
Atep POV
“Tunggu, Kang!” Firman memanggilku tepat ketika aku hendak membuka pintu.
“Ada apa lagi, Man?”
Aku sudah resah dan gelisah karena khawatir datang terlambat. Setengah jam lagi acara syukuran ulang tahun Alena dimulai dan aku masih di sini. Ponselku sudah dipenuhi oleh notifikasi chat dari Teh Iyah yang mengingatkanku untuk datang on time.
“Pesanan biji kopi belum bisa diproses sedangkan stok kita sudah menipis.”
“Kenapa belum bisa diproses?” tanyaku.
“Masalah harga. Pihak pemasok menaikkan harga. Saya tidak bisa memutuskan kalau belum lapor sama Akang.”
“Berapa harga yang mereka tawarkan?”
“Dua kali lipat.”
“Apa tidak salah mereka menawarkan harga? Kita cari pemasok lain yang menawarkan lebih murah dengan kualitas yang sama. Saya tidak suka mereka mempermainkan harga.”
“Berarti kita harus mencari lagi pemasok yang baru, sedangkan waktu yang kita punya mepet karena stok juga sudah menipis.”
“Boleh aku memberikan kartu nama?”
Perempuan itu ternyata belum pergi. Dia berjalan mendekatiku dan memberikan selembar kartu nama.
“Ternyata kita memang berjodoh,” ucapnya terdengar santai.
“Apa maksud Anda?”
“Maaf jika tadi aku menguping pembicaraan kalian. Aku mendengar kalau kamu sedang membutuhkan pemasok biji kopi. Aku bisa jadi pemasok itu.”
“Anda penjual biji kopi?”
Perempuan itu mengangguk. “Bukan sekadar penjual biasa tapi penjual besar. Kamu akan beruntung jika berniaga denganku.”
“Berapa harga yang Anda tawarkan? Jika memang harganya masuk, tentu saja saya akan setuju berniaga dengan Anda.”
“Bisa kita berbicara di tempat yang lebih privat?” tanyanya dengan mata mengerling.
“Saya tidak terbiasa berbicara berduaan saja dengan perempuan. Lebih baik kita bicarakan saja di sini. Kalau Anda tidak bersedia kemungkinan saya tidak akan menerima tawaran dari Anda.”
“Baiklah. Kita bicara di sini.” Perempuan itu menurutiku.
Setelah setengah jam kami berdiskusi, diputuskan bahwa perempuan itu akan menjadi pemasok biji kopi yang baru. Aku tidak menyangka eksportir seperti dia mau berjual beli dengan pemilik cafe kecil sepertiku. Mudah-mudahan aku tidak salah memilih pemasok kali ini.
__ADS_1
“Man, siapkan surat perjanjian dengan Bu Evangeline.”
“Sudah, Kang. Suratnya sudah saya siapkan. Saya tinggal mengganti nama pemasok saja. Kalau ketentuannya sama saja.”
“Silahkan dibaca surat perjanjiannya Bu Evangeline.” Aku menyodorkan surat perjanjian yang akan ditandatangani kami berdua sebagai pihak pertama dan kedua.
Perempuan itu langsung menandatangani tanpa membaca terlebih dahulu berkas perjanjiannya.
“Anda tidak membaca dulu dan langsung menandatanganinya? Anda tidak khawatir jika perjanjian ini akan merugikan Anda?”
Perempuan itu menggeleng. “Aku percaya sama kamu.”
Huh, tadi saya dia bersikeras bahwa aku adalah laki-laki yang sudah menyakiti adiknya dan tidak percaya dengan ucapanku. Sekarang dia langsung percaya padaku. Dasar perempuan aneh.
“Belum lebih dari satu jam, Anda menuduh saya atas perbuatan yang tidak saya lakukan dan Anda tidak percaya bahwa saya tidak bersalah walaupun adik Anda sudah mengatakannya pada Anda berkali-kali.”
Perempuan itu tertawa. “Lupakan yang tadi. Sekarang kita pikirkan saja yang ada di masa depan kita. Senang berbisnis dengan kamu dan… jangan panggil aku dengan sebutan Bu. Kesannya sudah tua. Panggil saja namaku, Angel.”
Dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku.
“Senang juga berbisnis dengan Anda. Terima kasih atas kesediaan Anda untuk memasok biji kopi berkualitas untuk cafe saya.”
Dia tersenyum manis dan masih belum melepaskan jabatan tangannya.
“Maaf, Bu.” Aku berusaha untuk melepaskan tanganku.
“Baiklah, Angel.”
Dia melepaskan tangannya lalu mengecup pipi kanan dan kiriku.
“Bonus dariku,” ucapnya dengan tatapan mata yang terlihat menggoda. Huh, apakah aku memang tergoda degan kerlingan matanya? Aku beristighfar berkali-kali dalam hati.
“Dasar perempuan gila.” rutukku dalam hati.
Setelah membuatku terkejut dengan ciumannya, ia melenggang santai keluar dari cafe. “Sampai jumpa lagi.” kata perempuan itu hampir berteriak.
Kulihat jam tangan di pergelangan tangan yang menunjukkan hampir jam satu siang. Aku segera bergegas untuk melaksanakan salat zuhur. Setelah selesai, aku mengintruksikan kepada Firman untuk menghandle semua urusan cafe hari ini.
Segera kunyalakan motor dan menancap gas agar segera tiba di kediaman kakak Alena. Sudah dipastikan aku akan terlambat datang ke acara. Kurasakan nada getar ponsel yang kusimpan di saku celana. Pasti Teh Iyah yang menghubungiku.
Aku sudah pasrah menerima amarah dari Teh Iyah dan keluarga Alena. Aku yang meminta mereka untuk membantu dalam acara lamaranku tapi aku malah terlambat datang.
Kupacu motor secepatnya tanpa melanggar peraturan lalu lintas. Walaupun aku ingin cepat sampai tapi keselamatan diri dan orang lain lebih penting.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Kagendra, debar jantungku semakin bertalu-talu hingga membuat kepalaku pusing. Aku harus ekstra hati-hati dalam mengendarai motor karena bisa saja akibat kerja jantung yang tidak normal bisa membuatku terlibat dalam kecelakaan lalu lintas.
__ADS_1
Memasuki komplek rumah Kagendra dan Teh Iyah, debaran jantungku semakin menggila. Kutarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kuulangi berkali-kali sampai kegilaan debaran jantungku mereda.
Kulihat jam di pergelangan tangan, tepat jam dua. Aku menghentikan laju motor tepat di depan rumah Kagendra. Segera kuparkirkan motor di dalam garasi. Beruntung masih ada sedikit tempat untuk menyimpan motor.
Setelah dirasa sedikit tenang aku pun melangkahkan kaki memasuki rumah yang akan menjadi tempat yang bersejarah karena disinilah aku akan mengikrarkan perasaanku dan melamar Alena di hadapan keluarganya. Mudah-mudah Allah melancarkan dan memudahkan usahaku.
Aku berlari menuju pintu depan dan langsung masuk ke dalam rumah karena kulihat pintunya terbuka. Semua keluarga Alena sudah hadir dan kulihat Teh Iyah memandangku dengan sorot mata tajam.
Seketika jantungku berdetak kencang tak terkendali. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskanya dengan perlahan. Kuucapkan banyak doa di dalam hati.
“Atep! Kamu kemana saja? Kenapa datang terlambat?” Teh Iyah menghampiriku sambil berteriak. Tangannya sudah siap-siap untuk menjewer telingaku.
“Maaf Teh, tadi ada masalah di cafe yang harus segera di selesaikan,” jawabku tergesa.
“Masalah sepenting apa sampai mengakitbatkan kamu datang terlambat, hah?” tanya Teh Iyah dengan nada tinggi.
“Jangan marah-marah, nanti dede bayinya ketakutan sama suara cempreng kamu,” sela Kagendra yang khawatir dengan istri dan anak-anak yang masih ada dalam perut istrinya.
“Habisnya kesal. Ini anak memang hobi bikin Iyah kesal,” kata Teh Iyah pada suaminya. “Kalau bukan adik sendiri, sudah Iyah pukul sampai babak belur.”
Aku terkekeh mendengar ancaman Teh Iyah.
“Bagaimana, Teh?” Aku bertanya pada Teh Iyah sambil menatapnya.
“Jangan menatap istri orang terlalu lama!” hardik Kagendra, seorang pria pencemburu akut.
“Ih…apa-apaan sih?” Teh Iyah memukul lengan suaminya dan dibalas oleh pelukan erat dari sang suami.
“Lepasin! gerah!” Teh Iyah mencoba melepaskan diri dari pelukan Kagendra tapi suaminya itu malah menghujani wajah Teh Iyah dengan ciuman.
“Dasar suami norak,” rutukku dengan suara rendah hampir berbisik tapi sepertinya masih terdengar oleh Kagendra.
“Biarin. Makanya cepat nikahi si Lena,” cibir Kagendra.
“Segera. Kalau bisa hari ini menikah, langsung saya nikahi,” jawabku tegas yang dibalas dengan tawa kakak laki-laki dari perempuan yang aku cintai.
Aku segera berlalu dari pasangan berbahagia itu. Masih terdengar suara mereka yang sedang beradu mulut.
Aku masuk ke ruang tengah, dimana semua keluarga Alena sedang berkumpul. Dia di sana. Aku melihat dia, sangat cantik dan terlihat elegan dengan balutan gamis berwarna lembut. Terlihat sangat cantik di mataku.
“Len,” kupanggil namanya pelan.
Dia berbalik dan menatapku.
*******
__ADS_1
to be continued...