Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
47. Kenal


__ADS_3

Atep POV


Jam tujuh pagi, aku sudah ada di rumah Teh Iyah untuk menjemput Alena, Aras dan Aris.


Semalam setelah selesai acara di cafe, aku pulang ke kontrakkanku lewat tengah malam. Ya, aku memang masih mengontrak karena belum mampu untuk membeli rumah. Aku baru memiliki sebidang tanah saja di pinggiran kota Bandung.


Uang tabunganku habis untuk membangun cafe di atas tanah warisan dari ayahku. Untuk membangun cafe saja, aku masih memiliki utang pada Teh Iyah yang masih kucicil tiap bulannya. Teh Iyah sih bilang kalau aku tidak usah mengembalikan uang yang diberikannya tapi aku merasa tidak enak jika harus menerima uang secara cuma-cuma.


Biasanya jika ada acara di cafe hingga larut malam, aku selalu menginap di cafe. Ada kamar khusus yang memang aku siapkan sebagai tempat jika aku malas pulang ke rumah. Namun, khusus untuk malam tadi, aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena aku perlu menyiapkan diri untuk pertemuan kami hari ini.


Rumah kontrakkanku sangat kecil dan minimalis. Hanya ada satu kamar tidur, kamar mandi, dapur dan ruang untuk menerima tamu dengan halaman yang seadanya cukup untuk parkir motor saja.


Sebenarnya aku merasa rendah diri terhadap Alena. Alena perempuan yang cantik dengan karir yang cemerlang. Dia berasal dari keluarga yang berada dengan harta yang berlimpah. Sejak masa kanak-kanaknya pasti Alena tidak pernah merasa kekurangan baik itu kasih sayang maupun materi.


Aku khawatir juga jika memang ia berjodoh denganku apakah ia akan bisa menerimaku? Apakah ia akan bisa menerima hidup sederhana bersama denganku?.


Apa keputusanku untuk menerima dan meneruskan perjodohan yang diiniasi oleh Teh Iyah ini sudah tepat?


Kalau dipikir-pikir, aku adalah manusia yang tidak tahu diri. Sudah sadar kualitas diri seadanya tapi tetap saja memaksakan diri untuk mendapatkan Alena.


Aargh… sudahlah, aku serahkan saja semuanya pada Yang Kuasa. Aku yakin Allah akan mencukupkan rezeki untuk tiap-tiap hamba-Nya. Jadi kekhawatiranku tentang masalah materi bisa kukesampingkan.


Sekarang yang harus aku perjuangkan adalah bagaimana caranya agar Alena bisa menerima dan mencintaiku. Sepertinya inilah bagian yang tersulit. Aku merasa masih ada rasa benci dalam diri Alena terhadap diriku.


Memang salahku dari awal yang mengobarkan genderang peperangan di antara kami. Sikapku di awal sangat tidak memberikan kesan yang baik di hadapan Alena. Sikapku yang terlampau dingin dan cuek memang salah satu kelemahanku. Aku tidak biasa bersikap manis pada orang yang baru saja aku kenal.


Ah, jangankan pada orang yang baru kenal, pada orang yang sudah lama kenal saja aku sering bersikap dingin dan acuh. Terkecuali pada Ibu, kakak, Teh Iyah, Aras dan Aris. Aku akan bersikap manis hanya pada mereka.


Sekarang bertambah orang yang akan aku berikan perhatian lebih dan kuperlakukan juga dengan manis. Orang itu adalah Alena. Mengingat hari ini akan menjadi hari kedua aku bisa jalan bersama dengannya membuat debaran jantungku bertalu-talu. Walaupun ada Aras dan Aris yang akan jadi obat nyamuk bakar nantinya, tapi dengan adanya mereka aku jadi bisa membayangkan gambaran keluarga bahagia dengan dua oang anak.


Teh Iyah sedang berjemur di halaman depan sambil berolahraga ringan ketika aku sampai di rumahnya.


“Assalamu’alaikum, Teh,” sapaku ketika memasuki gerbang rumah.


“Wa’alaikumsalam… pagi-pagi udah nongol aja. Gak sabar mau ngedate sama Lena, huh?” goda Teh Iyah.


“Teteh bisa aja. Kan Teteh yang minta supaya Atep lebih mengenal Lena,” jawabku santai.


“Eh, kok kalian bisa sih langsung akrab begitu. Terus sepertinya Lena rada-rada ketus sama kamu. Sepertinya kamu pernah ada salah sama dia. Kalian sudah kenal sebelumnya?” selidik Teh Iyah.


Aku menggaruk-garuk tengkuk untuk menghilangkan rasa gugup.


“Eeeeh…itu…sebenarnya kami sudah saling kenal sih.”


“Kenal di mana?” Teh Iyah menarik tanganku untuk mengikutinya duduk di kursi taman.

__ADS_1


“Itu, Lena itu dosen pembimbingnya Atep,” jawabku pelan.


“Haaaa…” teriak Teh Iyah.


“Jangan teriak-teriak, Teh.” Aku malu karena akhirnya Teh Iyah mengetahui bahwa Alena itu dosen pembimbingku.


“Aa… sini!” Teh Iyah memanggil suaminya yang baru saja pulang dari kegiatan lari paginya.


“Ada apa?” Kagendra, suami Teh Iyah ikut duduk di kursi taman.


“Aa tau gak? Ini sih Breaking News, A. Hot News!” seru Teh Iyah


“Tahu apa? Bagaimana bisa tahu kalau kamu gak bilang.” tanya Kagendra mengernyitkan dahinya.


“Iiiih si Aa mah… makanya dengerin Iyah baik-baik.”


Kulihat Kagendra menghela nafasnya kasar. Aku tahu ia sedikit kesal dengan kecerewetan istrinya tapi ia berusaha tidak memperlihatkan kekesalannya. Kulihat ia malah tersenyum manis pada Teh Iyah.


Aku bersyukur Teh Iyah sudah mendapatkan kebahagiaannya bersama laki-laki yang dicintainya. Sekarang aku sudah benar-benar ikhlas melepaskan Teh Iyah dari hatiku. Aku bahagia melihat kebahagiaan Teh Iyah.


“Sok atuh cerita.”


“Iiih si Aa mah gak sabaran pisan. Tunggu atuh, Iyah mau tarik nafas dulu,” gerutu Teh Iyah.


Aku terkekeh melihat ekspresi sabar yang diperlihatkan Kagendra.


Teh Iyah mencubit lengan suaminya karena kesal.


“Kenapa main cubit segala?” protes A Endra.


“Makanya jangan banyak omong. Dengerin baik-baik yang mau Iyah omongin.”


Aku terkikik melihat seorang suami yang dimarahi istrinya.


“Aa tau gak? Dugaan kita sangat tepat. 100% tepat dan akurat. Lena itu dosen pembimbingnya Atep,” ungkap Teh Iyah.


“Terus?”


“Aeh aeh… si Aa mah gak ada ekspresi begitu,” gerutu Teh Iyah.


“Oh….”


“Iiih… kok cuma oh sih?”


“Ya terus Aa harus bilang apa? Atau Aa harus lompat-lompat atau guling-guling di tanah gitu?”

__ADS_1


Aku sudah tidak tahan menawan tawa, aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban A Endra.


“Iiiiih gak seru ah. Aa mah gitu. Nyebelin! Dedek-dedek bayi dalam perut Ibu. Nanti kalau sudah besar jangan nyebelin seperti ayah kalian ya. Kalian harus mirip sama Ibu. Jangan mirip sama ayah kalian.” Teh Iyah mengusap-ngusap perutnya yang terlihat menonjol.


A Endra kembali terlihat menghela nafas mendengar kata-kata dari Teh Iyah.


Kemudian Teh Iyah beranjak masuk ke dalam rumah meninggalkan kami.


“Tep, tuh kamu perhatikan Teteh kamu yang sedang merajuk itu. Nanti kalau kamu jadi nikah sama si Lena, sikap dia tidak akan jauh berbeda sama Teteh kamu. Jadi kamu harus sabar dalam menghadapi istri kamu terutama kalau nanti si Lena hamil, kamu harus ekstra sabar.” A Endra memberikan wejangan padaku yang hanya mampu kurespon dengan anggukkan.


“Teh Iyah tidak mengalami morning sickness?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan yang sudah mulai menjurus.


“Tidak tiap hari. Dari kehamilan pertama sampai kehamilan kedua kali ini, saya yang mengalami morning sickness,”


“Nikmati saja ngidamnya Teh Iyah. Mungkin sekarang Teteh akan sangat manja karena ketika hamil Aras dan Aris, Teteh menahan semua keinginan ngidamnya.” Aku menceritakan saat Teh Iyah hamil dulu.


“Hm…”


“Teh Iyah itu perempuan mandiri dan kuat. Saat Teh Iyah hamil dulu, dia juga ngidam dan banyak keinginan tapi Teh Iyah tidak ingin menyusahkan saya dan ibu saya sehingga dia menekan semua keinginannya. Sering dulu saya membelikan makanan yang kira-kira orang hamil sukai tapi Teh Iyah selalu bilang kalau dia tidak ngidam dan tidak ingin makanan yang aneh-aneh.”


“Maaf kalau dulu kamu jadi ikut susah,” ucap A Endra membuatku jati tidak enak hati.


Aku menggeleng.


“Saya menganggap Teh Iyah seperti kakak kandung. Ibu dan saya sangat menyayangi Teh Iyah. Jangan pernah menganggap Teh Iyah menyusahkan kami.”


“Hm...”


“Saya hanya berharap agar Teh Iyah selalu bahagia. Sekarang saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau Teh Iyah memang benar-benar bahagia berkumpul lagi dengan laki-laki yang selalu ia cintai. A Endra itu cinta pertama Teh Iyah. Makanya teteh benar-benar hancur ketika dulu harus meninggalkan A Endra,” ungkapku.


“Dulu aku memang laki-laki paling berengsek. Aku juga tidak habis pikir bagaimana bisa dulu aku jadi manusia berengsek dan menyia-nyiakan perempuan salehah seperti Iyah. Aku terlambat menyadari kalau saat itu aku sudah mencintainya dan ketika kesadaran itu datang, semuanya sudah terlambat. Aku bersyukur Allah memberikan kesempatan kedua untukku bisa bersama kembali dengan istri dan anak-anak.”


“Terima kasih karena mau memperjuangkan Teh Iyah.”


“Tidak… bukan kamu yang harus berterima kasih tapi aku yang seharusnya berterima kasih pada kamu dan ibu kamu. Karena kalau tidak ada kalian, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Iyah akan bertahan.”


“Jangan berterima kasih juga pada saya. Sudah menjadi kewajiban seorang adik laki-laki untuk melindungi kakak perempuannya.”


“Ya… itu juga yang akan aku minta sama kamu sekarang.”


“Maksudnya?” tanyaku heran.


Jangan-jangan...


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2