
Alena POV
Apa aku keterlaluan memblokir nomor teleponnya?.
Bagaimana sikap dan reaksi dia kalau besok tahu perempuan yang akan dikenalkan Teh Iyah padanya adalah aku?
Ah, sudahlah bagaimana besok saja. Aku mematikan lampu kamar dan memejamkan mata mencoba untuk tidur.
Saat ini sudah lewat tengah malam tapi aku masih belum bisa tidur. Sudah berbagai cara aku lakukan agar bisa cepat tidur. Aku sudah minum susu hangat agar bisa cepat tertidur tapi sepertinya terlalu banyak yang aku pikirkan.
Aku memikirkan bagaimana sikapku nanti ketika kami diperkenalkan? Bagaimana reaksi dia ketika tahu perempuan yang akan Teh Iyah kenalkan itu adalah aku? Bagaimana juga reaksi Teh Iyah ketika mengetahui kalau aku adalah dosen dari adiknya? Apakah dia akan marah karena aku memblokir nomor teleponnya?
Ah terlalu banyak hal berkeliaran di dalam ruang kepalaku. Aku jadi pusing.
Kuambil ponsel dan menimbang-nimbang apakah aku harus membuka blokirnya atau biarkan saja tetap terblokir? Aku jadi bingung sendiri.
Kenapa juga aku harus memblokir nomor teleponnya dan membuat dia marah? Aku menyesali tindakan memblokir nomor teleponnya.
Salahnya sendiri kenapa jadi orang menyebalkan. Aku kan malu kalau rekan-rekan dosen dan mahasiswa-mahasiswa melihatku yang diantar jemput oleh dia.
Dasar memang manusia tidak peka. Tidak berperasaan. Dasar cowok menyebalkan.
Bisa-bisanya Teh Iyah mempunyai niat untuk menjodohkan kami. Apa Teh Iyah tidak tahu kalau adik angkatnya itu sangat menyebalkan?
Aarrrgh… Aku benci keadaan seperti ini. Kenapa aku bisa jadi orang yang bodoh sejak mengenalnya? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri?
Sejak aku bertemu dan kenal dengan dia, aku mulai bersikap aneh. Aku tidak lagi memahami perubahan yang terjadi padaku. Aku tidak memahami isi kepala dan hatiku. Dia telah mengisi ruang kepala dan hatiku. Aku bingung…
Akhirnya aku bisa juga tidur setelah salat subuh. Hal sama terjadi saat aku dan dia berkencan untuk pertama kalinya. Hah, berkencan? Bisa-bisanya aku menyebut pertemuan kami untuk makan siang bersama itu sebagai sebuah kencan. Kamu memang sudah gila, Lena.
Walaupun tidak baik tidur setelah salat subuh tapi aku tidak bisa menahan rasa kantukku. Semalam aku terjaga dengan pikiran yang berkecamuk.
Jam 8 pagi, aku terbangun karena dering ponsel yang terus-terusan berbunyi.
Kulihat nama pemanggil di layar ponsel dan ternyata Teh Iyah yang meneleponku.
“Len, kamu baru bangun?” tanya Teh Iyah langsung ketika aku menjawab panggilannya.
“Iya,” jawabku dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
“Gak baik loh anak gadis bangunnya siang,” tegur Teh Iyah.
__ADS_1
“Lena baru tidur habis subuh. Semalaman Lena gak tidur.”
“Haah…kenapa gak tidur? Oh, Teteh tahu alasan kenapa kamu gak bisa tidur.”
“Heeh…” erangku.
“Kamu gugup sampai gak bisa tidur semalaman karena hari ini mau ketemu sama adik Teteh kan?” goda Teh Iyah.
Glek….
Dugaan Teh Iyah tepat sekali.
“Apaan sih…ngapain juga Lena gugup. Lena itu banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan. Baru beres menjelang subuh. Daripada solatnya bablas kan mendingan Lena tidurnya habis solat saja.” aku membela diri. Kalau ketahuan sama Teh Iyah, bisa malu tujuh turunan kan.
“Iya…kalau sekali-kali sih tidak apa-apa, asal jangan jadi kebiasaan.” ujar Teh Iyah.
“Ada apa sih, nelpon pagi-pagi gini?”
“Teteh mau ngajak kamu perawatan wajah. Udah lama kan kita gak ke salon bareng.”
