
Alena POV
“Ulang tahun kamu kapan?” tanyanya tiba-tiba.
“Buat apa kamu tahu?” kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.
“Mau kasih kado. Boleh kan?”
“Terserah kamu.”
“Kamu sukanya apa?” tanyanya lagi.
“Maksudnya?”
“Kamu itu, setiap pertanyaanku kamu jawab lagi dengan pertanyaan,” protesnya.
“Habisnya pertanyaan kamu gak jelas.”
“Aku perjelas lagi. Aku kan mau kasih kamu kado buat kamu. Kamu mau dikasih kado apa?”
“Ya terserah kamu saja.”
“Aku khawatir kalau kamu tidak suka kado yang aku pilih kalau kamu bilang terserah.”
“Ah ribet kamu mah. Tidak usah kasih kado saja,” gerutuku.
“Bagaimana kalau aku berikan cin… eh…beri kamu… Hm...” Dia sedikit tergagap.
“Kamu mau kasih kado cinta? gak usah. Gak perlu!” ketusku.
Dia terkekeh mendengar nada bicaraku yang ketus.
“Mau kamu terima. Perlu atau tidak. Aku tetap akan memberikan cintaku buat kamu.”
“Gombal.”
“Aku gak gombal. Aku serius dengan ucapanku.”
“Sejak kapan kamu cinta sama aku?” tanyaku penasaran. Karena sejak pertama kami bertemu, sangat jarang kami tidak berdebat atau bertengkar.
“Aku juga tidak menyadari sejak kapan aku mulai suka sama kamu tapi yang pasti setelah pertama kali kita bertemu. Kamu sering hadir dalam pikiranku. Awalnya aku pikir kalau aku tidak suka sama kamu tapi semakin lama kita berinteraksi, semakin sering kamu hadir dalam pikiran dan mengganggu hari-hariku.”
“Kamu pintar menggombal juga,” kataku sinis.
“Kan sudah kubilang kalau ini bukan gombalan tapi isi hatiku yang sebenarnya.” Sepertinya dia jujur dengan perkataannya tapi aku masih malu untuk mengakui isi hatiku juga.
__ADS_1
“Kalau kamu suka sama aku, kenapa kamu selalu membuat aku jengkel dan marah?” tanyaku ketus.
“Hm… mungkin karena aku cari perhatian sama kamu. Supaya kamu terus memikirkan aku.”
“Ish, seenaknya bikin jengkel orang. Kamu pikir aku tidak capek meladeni kamu yang menjengkelkan?”
“Tapi sepertinya strategiku berhasil.”
“Maksud kamu?”
“Karena aku sering buat kamu jengkel, kamu jadi sering memikirkan aku. Karena sering memikirkan aku, kamu jadi suka juga sama aku. Iya, kan?” pernyataannya mengagetkanku.
“Siapa yang bilang aku sering memikirkan kamu? Jangan mengkhayal dan mengarang bebas!” kataku kesal. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
“Teh Iyah yang bilang,” jawabnya.
“Haaaa…Teh Iyah?” Aku terkejut mendengar jawabannya. Bagaimana bisa Teh Iyah ngomong begitu. “Mana ada Teh Iyah tahu apa yang aku pikirkan?”
Duh, Teh Iyah kok bisa-bisanya sih ngomong begitu sama si Atep? Aku gak pernah bilang isi hatiku sama Teh Iyah. Untung saja aku tidak curhat sama Teh Iyah kalau aku juga mulai suka sama Atep. Kalau sampai aku cerita bisa-bisa Teh Iyah bikin heboh. Aku tidak memberitahu saja, Teh Iyah sudah bisa membaca isi hatiku.
“Kamu kaget ya kenapa bisa Teh Iyah bilang seperti itu?” Dia terkekeh lalu melanjutkan perkataannya. “Teh Iyah bilang kalau kamu sering curhat sama keluargamu tentang mahasiswa menyebalkan yang kamu bimbing. Itu aku kan?”
“Kita pulang. Mungkin Aras dan Aris sudah siap.” Aku mengalihkan pembicaraan tentang hal yang sensitif ini dan mengajaknya pulang.
Sesampainya di rumah, alih-alih melihat Aras dan Aris yang sudah siap kulihat drama keluarga dimana Aris sedang menangis dan kakakku yang sedang marah.
Kulihat Aris sedang terisak sambil menundukkan kepala.
“A…” Aku memanggil kakakku lirih.
“Jangan ada yang membujuk Aris!” tegas kakakku ditujukan pada kami semua yang ada di ruangan.
