Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
27. Keluarga


__ADS_3

Alena POV


Aaargh… Semalaman aku bersama dengan dia. Dia tidur di sini, di kamar sebelah.


Kurasakan kulit wajahku menghangat kala mengingat kejadian demi kejadian yang kualami kemarin bersama dengannya. Masih kuingat walau samar-samar, ketika dia menggendongku masuk ke dalam mobil, dan pasti dia juga yang menggendongku sampai masuk ke unit dan bahkan ke kamar tidurku.


Aaargh… Bagaimana aku harus bersikap ketika nanti kami bertemu di kampus atau bahkan ketika dia melaksanakan bimbingan denganku? Jantungku mendadak berdetak tidak karuan ketika aku membayangkan pertemuan selanjutnya.


Aaargh… Kenapa sih dia harus sebaik itu padaku? Kenapa dia tidak tetap bersikap cuek saja padaku. Eh, kalau dia bersikap cuek saat aku sakit, bagaimana dengan nasibku? Ah kalaupun dia tidak menolongku, aku yakin ada orang lain yang akan menolongku. Kenapa sih harus dia yang menolongku?


Setelah memanfaatkan dua hari untuk beristirahat total, akhirnya kesehatanku sudah benar-benar pulih. Karena hari ini adalah hari Minggu, aku memiliki tambahan waktu untuk beristirahat.


Ting tong…


Ting tong…


Ting tong…


Kudengar bel unitku berbunyi tanpa henti tanda si pemijit bel menekannya berkali-kali.


Ah, pasti yang memijit bel itu duo kesayangan, Aras dan Aris. Segera kubuka pintu unitku dan kusambut dua orang keponakan tersayangku itu dengan ciuman bertubi-tubi.


“Aras dan Aris dari mana saja? Seru liburan sama aki, nenek, ayah dan ibu?


“Tanteee… Aris kangen banget sama Tante. Kenapa sih Tante gak ikut lagi sama kita?”


“Iiiih…kan Tante harus kerja. Nanti deh, kalau Tante libur, Tante bakalan ngajak Aras dan Aris main.” bujukku pada duo kesayanganku.


“Len, kanapa muka kamu pucat begitu? Kamu sakit?” tanya Teh Iyah.


“Dua hari kemarin, Lena kena vertigo, Teh. Tapi sekarang udah mendingan kok.” Aku menjawab pertanyaan dari Teh Iyah. Aku yakin Teh Iyah dan kakakku akan marah karena aku tidak mengabarkan tentang kondisiku yang sakit pada mereka.


“Kenapa kamu tidak mengabari Aa? Kan sudah Aa bilang kalau kamu sakit atau kenapa-kenapa, kamu harus segera menghubungi Aa,” omel A Endra.


“Lena gak mau ganggu liburan kalian,” jawabku sekenanya.


“Karena ini nih, Aa tidak mengizinkan kamu tinggal sendirian. Kejadian juga kan kamu sakit dan gak ada yang ngurusin kamu. Setidaknya kalau kamu tinggal dengan Aa, pas kamu sakit kemarin akan ada yang menemani kamu walaupun cuman ditemani Ceu Odas dan dia pasti menghubungi Aa kalau kamu sakit.”


“Ah cuma sakit biasa. Buktinya sekarang Lena baik-baik saja kan.” elakku.


“Kamu itu kalau dibilangin suka ngeyel. Jangan anggap remeh penyakit kamu. Pokoknya, kamu harus pindah dari sini dan tinggal bersama Aa!” ucap A Endra tegas.


“Apaan sih A? Lena itu udah dewasa, bukan ABG yang harus terus dijaga. Kalau Lena terus bergantung sama Aa, kapan Lena bakal mandirinya?”


“Tuh kan, terus ngeyel, gak bisa dibilangin gak bisa disayang. Kamu itu…”


“Udah atuh A. Lena kan tinggal sendiri juga karena ingin belajar mandiri. Biarkan saja Lena belajar tinggal sendiri,” ujar Teh Iyah membelaku.

__ADS_1


“Maksud kamu apa? Kamu keberatan kalau Lena tinggal sama kita?” tanya A Endra dengan nada marah.


“Bukan begitu, A. Aa mah suka seenaknya saja kalau menyimpulkan. Siapa yang keberatan kalau Lena tinggal sama kita? Memangnya Iyah itu kakak ipar yang jahat seperti yang ada di sinetron-sinetron? Aa mah memang nyebelin,” protes Teh Iyah sambil mencubit pinggang A Endra.


“Aww… sakit sayang,” rengek kakakku manja.


“Cih!” Aku sengaja mendengus dengan suara keras.


“Gak usah manja. Malu sama badan yang kekar kaya preman tapi manja mirip anak umur tiga tahun. Mau dicubit lagi?” ancam Teh Iyah


“Jangan dong sayang...”


“Stop! gak usah umbar kemesraan di depan jomblo. Nyebelin!” aku ngeloyor pergi dari hadapan dua orang yang selalu melakukan public display affection tanpa malu-malu.


Aku melihat Aras dan Aris yang sedang asyik menonton film kartun kesayangan mereka di televisi.


“Aras dan Aris kemarin pas liburan main ke mana saja?” tanyaku sambil duduk di antara mereka.


“Seru banget… Aris main ke pantai terus berenang di pantai. Pantainya baguus banget. Airnya biru, terus Aras sama Aris nyelam lihat ke dalam laut sama ayah. Seru banget deh. Kalau Tante Lena ikut pasti lebih seru.”