“Malas ah. Lena mau tidur lagi sampai agak siang. Pusing ini kepala Lena,” ujarku memberi alasan agar tidak pergi ke salon.
“Kamu itu gimana sih, Len. Teteh kan mau perawatan wajah diantar sama kamu.”
“Malas ah. Ajak aja A Endra.” Aku memberikan usul.
“Ih, males banget deh kalau ngajak Aa kamu. Bawaannya manyun terus kalau disuruh nunggu. Mau Teteh ajak sekalian perawatan eh ditolak mentah-mentah. Katanya malu masa cowok perawatan wajah.”
“Ya iyalah, Teh. Cowok jenis A Endra mana mau perawatan wajah seperti para artis dan model. Walaupun sekarang banyak juga cowok metroseksual yang suka perawatan.”
“Tapi heran deh, tanpa perawatan pun Aa kamu itu kok bisa ganteng banget gitu? Mungkin orang yang tidak tahu keseharian Aa akan beranggapan kalau dia rajin perawatan.”
"Ah, Teh Iyah gak tahu aja yang sebenarnya."
"Memang yang sebenarnya apa? Aa suka perawatan tanpa sepengetahuan Teteh? Kamu tahu yang sebenarnya, Len?" cecar Teh Iyah.
"Ha-ha-ha... becanda, Teh. Lena jamin kalau Aa bukan pria pesolek. Dia mah anti sama yang begituan, beda sama Kak Fian yang suka perawatan."
"Iya sih. Kak Arfian mah wajahnya kinclong banget mirip artis. Tapi Aa juga gak kalah ganteng sama Kak Arfian. Malah Aa lebih terlihat cowok dan ganteng dibandingkan Kak Arfian."
“Iiiiih dasar bucin… suami sama istri sama aja. Sama-sama bucin. Dasar nyebelin.” protesku.
__ADS_1
“Makanya kamu cepetan nikah biar tau gimana rasanya dibucinin sama suami sendiri.”
“Ah, Teh Iyah bisa ngomong gini sekarang. Kemarin kemarin kan benci banget tuh sama A Endra sampai kabur dari rumah dan minta cerai segala.”
“Ish, jangan ngomongin masa lalu yang kelam dong, Len,” protes Teh Iyah.
“Makanya jangan ngomongin tentang menikah dan calon suami juga sama Lena. Lena kan belum mau menikah. Lena udah punya kecengan sendiri.”
“Haah… kamu udah punya orang yang dicinta? Kok gak bilang-bilang sih sama teteh? Siapa orangnya? Teman sesama dosen?” tanya Teh Iyah sambil berteriak histeris.
Kadang-kadang kakak iparku itu memang terlalu berlebihan dalam berekspresi. Mendengar aku punya tambatan hati saja sudah teriak-teriak seperti itu. Bagaimana kalau dia tahu kalau adiknya itu suka gangguin dan bikin jengkel aku. Bisa-bisa Teh Iyah teriak sambil guling-guling.
Aku tertawa memikirkan adegan Teh Iyah yang berteriak histeris sambil berguling-guling di lantai.
“Len…”
Apalagi kalau Teh Iyah tahu perasaanku terhadap adiknya. Wah bisa-bisa Teh Iyah memesan kembang api besar dan menyalakannya di lapangan untuk merayakan kemenangannya.
“Len…”
Teh Iyah memang sangat unik. Tidak salah kalau kakakku sangat mencintainya.
“Lenaaa…” Terdengar teriakan Teh Iyah dari layar ponsel.
“Eeeeh apa Teh?” Aku gelagapan mendengar teriakannya.
“Kenapa akhir-akhir ini kamu sering banget melamun? Udah beberapa kali kamu seperti ini,” selidik Teh Iyah.
“Kan sudah Lena bilang kalau Lena itu ngantuk banget.” Untung saja aku bisa menggunakan alasan mengantuk untuk menutupi kegugupanku.
“Ya sudah, kalau kamu ngantuk, tidur saja lagi. Jangan sampai kamu sakit kepala karena kurang tidur. Jangan lupa minum madu dan vitamin buat mengembalikan energi kamu.”
“Siap, Teh. Udah dulu ya. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam.”
Setelah Teh Iyah menjawab salamku. Aku langsung mematikan sambungan telepon dan juga menonaktifkannya. Aku tidak mau diganggu lagi oleh suara deringan telepon.
**********
to be continued....
__ADS_1