
Alena POV
Rasanya ingin memaki Atep yang sudah seenaknya mengataiku, tetapi kenyataannya memang aku tidak bisa. Ya sudahlah, untuk sementara aku tahan dulu rasa marah demi dua keponakan baruku.
“Belum pernah coba buat sih, tapi aku pasti bisa kalau kamu ajarin aku.”
“Sekarang bukan waktunya belajar. Kamu tidak lihat mereka sudah menangis kejer seperti itu.”
“Tapi aku gak bisa gendong mereka bersamaan. Aku gak berani, takut mereka jatuh.”
Kemudian Atep mengambil Upin dari atas Kasur dan meletakkannya di lengan kananku.
“Pegang yang benar.”
Lalu Atep menggendong Upin yang masih menangis keras dan meletakkannya di lengan kiriku.
“Nah, sudah. Goyangkan badan kamu pelan-pelan ke kanan dan ke kiri.”
Piawai juga dia.
“Kamu tunggu sebentar. Aku buatkan susu buat mereka.”
__ADS_1
Beruntung Atep sudah membawa termos berisi air panas dan botol-botol susu ke kamar bayi sehingga aku masih bisa melihatnya. Aku tidak berani membayangkan kalau dia pergi ke dapur dan meninggalkanku bersama dua bayi kembar yang menangis.
Setelah beberapa saat, Atep membawa dua botol berisi susu lalu mengambil Ipin dari gendonganku dan mengasongkan botol berisi susu.
“Kamu gendong Upin, aku yang gendong Ipin.”
Kami berdua terlihat seperti orangtua yang baru memiliki anak. Kami bekerja sama untuk memberi yang terbaik untuk keponakan kami.
“Lucu juga panggilan mereka. Upin dan Ipin.” Aku terkekeh membayangkan duo kembar berkepala plontos, karakter utama dari serial anak-anak populer asal negeri jiran. Sejak aku masih anak-anak sampai usia dewasa sekarang, Upin dan Ipin tidak tumbuh besar. Mereka masih tetap bersekolah di taman kanak-kanak.
“Kalau nanti kita punya anak kembar, mungkin seperti ini.”
“Hm…”
Aku menggeleng.
“Kenapa tidak mau?”
“Ribet. Lihat saja sekarang. Kita berdua kepayahan mengurus mereka.” tunjukku pada Upin dan Ipin.
“Ribetnya memang double tapi pasti bahagianya juga double. Iya kan?”
__ADS_1
“Gak tau ah. Menikah saja belum, sudah membicarakan tentang anak. Lagian kembar atau tidak itu urusan Yang Maha Kuasa. Si Arfan dan Arfin yang kembar saja, anak mereka tidak kembar. Kamu masih ingat sama sepupuku yang kembar itu kan?”
Atep mengangguk sebagai jawaban.
“Jadi urusan anak kembar atau tidak kembar, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita fokus saja sama Upin dan Ipin. Kasihan mereka, belum kenyang minum ASI sudah harus minum susu formula.”
“Coba kamu bicara lagi sama Teh Iyah. Bujuk dia agar mau menyusui bayi kembarnya.”
“Sudah tadi pagi. Aku sodorkan Upin, Teh Iyah langsung menangis histeris dan berteriak-teriak memanggil Aras dan Aris.” Aku ceritakan pengalamanku tadi pagi saat berusaha membujuk Teh Iyah.
“Kita harus bagaimana, Len. A Endra juga susah dihubungi.”
“Aku juga bingung. Ibu juga gak bisa menolong banyak karena harus menjaga Aki yang kesehatannya menurun akibat mendengar kabar penculikan Aras dan Aris.”
Dengan kondisi yang tidak menentu seperti ini, aku dan Atep memutuskan untuk mengundur pernikahan kami. Wajar jika aku kecewa dengan keputusan ini, tapi aku tidak akan pernah bahagia menggelar pernikahan disaat keluarga kakakku dalam kondisi terpuruk.
Abah dan ibu mengusulkan agar aku dan Atep menikah di KUA saja dulu yang terpenting sah dan untuk urusan resepsi bisa dijadwal ulang. Namun, aku ingin Aa dan Teh Iyah dan seluruh keluargaku menyaksikan pernikahanku dengan perasaan bahagia.
Aku pun yakin Atep tidak ingin melangsungkan niat untuk menikahiku disaat Teh Iyah terpuruk. Aku tahu Teh Iyah adalah cinta pertamanya dan dia sangat menyangi Teh Iyah-sekarang murni rasa sayang adik kepada kakaknya. Jadi, melangsungkan pernikahan baik itu pernikahan yang hanya tercatat di KUA ataupun dengan resepsi adalah sesuatu yang mustahil dilaksanakan saat ini.
Aku percaya jika aku memang berjodoh dengan Atep, kami akan menikah sesuai dengan waktu yang memang sudah Allah tentukan dan catat di lauh mahfudz.
__ADS_1
********
to be continued...