Liburan kemarin, abah, ibu, Aa, Teh Iyah, Aras dan Aris pergi ke pantai Tanjung Tinggi di Bangka Belitung. Tadinya aku juga berniat untuk ikut liburan bersama mereka tetapi apa daya, tugas sebagai dosen baru sedang banyak-banyaknya. Sebelumnya juga aku sudah mengambil cuti untuk liburan ke Raja Ampat bersama abah, ibu, Aras dan Aris sehingga aku tidak bisa mengambil cuti lagi.


Aku melihat Aras si super cool tidak bereaksi apapun, aku jadi ingin menggodanya.


“Aras senang tidak main-main di pantai?”


“Seneng.” jawabnya singkat.


“Sama dengan Aris.”


“Iiih kamu tuh lucu banget sih…” aku tidak tahan untuk tidak mencubit pipi gembilnya.


“Tantee… sakiiit…" Aras malayangkan protes dengan teriakan dan tatapan tajamnya.


“Tante suka banget sama wajah coolnya Aras.”


“Jadi Tante gak suka sama wajahnya Aris?” protes Aris.


“Tante juga suka sama wajah cutenya Aris,” jawabku sambil mencubit gemas pipi Aris.


“Sakiit...” teriak Aris.


“Tante sayang banget sama Aras dan Aris.” Aku memeluk mereka berdua dengan erat.


“Kalau suka sama anak-anak, bikin sendiri,” celetuk A Endra yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Aras.


“Apaan sih? nyebelin.”

__ADS_1


“Cepat nikah! Jangan kejar karir terus.” Kakakku itu memang jarang ngomong tapi sekalinya ngomong suka bikin senewen.


“Memangnya cari jodoh itu segampang nyari tas atau baju di mall?” protesku.


“Cari jodoh itu di masjid bukannya di mall,” ujar Teh Iyah membuatku makin senewen.


“Teh Iyah juga ikut-ikutan segala. Dasar pasangan absurd,” rutukku.


A Endra dan Teh Iyah tertawa terbahak mendengar protesku.


“Mau ya Teteh jodohkan sama adik Teteh?” Teh Iyah kembali mempromosikan adik angkatnya.


"Sebentar lagi kan dia lulus kuliahnya. Teteh juga tahu kalau Atep belum ada calonnya. Makanya Teteh berencana mau menjodohkan kamu sama Atep. Mudah-mudahan saja beneran berjodoh.”


“Lena lebih tua dari adik Teteh itu, kan? Dia baru mau lulus kuliah sedangkan Lena sudah cukup lama menjadi dosen.”


“Usia Atep itu tidak seperti usia mahasiswa kebanyakan. Kalau gak salah sih sekarang usianya Atep antara 27 atau 28 tahun an. Seumur lah sama kamu, Len.”


“Kenapa sudah setua itu belum lulus juga?” tanyaku sinis. .


“Atep itu siswa yang cerdas dan selalu mendapat beasiswa karena kecerdasannya. Dia terlambat masuk kuliah karena dia mengumpulkan uang dulu untuk membayar kuliahnya sendiri padahal ibunya sanggup membiayai kuliah dia tapi dia ingin mandiri. Teteh juga sudah menawarkan membiayai kuliahnya tapi dia menolak. Itu sudah menunjukkan kalau Atep itu pekerja keras dan bertanggung jawab.”


“Berapa tahun dia kuliah?” tanyaku masih sangsi dengan calon yang Teh Iyah tawarkan.


“Sepertinya ini tahun terakhir dia harus lulus.”


“Teteh bilang dia cerdas, kenapa lama sekali menyelesaikan kuliahnya? Kalau memang dia cerdas, dia bisa menyelesaikan kuliah kurang dari empat tahun.” sepertinya aku harus benar-benar menyeleksi kandidat yang ditawarkan oleh Teh Iyah itu dengan ketat.


“Itu karena salah Aa.” perkataan Teh Iyah membuatku bingung dan pasti membuat bingung A Endra juga karena kulihat A Endra mengernyitkan alisnya.


“Kenapa jadi menyalahkan Aa? Apa hubungannya hal ini sama Aa?” tanya A Endra.


“Karena Atep bantu Iyah membangun bisnis baru Iyah setelah Iyah kabur dari Aa. Gara-gara Aa sama si nenek lampir itu pacaran, Iyah pergi dan Atep harus membantu Iyah. Karena itulah kuliahnya terganggu. Atep harus mengambil cuti kuliah dan menghabiskan masa cutinya demi membantu Iyah.”


A Endra tertegun mendengar penjelasan Teh Iyah.


“Maaf,” ucap A Endra lirih.


“Makanya, Aa harus sangat berterima kasih sama Atep karena kalau gak ada Atep dan Mak Isah, Iyah gak tau bagaimana meneruskan hidupnya Iyah. Kalau ingat lagi kejadian itu dan si nenek lampir, rasanya Iyah bodooh banget menerima Aa lagi.”


“Jangan begitu dong sayang…” A Endra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk kemudian memeluk istrinya dengan erat dan ditambah dengan ciuman bertubi-tubi pada wajah Teh Iyah.


“Cih…terus aja *PDA a*n.” protesku yang sudah pasti tidak diindahkan oleh pasangan absurd itu.


“Makanya cepat nikah biar bisa mesra-mesraan.” goda A Endra.


“Nyebelin.” Aku melemparkan bantal ke arah wajah A Endra yang berhasil ia tangkap sebelum wajah tampannya terkena lemparan bantalku.

__ADS_1


********


to be continued...


__ADS_2