
Alena POV
Kulihat senyum Teh Iyah yang misterius ketika kukembalikan ponsel miliknya.
“Kenapa sih senyum-senyum gitu?” tanyaku pada Teh Iyah. Tidak tahan dengan senyumnya yang terlihat seperti ingin menggodaku.
“Ih, memangnya gak boleh senyum? Teteh ini lagi bahagia tau gak?”
“Gak.”
“Tanya dong bahagianya kenapa,” ucap Teh Iyah sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Aa kapan pulangnya, Teh?” Aku menanyakan tentang kakakkku untuk mengalihkan pembicaraan yang sepertinya menjurus ke arah perjodohanku dengan Atep.
“Jangan suka mengalihkan pembicaraan.”
Seperti yang sudah aku duga kalau Teh Iyah pasti menyadari kalau aku hanya mengalihkan topik pembicaraan kami.
“Mengalihkan pembicaraan apa sih, Teh? Lena kan cuma tanya tentang Aa. Besok kan acara ulang tahun Lena, tapi Aa belum ada disini.” Aku masih mencoba mengelak.
“Nanti malam Aa pulang sekalian menjemput Aki, Abah dan Ibu,” jawab Teh Iyah.
“Lho, aki, abah dan ibu juga datang?” tanyaku terkejut karena aku tidak menyangka kalau aki dan kedua orangtuaku akan hadir pada acara syukuran besok.
“Ya pasti datang lah. Masa mereka tidak datang ke syukuran ulang tahun kamu.”
“Ya kirain aja syukuran besok cuma kita-kita aja.”
“Gak mungkin lah kalau cuma kita-kita saja. Ini Teteh sudah merias rumah sedemikian cantiknya.” Teh Iyah mulai memindai ruangan yang sudah terlihat meriah ini. Ada balon-balon dan rangkaian bunga yang ditata secara apik. Sepertinya Teh Iyah benar-benar serius dalam mempersiapkan acara ulang tahunku.
“Teteh kok lebay kaya gini sih? Lena kan malu kalau ulang tahunnya dirayakan meriah seperti ini. Lena bukan anak remaja lagi yang akan merayakan sweet seventeen-nya. Dulu aja pas Lena umur 17 tahun gak dirayain secara meriah kaya gini,”protesku.
__ADS_1
“Memangnya dulu pas 17 tahun dirayainnya seperti apa?” tanya Teh Iyah.
“Dirayain di Raja Ampat sambil liburan keluarga,” jawabku.
“Yaelah, itu sih bukan sederhana tapi mewah. Biaya ke Raja Ampat jauh lebih mahal dibandingkan ini,” gerutu Teh Iyah yang mampu menerbitkan senyum di bibirku.
“Iya sih, he-he-he.
**********
Jam 10 malam, rombongan orangtuaku dan aki datang bersama dengan A Endra.
“Aki…” Aku menghambur memeluk kakek yang sangat kurindukan.
Aki tersenyum melihatku.
“Aki menunggu kabar baik dari kamu,” kurasakan Aki mencium puncak kepalaku.
“Ibu, ini ngapain sih ngerayain ulang tahun Lena sampai sebegininya. Kasihan Teh Iyah lagi hamil tapi sibuk ngurusin yang ginian.” Aku mencurahkan kegalauanku sejak kemarin.
Ibu hanya senyum mendengar protesku. Senyum yang sama seperti yang ditunjukkan oleh Teh Iyah. Senyum misterius. Sikap mereka yang seperti ini semakin membuatku penasaran dengan acara besok.
“Abah…” kemudian aku memeluk ayahku. “Itu Ibu sama Teh Iyah lebay,” aduku pada abah.
“Itu salah satu bentuk kasih sayang mereka sama kamu. Seharusnya kamu bersyukur Iyah mau bikin acara yang meriah buat kamu.”
“Tapi kan Lena sudah bukan remaja lagi.”
“Gak tiap tahun kan? Nikmati saja kasih sayang dari Teteh kamu.” ujar kakakku.
“Ya…ya…cuma Lena jadi gak enak sama Teh Iyah. Lagi hamil malah direpotkan begini.” kataku sambil menatap Teh Iyah.
__ADS_1
“Teh Iyah mah kalau hamil kuat kok. Dulu aja, Teteh bisa melahirkan Aras dan Aris walaupun tanpa didampingi suami.”
“Sayang, jangan mulai lagi deh.” Kakakku menatap Teh Iyah penuh dengan cinta dan penyesalan.
“Eh, maaf, A. Iyah gak bermaksud ngungkit masa lalu. Maksud Iyah untuk menjelaskan pada Lena kalau Iyah itu kuat. Itu saja.” Teh Iyah dan kakakku saling berpelukan.
“Maafin Aa karena sebelumnya tidak mendampingi kamu. Di kehamilan kamu sekarang, Aa berjanji akan mendampingi kamu dan selalu ada buat kamu. Kalau kamu memang ingin Aa terus di sini, Aa pindahkan dulu pekerjaan ke sini untuk sementara waktu.”
“Ih, gak usah lebay deh. Seperti ini juga sudah cukup. Iyah jadi istri weekends juga sudah bahagia kok,” kata Teh Iyah sambil terkekeh.
“Aa akan usahakan untuk bekerja sampai hari Rabu saja. Jadi dari kamis sampai minggu, Aa bisa di sini bersama kalian.”
Teh Iyah mengeratkan pelukannya pada kakakku. Ah, aku jadi ikut terharu melihat mereka yang saling mencintai seperti itu. Aku juga ingin mendapatkan cinta seperti cintanya Teh Iyah dan kakakku. Tapi aku tidak mau mengalami ujian cinta seperti mereka yang penuh dengan drama dan air mata.
***********
Jam 12 malam
Aku masih terjaga dan sulit untuk tidur padahal sudah berbagai cara aku lakukan agar aku bisa tertidur dengan cepat. Semua orang di rumah ini sudah masuk ke kamarnya masing-masing pada jam 9 tadi. Aku juga sebenarnya sudah masuk ke kamarku sejak jam 10 setelah menemani Teh Iyah menonton serial drama Jepang kesukaannya.
Dua jam aku berusaha untuk tidur tapi masih belum berhasil. Sepertinya alam bawah sadarku menunggu sesuatu terjadi pada jam 12 malam ini.
Benar saja. Tepat jam 12 malam ada sebuah pesan masuk dari dia. Ucapan selamat ulang tahun untukku.
Happy birthday…semoga usiamu berkah dan bahagia selalu…
Isi pesannya tidak panjang dan sangat sederhana. Hanya ucapan selamat ulang tahun dan doa agar aku diberikan umur yang berkah. Hal sederhana tapi mampu membuat hatiku dipenuhi dengan bunga-bunga di musim semi.
Tak lama setelah membaca pesannya, aku langsung terlelap.
*********
__ADS_1
to be continued...