Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
68. Yakin


__ADS_3

Alena POV


Huh…apa maksud dia dengan pertanyaan-pertanyaan itu?


Bertanya apakah aku yakin dengan pernikahan ini? Apa aku mencintai dia?


Pertanyaan macam apa itu?


Setelah memutuskan sambungan telepon, aku langsung memblokir nomor dia dan melempar ponsel ke atas meja.


Aaargh, dasar laki-laki menyebalkan.


Kuhirup oksigen banyak-banyak dan kuhembuskan karbondioksida dari dalam rongga dada dengan perlahan. Setelah sedikit tenang, aku mengumpulkan buku yang hendak kubawa ke kelas. Waktunya mengajar. Tak akan kubiarkan dia menghancurkan mood mengajarku.


Pagi yang melelahkan. Setelah mengajar dua kelas, sepertinya energiku sudah benar-benar habis padahal masih ada satu kelas lagi nanti siang.


Dia benar-benar membuatku kesal. Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya tapi ternyata tidak bisa. Pertanyaannya terus terngiang di telingaku. Teganya dia mempertanyakan perasaanku dengan seenaknya.


Kubanting buku yang sedang kupegang ke atas meja.


“Kenapa Bu Alena? Kesal sama mahasiswa atau ada masalah lain?” tanya salah satu kolegaku.


“Ya begitulah Pak Haris. Kadang-kadang ada saja mahasiswa yang hobinya membuat kesal dosen,” jawabku jujur. Tentu saja aku jujur, si Atep itu kan pernah jadi mahasiswaku dan dia yang membuat aku kesal seperti ini.


“Oh iya, tadi ada yang mencari Bu Alena.”


“Siapa?”


“Mahasiswa Bu Alena.”


“Siapa, Pak? Kenapa tidak menghubungi saya?”


“Katanya sih nomor telepon dia diblokir sama Bu Alena. Dia menitipkan ini sama saya.” Pak Haris menyerahkan secarik kertas padaku.


Aku tunggu di kantin!


Cih, sudah kuduga dia yang tadi datang mencariku. Tidak sopan sekali memberi pesan di atas secarik kertas tanpa menuliskan nama. Akan kuanggap secarik kertas ini kerjaan orang iseng saja.


“Mari Bu Alena, saya ke kelas dulu.”


“Silahkan, Pak.” Aku tersenyum pada Pak Haris walaupun hatiku dongkol bukan main.


Kuremas kertas berisi pesan darinya dan langsung kubuang ke tempat sampah. Aku memutuskan untuk tidak menuruti perintahnya. Siapa dia? Seenaknya main perintah.


Kuambil sebuah buku referensi dan mulai membacanya. 10 menit membaca, tidak satu pun kalimat yang kupahami walau sudah dibaca berulang kali. Kucoba memfokuskan pikiranku ke dalam buku. 10 menit kemudian, aku menyerah. Kututup dan kuletakkan buku tersebut kembali ke dalam rak buku.


Kuambil ponsel dan mulai berselancar di dunia maya. Aku melihat-lihat status teman-temanku di medsos. Hal yang sangat jarang kulakukan kecuali melihat status Teh Iyah yang sering memposting kegiatan Aras dan Aris, tapi sekarang dengan terpaksa aku melakukannya untuk sekadar membunuh waktu.


Ketika sedang asyik melihat foto-foto aktivitas Aras dan Aris di status Teh Iyah, tiba-tiba ada notifikasi yang masuk. Pesan dari nomor yang tidak dikenal.


Jangan kekanak-kanakan dengan memblokir nomor dan menghindariku. Aku masih menunggu di kantin. Kalau kamu tidak datang, aku yang akan mendatangi ruangan kamu dan jangan salahkan jika aku membuat keributan di sana.


Cih…dasar menyebalkan. Dengan engan aku berjalan menuju kantin membawa dompet dan ponsel di tangan kiriku.


“Mau ke kantin, Len?” tanya Bu Syafrina.


“Iya Bu.”


“Boleh nitip sesuatu?”


“Boleh banget, Bu.” Ini bisa jadi alasan agar aku tidak berlama-lama dengan dia.


“Tolong beliin jus jambu.”


“Siap, Bu.” Aku menerima selembar uang dua puluh ribu dari Bu Syafrina.


“Makasih Len.”


“No problem, Bu.” Dalam hati aku bersyukur.


Dia di sana. Duduk santai dikerubungi olah para mahasiswi.


Cih, dasar playboy menyebalkan. Sebelum mendatanginya, terlebih dahulu aku memesan jus jambu untuk Bu Syafrina.


Setelah membayar, aku berjalan menuju tempat dia duduk bersama para mahasiswi yang berjumlah lima orang itu dan asyik mengobrol dan bercengkrama dengan mereka. Kulihat dia bicara sesuatu lalu ditanggapi oleh tawa kelima mahasiswi itu dengan kompak.


Dengan langkah pasti, aku berjalan menuju mejanya lalu berdiri di hadapannya. Sepertinya dia belum menyadari kehadiranku karena ia masih asyik bercerita kepada lima perempuan yang mengelilinginya.

__ADS_1


Kesal karena dia masih belum menyadari kehadiranku, aku meletakkan dompet di atas meja dengan gebrakan keras, menghasilkan suara yang mengagetkannya dan kelima perempuan itu.


“Mau bicara apa?”


Dia langsung menatapku tajam kemudian kurasakan tanganku ditariknya.


“Mau kemana? Lepasin tanganku!”


Aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya.


“Kalau tidak kamu lepas, aku teriak.”


“Silahkan.”


“Jangan menyebalkan seperti ini.”


“Siapa yang menyebalkan? Aku? Atau kamu?”


“Lepas. Kenapa sih kamu suka memaksa seperti ini?” Aku ingin berteriak memakinya, tapi aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin. Sekarang saja aku khawatir telah menjadi pusat perhatian mereka.


“Atep!” panggilku geram.


“Dasar laki-laki keras kepala.” Aku memakinya dalam hati.


Kami terus berjalan. Sepertinya menuju taman samping tempat parkir. Pada jam makan siang seperti ini, tidak terlalu banyak orang di taman. Banyaknya pepohonan di taman ditambah angin semilir membuat cuaca siang yang panas menjadi sejuk, tapi tidak dengan hatiku yang terasa panas.


Akhirnya dia melepaskan tanganku dan duduk di kursi batu.


“Duduk!”


Dengan patuh aku duduk di sampingnya.


“Kenapa cemberut seperti itu?”


Aku malas menjawab.


“Kenapa kamu memblokir nomor teleponku?”


Kusilangkan tangan di depan dada lalu kubalik tubuh membelakanginya.


“Len… Alena!”


“Alena Damayanti Nataprawira! Kalau kamu merajuk seperti ini, jangan salahkan jika aku mencium kamu di sini saat ini juga.” Ancamannya membuatku gentar juga.


“Jangan macam-macam!” kucubit lengannya dengan keras sampai meninggalkan bekas berwarna kemerahan.


“Aww, sakit Len.”


Seperti tidak puas dengan sebuah cubitan keras, aku melampiaskan kekesalan dengan memukul-mukul lengan atas dan bahunya.


“Aww…aww…aww… ini sih namanya KDRT. Belum juga menikah, kamu sudah melakukan KDRT.”


Aku terus memukulnya sekeras yang aku mampu. Kuperlakukan tubuhnya seperti samsak.


“Cukup Len!” dia berkata dengan nada tinggi lalu menangkap pergelangan tanganku.


Hiks…hiks…


“Eh, Len…jangan menangis. Kenapa kamu menangis?”


“Kamu menyebalkan.”


“Kenapa kamu bilang aku menyebalkan? Apa salahku?”


Aku menutup wajah dengan kedua tangan karena malu dengan air mata yang sepertinya mengucur deras mengaliri pipi.


Lalu aku merasakan tangannya mengelus bahuku dengan lembut.


