Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
37. Menyerah


__ADS_3

Atep POV


Jam setengah tujuh pagi, aku sudah berada di depan gedung apartemen Alena.


Wow, sejak kapan aku mulai menyebut Bu Alena tanpa embel-embel Bu lagi? Asyik juga memanggilnya tanpa menyebut 'Bu'. Apa sopan memanggilnya langsung namanya?


Tidak apa-apalah, toh sekarang aku sudah bukan mahasiswanya lagi. Usia kami pun kurasa tidak jauh berbeda. Mungkin saja kami juga seumuran. Jadi, mulai saat ini aku akan memanggilnya Alena dan mungkin nanti aku akan memanggilnya sayang. Ha-ha-ha...


Aku mengirimkan pesan pada Alena mengabarkan bahwa aku sudah berada di pelataran parkir gedung apartemennya.


Setelah beberapa saat menunggu, dia belum membalas pesanku. Kukirimkan beberapa pesan lagi tetapi dia belum membaca pesanku. Jangankan membaca pesan yang baru kukirim, pesan yang sejak kukirim saja belum dia baca. Apa dia sakit lagi? Atau dia belum bangun?


Segera kupijit nomor teleponnya.


“Hallo,” terdengar dia menjawab dengan suara indahnya. Bukan suara orang yang sakit ataupun yang baru bangun tidur.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawabnya.


“Kamu sudah siap berangkat? Saya sudah di bawah.”


“Aku sudah di kampus,” jawabnya seketika membuatku kesal.


“Kenapa sudah di kampus? Jam berapa kamu berangkat ke kampus? Bukankah kemarin saya sudah bilang kalau saya yang akan menjemput dan mengantar kamu ke kampus?”


“Aku ada kerjaan yang harus selesai sebelum masuk kelas pagi ini. Sudahlah tidak usah diributkan. Aku sudah ada di kampus. Kamu tidak usah repot-repot.”


“Seharusnya kamu memberitahu saya kalau kamu harus pergi ke kampus lebih pagi. Jam berapa tadi kamu berangkat?”


“Jam setengah enam. Aku tutup teleponnya, sebentar lagi rapatnya dimulai.”


Dia menutup sambungan teleponnya sebelum aku sempat memberikan respon.


Menghadapi perempuan seperti Alena memang tidak gampang. Aku harus ekstra sabar dalam menghadapinya.


Aku melajukan motor menuju kampus. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan, termasuk menyerahkan draft skripsi yang sudah kuperbaiki dan akan aku jilid. Setelah selesai menjilid, selanjutnya aku serahkan ke perpustakaan untuk kepentingan pengarsipan.


Setelah selesai salat jumatan, baru aku memiliki waktu untuk menghubungi Alena. Aku mengirimkan pesan bahwa aku menunggunya di kantin kampus.


Setelah beberapa menit menunggu, masih belum ada balasan darinya. Pesanku pun masih belum diterima karena terlihat pesan dariku masih centang satu.


Aku mencoba meneleponnya tapi hanya terdengar nada sambung saja.


Kucoba mengirimkan beberapa pesan dan hasilnya tetap sama, centang satu.

__ADS_1


Lalu aku mencoba meneleponnya langsung tanpa menggunakan aplikasi. Ternyata hasilnya pun sama. Apa ponselnya kehabisan baterai atau dimatikan.


Karena perutku keroncongan, kuputuskan untuk mengisi perut dulu. Untuk menghadapi Alena dengan segala sikapnya yang unik tentu saja membutuhkan banyak energi. Masalah Alena yang tak bisa dihubungi nanti saja aku urus setelah perutku terisi. Aku akan langsung mendatangi ruangannya.


Setelah selesai makan siang aku mendengar salah seorang adik kelasku mengatakan bahwa kelas siangnya akan berlangsung sedikit terlambat.


“Gaess, Bu Alena kirim pesan nih. Katanya dia bakalan telat sebentar. Kita disuruh mendiskusikan tema yang diberikan minggu lalu.”


Dengan jelas aku mendengar bahwa baru saja Alena mengirimkan pesan lewat aplikasi Whatsapp.


Kembali aku melihat pesan-pesanku yang masih saja centang satu.


Ah, dia memblokir nomorku.


“Boleh pinjam hapenya gak?” Aku meminta pada mahasiwa tadi.


“Boleh, Kang.” jawab mahasiswa tadi.


“Saya mau menghubungi Bu Alena, tapi hape saya mati.”


“Ini, Kang.” Mahasiswa tadi memberikan ponselnya padaku.


“Oh ya, nama kamu siapa?” tanyaku pada mahasiswa itu.


“Rendy, Kang.”


“Empat.”


“Saya pinjam dulu hapenya, Ren.”


“Silhakan, Kang. Feel free,” jawabnya.


“Makasih.”


Kucari nama Alena di aplikasi, beruntung nama Alena ada di urutan pertama halaman percakapan. