Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
69. Cinta Pandangan Pertama


__ADS_3

Atep POV


Aku sedang mengingat pertemuan dengan Alena dua hari yang lalu. Walau tidak terucap kata cinta dari mulutnya tapi aku yakin dia mencintaiku. Dari raut wajahnya ketika melihatku mengobrol dengan perempuan di kantin, aku tahu kalau dia marah karena dia cemburu.


Saat itu aku pura-pura tidak menyadari kehadirannya padahal sejak dia masuk ke kantin lalu memesan minuman aku sudah mengawasinya. Dia yang merajuk terlihat menggemaskan tapi tidak ketika dia marah dan memukuli. Pukulannya cukup keras dan aku harus mengoleskan salep agar memar-memar di tubuhku tidak terlalu sakit.


Tok…tok…tok…


“Punten, Kang. Ada Bu Evangeline.”


“Saya tidak ada janji dengan dia.”


“Jadi bagaimana, Kang?”


“Ya sudah, suruh masuk saja.”


Perempuan bernama Evangeline itu dengan santai masuk ke ruanganku. Pakaiannya cukup terbuka membuatku harus menundukkan pandangan.


“Hai, Atep.”


“Selamat siang, Bu Evangeline.”


“Angel. Sudah berulang kali aku bilang sama kamu kalau aku ingin dipanggil Angel.”


“Baiklah Angel. Ada keperluan apa anda kemari? Apa ada masalah dengan perjanjian kita?”


“Tidak ada. Aku ingin bertemu dengan kamu. That’s it.”


“Kita sudah bertemu. Lalu?”


“Aku ingin makan siang sama kamu.”


“Maaf. Saya tidak bisa makan siang bersama Anda.”


“Kenapa?”


“Saya ada janji makan siang dengan orang lain.”


“Tapi aku sudah ada di sini, di hadapan kamu. Apa kamu tega membiarkan aku makan siang sendirian?”


“Ini bukan masalah tega atau tidak tega.”


“Kalau begitu, ajak aku untuk makan siang bersama orang yang telah kamu beri janji untuk makan siang bersama.”


“Tidak bisa.”


Sebenarnya aku tidak ada janji makan siang bersama orang lain. Aku hanya membuat alasan yang masuk akal saja untuk menolaknya. Tapi sepertinya Evangeline ini tipe wanita yang keras kepala dan suka memaksakan kehendak.


“Kenapa tidak bisa? Jangan-jangan kamu hanya membuat alasan saja untuk menolak makan siang bersama denganku.”


“Nah itu Anda sudah tahu.” jawabku santai tanpa khawatir menyinggung perasaannya.


“Aku bersikeras untuk makan siang bersama kamu. Kita makan siang di sini saja. Menu apa yang reccomended?”


Dengan engan, aku mengiyakan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


“Kita makan di sini. Di ruangan kamu.”


“Tidak. Kita akan makan seperti pengunjung yang lainnya.”


Aku keluar dari ruangan kemudian Evangeline mengikutiku. Kami duduk di balkon.


“Silahkan duduk.” aku menyerahkan daftar menu pada Evangeline.


“Kamu suka memasak?”


“Tidak.”


“Kenapa membuka usaha cafe?”


Rasanya ingin menjawab bukan urusan dia, tapi aku masih menjaga kesopanan.


“Hanya usaha ini yang terpikirkan oleh saya.” jawabku asal.


“Usaha apa lagi yang kamu miliki?”


“Tidak ada.”


“Kamu berminat untuk berbisnis bersamaku?”


“Bukannya kita sedang berbisnis bersama. Anda adalah pemasok bahan untuk cafe saya.”


“Maksudku untuk membuka dan menjalankan sebuah bisnis bersama.”


“Sepertinya saya tidak berminat. Saya harus fokus pada cafe ini.”


“Kamu bisa membayar jasa profesional untuk mengelola cafe.”


“Aku ingin kita punya bisnis bersama.”


“Tapi saya tidak berminat.” Aku menolaknya tanpa basa basi.


“Baiklah. Sekarang mungkin kamu tidak tertarik, tapi nanti kamu pasti tertarik. Siapa sih yang tidak mau memiliki banyak bisnis yang menghasilkan banyak uang.”


“Saya. Saya tidak berambisi untuk memiliki banyak bisnis. Bagi saya, satu tempat usaha saja sudah cukup dan yang terpenting sudah cukup untuk membiayai keluarga saya.”


“Kamu sudah menikah?”


“Belum,” jawabku jujur.


“Bagus.”


“Tapi sebentar lagi saya akan menikah.”


“Aku suka sama kamu.”


“Haaaah….”


“Aku suka pria dengan karakter seperti kamu.”


“Terima kasih sudah menyukai saya. Tapi maaf, saya sudah memiliki calon istri.”

__ADS_1


“Masih calon kan. Masih terbuka kesempatan bagiku untuk memiliki kamu.”


“Dasar gila.” Aku berkata dengan suara rendah dan langsung meninggalkannya.


“Tunggu Atep!” Dia berteriak memanggilku.


Sepertinya aku harus mengkaji ulang untuk bekerjasama dengan wanita gila seperti dia.


Aku berjalan cepat untuk masuk ke dalam ruanganku.


Sepertinya dia mengejar dan sekarang dia berada di ruanganku.


“Untuk apa Anda mengikuti saya?”


“Kenapa kamu meninggalkanku?”


“Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan lebih lanjut. Saya tidak berkenan dengan apa yang tadi Anda katakan.


“Apa menurutmu aku tidak cukup cantik untuk menjadi pasangan kamu?”


Aku menghela dan menghembuskan nafasku dengan keras.


“Anda sangat cantik. Tapi menurut saya, Anda bukan pasangan yang tepat bagi saya. Anda berhak mendapatkan pria yang lebih baik dibandingkan saya.”


“Aku menginginkan kamu.”


“Kita baru bertemu dua kali. Tidak mungkin Anda menginginkan saya dari intensitas pertemuan yang baru terjadi dua kali.”


“Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. It’s called love at first sight. I fell in love with you at first sight.”


“Omong kosong.” dengusku.


“You don’t believe love at first sight?”


“Nope.”


“Tapi itu kenyataannya. I love you. I fall in love with you at first sight. Kamu boleh tidak percaya but it’s true.”


“Sudahlah.” aku membalikkan tubuh untuk menjauh darinya.


Greb…


Dia memelukku dari belakang.


“Lepaskan saya, Evangeline.”


Aku berusaha melepaskan pelukannya. Susah payah aku melepaskan diri karena pelukannya cukup kuat juga.


“Atep…..”


“Astaghfirulloh….”


Kubalikkan tubuh dan melihat dua perempuan sedang menatapku tajam.


“Lena…Teh Iyah….”

__ADS_1


***********


to be continued...


__ADS_2