kenapa nama panggilan Mang Atep jadi Devil kan beda banget, Yah,” protes Aras pada jawaban kakakku.
“Kalau mau jawaban yang tepat. Tanyakan sama tante kamu!” perintah kakakku pada Aras. Aku yang tidak mau ditanya-tanya oleh Aras langsung kabur menuju kamar dan mengunci pintu supaya Aras tidak bisa langsung masuk.
Kudengar tawa kakakku yang terdengar sangat menyebalkan. Dasar pasangan ayah dan anak yang menyebalkan.
************
to be continued...
__ADS_1