Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
74. Kembar


__ADS_3

Alena POV


Baru saja aku menutup pintu mobil ketika kudengar teriak kesakitan dari Teh Iyah.


“Aaaaargh….sakit….”


“Kenapa, Teh?” Aku panik melihat Teh Iyah memegang perut sambil berteriak kesakitan.


“Perut Teteh sakit, Len.”


Aku segera membantu Teh Iyah masuk ke mobil.


“Tep, kamu yang nyupir! Kita langsung ke rumah sakit.” perintahku pada Atep sambil melemparkan kunci mobil padanya


“Teh Iyah kenapa, Len?”


“Perutnya sakit. Ini pasti gara-gara perempuan itu,” kataku kesal.


Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Teh Iyah dan keponakan-keponakanku, tidak akan kubiarkan perempuan itu hidup dengan tenang.


Ternyata skill menyupirnya tinggi juga. Atep lihai memacu mobil dengan kecepatan tinggi tapi tidak membuat kami menjadi tidak nyaman. Beruntung jalanan tidak terlalu macet karena belum waktunya jam pulang kantor.


“Masih jauh tidak?” teriakku pada Atep.


“Sebentar lagi sampai. Ke rumah sakit ibu dan anak yang biasa kan?”


“Iya! Jangan banyak tanya!” bentakku.


Setelah sampai di rumah sakit, aku segera berlari untuk mencari bantuan perawat.


Teh Iyah masih mengaduh kesakitan saat para perawat membawanya dengan menggunakan kursi roda.


“Gimana ini, Tep?”


Kulihat dia juga khawatir sampai tidak menjawab pertanyaanku.


Dokter keluar dari ruangan tempat Teh Iyah diperiksa.


“Bagaimana, Dok?”


“Pasien harus melahirkan sekarang.”


“Apa?” aku terkejut mendengar pernyataan dokter.


“Suaminya belum datang, Dok. Apa bisa ditunda sampai suaminya datang?” tanyaku.


“Pasien harus diberi tindakan sekarang juga. Saya khawatir kalau menunggu lebih lama, ibu atau bayinya tidak akan selamat.”


“Baik, Dok. Lakukan saja yang terbaik untuk Kakak saya.”


Aku menyuruh Atep untuk menyelesaikan administrasinya. Beruntung dokter yang biasa menangani Teh Iyah sedang berada di tempat sehingga bisa langsung menangani proses bersalinnya.


Aku menelepon orang rumah untuk menyiapkan perlengkapan dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Hampir saja aku lupa untuk mengabari A Endra.


“A, dimana?”


“Sebentar lagi keluar tol.”


“Langsung ke rumah sakit, A!”


“Ada apa? Siapa yang sakit?”


“Teh Iyah mau melahirkan.”


“Haaaa….bukannya bulan depan baru melahirkan.”


“Gak tau…pokoknya sekarang Teh Iyah sudah masuk ruangan bersalin.”

__ADS_1


Beruntung lokasi rumah sakit bersalin dekat dari gerbang tol sehingga tidak butuh waktu lama bagi A Endra untuk sampai. Mudah-mudahan saja tidak macet di gerbang keluar tol.


Aku berjalan mondar mandir di depan ruangan bersalin. Keringat dingin keluar dari pori-pori tanganku.


“Bagaimana, Len?”


“Teteh sudah masuk ke ruang bersalin.”


“A Endra sudah diberitahu?”


“Sudah.”


“Ini semua gara-gara perempuan itu. Kamu kenal dia di mana sih?” tanyaku kesal.


“Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku cerita sama kamu.”


“Sekarang saja. Nanti keburu basi kalau kamu ceritanya kapan-kapan.”


“Baik. Aku akan ceritakan awal aku bertemu dengannya.”


Kemudian mengalirlah cerita dari Atep bagaimana ia bisa mengenal dan akhirnya memiliki perjanjian bisnis dengan perempuan itu.


“Huh, dasar wanita iblis. Seenaknya memfitnah orang tapi malah jadi suka sama orang yang dia fitnah. Dasar wanita gila.”


“Tahan emosi kamu, Len. Tidak ada gunanya juga kamu marah-matah sama orang yang tidak ada di hadapan kamu. Nanti saja kalau berhadapan langsung sama perempuan itu, kamu lawan. Keluarkan kemampuan memukul dan menendangmu. Jangan bisanya memukuli aku saja. Apa kamu takut sama nenek lampir itu? Takut dicakar dan dijambak.”


“Eh, seenaknya saja kamu bilang kalau aku takut sama dia. Alena Damayanti tidak pernah takut apapun, apalagi cuma menghadapi wanita gila seperti dia. Lagian tadi aku udah mau mukul dia tapi kamu larang. Apa kamu juga suka sama cewek curut itu, hah?”


Kulihat Atep tertawa kecil. Sepertinya dia kesenangan karena aku cemburu. Eh, apa benar aku cemburu? Ih, menyebalkan.


“Awas kamu! Kalau sampai berani membela atau menerima dia lagi, aku putuskan pertunangan kita. Tidak ada tawar menawar.”


“Siapa yang mau menerima dia. Itu kan anggapan kamu saja.”


“Tapi tadi kamu tidak marah pas dia cium. Kamu juga suka dengan ciuman dia, hah?”


“Yaa Salam…pikiran dari mana itu, Len? Siapa yang suka sama dia? Itu cuma anggapan dari calon istri yang cemburu pada calon suami yang didekati oleh perempuan lain.”