“Kalau kamu tidak mengatakan hal yang membuatmu kesal, aku tidak akan paham.”


Aku mencoba untuk menghentikan tangisku tapi sepertinya tidak berhasil. Aku juga tidak paham kenapa aku bisa secengeng ini. Selama ini aku tidak pernah menangis hanya gara-gara hal sepele apalagi menangis gara-gara seorang laki-laki kecuali menangis saat melihat penderitaan kakakku dulu.


“Kalau boleh memeluk dirimu, aku pasti sudah memelukmu saat ini.”


“Kamu marah karena pertanyaanku di telepon?”


Aku mengangguk.

__ADS_1


“Maaf kalau pertanyaanku membuat kamu kesal. Sejujurnya aku bertanya seperti itu tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku bertanya seperti itu karena aku merasa tidak percaya diri. Aku tidak menyangka kalau kamu juga mencintaiku.”


“Aku gak cinta sama kamu!” ucapku hampir berteriak.


“Iya, iya…kamu tidak cinta. Aku ganti pernyataanku. Aku tidak menyangka kalau kamu menerima lamaranku. Bagaimana?”


Kuanggukkan kepalaku. Aku merasa malu dengan sikap kekanak-kanakan seperti ini tapi sepertinya aku tidak bisa menghentikannya.


Dia tersenyum, manis sekali.


Aku sudah yakin mencintainya tapi masih malu mengakuinya. Biarlah aku bersikap egois seperti ini.


“Sudah tidak marah? Sudah meluapkan kekesalan?”


Aku mengangguk.


“Lihat ini! Lenganku merah-merah seperti ini. Bahuku juga rasanya ngilu setelah mendapatkan pukulan petinju profesional seperti kamu.”


“Maaf,” ucapku lirih.


“Aku pinjam ponsel kamu.”


“Buat apa?”


“Mana?”


Kuserahkan ponselku padanya.


“Passwordnya apa?”


Kuletakkan jempol di bagian pemindai sidik jari untuk membuka.


“Kalau marah jangan suka memblokir nomor. Sudah dua kali kamu memblokir nomor telepon karena marah padaku.”


“Itu karena kamu suka membuatku kesal.”


“Kalau kesal, lampiaskan saja seperti tadi. Mencubit dan memukulku sampai kamu puas tapi aku harap jangan terlalu sering marah. Rasanya sakit juga kena cubitan dan pukulan kamu.”


“Iyaaa, maaf…”


“Sudah tidak salah paham lagi dengan pertanyaanku itu?”


Aku mengangguk.


“Aku tegaskan kalau aku sangat ingin menikahi kamu dan ketika kamu menerima lamaranku, rasanya seperti mimpi. Aku tidak meragukan keputusanmu untuk menerima lamaran tetapi masih ada kekhawatiran kalau kamu tidak benar-benar mencintaiku. Itulah sebabnya aku bertanya.”


“Itu berarti kamu masih ragu dengan keputusanku.”


“Aku yang salah.”


“Bagus kalau kamu menyadarinya,” ucapku sedikit ketus. “Kamu harus tahu. Dengarkan baik-baik!”


“Siap Bu Dosen. Saya akan mendengarkan dengan saksama.”


“Aku tidak pernah memberikan keputusan kalau tidak yakin akan hal itu. Jadi keputusanku untuk menerima lamaran kamu itu bukan keputusan yang tidak dipikirkan terlebih dulu.”


“Jadi kamu mencintaiku, kan?”


Aku berdiri untuk menghindari pertanyaannya.


“Aku harus kembali ke kantin untuk mengambil pesanan Bu Syafrina.”


“Jawab dulu.”


“Kan sudah kujawab.”


“Kapan?”


“Aku kan sudah bilang kalau tidak yakin aku tidak akan menerima kamu.”


“Jadi?”


“Pikirkan saja sendiri.”


“You love me,” ucapnya sambil tersenyum.


Aku berjalan cepat meninggalkannya di taman menuju kantin.

__ADS_1


***********


to be continued...


__ADS_2