Kulihat Teh Iyah berusaha menahan tangisnya. Sepertinya Teh Iyah tidak berani menginterupsi kakakku yang sedang marah pada Aris.
“Aras, kamu duduk saja di situ!” ucap kakakku tajam ketika Aras hendak mendekati Aris.
Aras kembali duduk dalam diam.
Mendengar titah ayahnya agar tidak boleh ada seorangpun yang mendekati dan membujuknya membuat tangis Aris semakin keras.
Lalu kakakku beranjak untuk menaiki tangga lalu Aris berlari menghampiri dan memeluk kaki kakakku sambil terus menangis tapi kakakku tidak mengindahkannya dan terus saja melangkah menaiki tangga diikuti oleh Aris yang menarik-narik bagian bawah kaos kakakku.
“A….” panggilku. Aku khawatir pada Aris.
Aku sudah melangkah untuk naik tangga mengikuti Aris dan kakakku tapi Teh Iyah menarik lenganku.
__ADS_1
“Biarkan saja, Len. Aa sedang mendisiplinkan Aris. Sejak tadi Aris susah disuruh mandi. Kamu tahu sendiri kan bagaimana disiplinnya kakak kamu.” Teh Iyah berkata sambil menyeka air mata.
Aku bisa merasakan kesedihan seorang ibu pada diri Teh Iyah. Aku salut pada Teh Iyah karena sanggup menahan emosinya untuk tidak bertentangan dengan kakakku dalam mendidik anak-anak mereka.
Aku masih mendengar tangisan Aris yang terus merajuk tapi aku tidak mendengar sepatah kata pun dari kakakku.
“Kita jadi pergi atau batal?” bisik Atep padaku.
“Ish, lagi suasana seperti ini masih saja tanya jadi atau enggak.” Aku menatapnya tajam.
Dia langsung menutup mulut setelah mendengar ucapanku.
Setelah membuatnya bungkam, aku naik menuju kamarku untuk berganti pakaian dan memoleskan make-up senatural mungkin. Tidak kusangka aku bisa berbuat seperti ini. Berdandan demi dia. Cih, bisa-bisanya aku bertindak sebodoh ini. Apa aku mulai menyukai dia? Ah sepertinya memang aku menyukainya karena kulihat senyum bahagia seorang perempuan dari cermin di hadapanku.
Setelah beberapa saat, tangis Aris mereda. Setengah jam kemudian, Aris turun bersama ayahnya dalam keadaan sudah mandi.
“Kalau disiplin, nurut sama Ayah kan tidak perlu ada drama segala,” kataku pada Aris yang dibalas dengan mulut manyunnya.
“Mau berangkat sekarang?” tanya Atep.
“Aras, Aris kita pergi sekarang,” ajakku pada si kembar.
Aras meletakkan buku yang sedang dibacanya dan Aris melepaskan pegangan tangan ayahnya.
“Kalian hati-hati di jalan. Aras dan Aris jangan nakal, nurut sama Mang Atep dan Tante Lena,” titah Teh Iyah pada si kembar.
“Iya, Bu!” jawab Aras dan Aris kompak.
Aras dan Aris mencium tangan Teh Iyah dan A Endra, diikuti olehku dan Atep. Kami berempat naik mobil kakakku yang disupiri oleh Atep. Aku duduk di kursi penumpang di sampingnya, dan duo krucil duduk di kursi belakang.
Sesampainya di T Studio, kami langsung menuju tempat wahana permainan. Aras dan Aris langsung menaiki wahana permainan favorit mareka. Sedangkan kami berdua menunggu mereka bermain sambil sibuk dengan ponsel kami masing-masing.
Sebenarnya aku tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini tapi yang pasti aku berpura-pura sibuk dengan ponselku untuk menghindari dia. Aku tidak ingin mengobrol dengannya di sini yang mungkin akan berujung pada perdebatan.
“Len, saya ke toilet dulu. Kamu tunggu di sini,” pamitnya padaku yang kujawab dengan anggukan.
“Jangan terlalu fokus sama hape kamu. Awasi Aras dan Aris! Mereka tanggung jawab kita. Jangan sampai terjadi apa-apa sama mereka karena kelalaian kita.”
Aku mendongakkan kepala.
“Iya,” jawabku singkat lalu kembali memantengi layar ponselku.
“Jangan iya iya saja tapi itu mata fokusnya sama ponsel lagi,” sindirnya.
“Iya. Cerewet.” Aku beranjak dari tempat dudukku menjauh darinya. Mendekati lokasi Aras dan Aris yasng sedang asyik menaiki roller coaster mini untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
**********
to be continued......