“Oh, jadi aku ini milik kamu?”


“Eh, bukannya begitu, tapi….”


“Tapi apa?”


“Arrgh…! Pokoknya aku gak suka kalau perempuan itu dekat-dekat sama kamu. Aku mau kamu putuskan hubungan kerja sama kalian. Kalau kamu tidak berani untuk memutuskannya, kita yang akan putus!” ancamku.


“Baiklah, untuk calon istriku yang manis dan salehah ini, aku akan mengabulkan semua keinginan kamu.”


“Tunggu, tunggu! Aku jadi penasaran. Sebenarnya dari tadi aku ingin tanya ini sama kamu.”


“Tanya apa?”


“Kamu bukan kerja di cafe itu sebagai pegawai, kan? Kamu yang punya cafe itu?”


Dia mengangguk.


“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”


“Kenapa kamu tidak tanya?”


“Harusnya kamu kan yang bilang.” Aku kesal karena dibohongi.


“Aku sudah bilang kalau aku kerja di cafe.”


“Tapi kamu tidak bilang kalau kamu pemilik cafenya.”


“Kamu yang langsung memberi anggapan kalau aku pegawai di cafe.”


“Ya memang, tapi kan…”

__ADS_1


“Sudahlah, apapun posisi aku di cafe itu tidak akan mempengaruhi rasa sayang aku sama kamu. Ok?”


“Tau ah.”


Kami berdua duduk dengan hati tidak tenang karena lampu tanda operasi sedang berlangsung masih menyala.


Kulihat A Endra berlari menghampiriku.


“Gimana Iyah?” tanyanya dengan napas ngos-ngosan.


“Masih di dalam. Kenapa baru datang? Tadi bilang katanya bentar lagi sampe.”


“Pas mau keluar tol macet banget. Bagaimana ceritanya Iyah bisa melahirkan dadakan seperti ini?”


“Sudah takdir, A. Yang namanya kelahiran dan kematian seseorang tidak bisa kita majukan atau mundurkan. Iya kan?”


“Aa juga tahu, Len. Tapi pasti ada penyebabnya sampai Iyah harus melahirkan lebih awal.”


Lalu mengalirlah cerita dari mulutku tentang perempuan bernama Evangeline, yang ternyata sepupu dari Natasha, perempuan di masa lalu A Endra.


“Pantas saja, akhir-akhir ini Aa merasa kalau ada yang mengawasi setiap gerak gerik Aa. Aa curiga kalau itu Natasha. Dia sudah kembali.”


“Dia kembali dan mungkin akan mengganggu ketenangan keluarga Aa dan Teh Iyah. Sebaiknya Aa lebih berhati-hati. Kalau bisa, setelah Teh Iyah melahirkan, Aa ambil cuti dulu.”


“Aa juga berpikir seperti itu. Aa khawatir Natasha akan berbuat sesuatu di luar perkiraan kita. Dia itu wanita yang nekad. Dulu saja dia mencoba bunuh diri.”


“Wanita yang pedendam itu mengerikan A. Dia bisa berbuat nekad.”


Setelah beberapa saat.


“Keluarga Bu Sadiyah,” seru dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin.


“Saya suaminya, Dok.”


“Selamat, Pak. Bu Sadiyah dan bayi-bayinya dalam keadaan baik. Setelah perawat membersihkan bayi-bayinya, Anda bisa melihat mereka. Silahkan jika Anda ingin menemui Bu Sadiyah.”


“Tadi melahirkannya normal kan, Dok?”


“Alhamdulillah normal.”


“Bayinya perempuan atau laki-laki, Dok?” tanyaku.


“Dua-duanya laki-laki.”


“Alhamdulilah.” Aku, A Endra dan Atep kompak mengucapkan syukur.


“Dua keponakan laki-laki lagi.” Aku harus menguatkan diri mendapatkan dua lagi fotokopian dari A Endra.


"Kok bisa yah, proses melahirkan itu cepat. Aku dengar kalau melahirkan itu lama ada pembukaan-pembukaan dulu. Teh Iyah kok cepat ya?" Aku merasa heran.


"Mungkin proses pembukaannya sudah mulai dari tadi pagi tapi gak dirasa sama Teh Iyah," kata Atep.


"Memang ada kemungkinan seperti itu?"


“Bisa saja lah. Dulu juga pas lahir Aras dan Aris prosesnya cepat. Kalau gak salah cuma 1 jam dari mulas sudah lahir deh. Anak Teh Iyah kembar lagi. Memangnya dari keluarga kalian siapa yang kembar?” tanya Atep.


“Aku juga tidak tahu darimana asalnya keturunan kembar di keluarga kami. Yang pasti, sepupuku, anaknya adik Abah juga kembar. Kamu kenal tidak Ka Arfian?”


"Kenal sih tidak, tapi aku tahu. Pernah ketemu pas dulu syukuran Teh Iyah."


“Nah, adiknya Ka Arfian itu kembar, Arfan dan Arfin. Salah satu dari sepupu kembarku itu menikah dengan sahabatku. Kak Fian juga nikahnya sama sahabat aku. Tapi anak mereka malah gak ada yang kembar. Yang dapat anak kembar malah Aa, dua kali pula.”


“Kalau nanti kita punya anak, kemungkinan kembar juga ya?”


“Gak tau. Nikah saja belum, sudah memikirkan anak.”


Dia terkekeh.


*******

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2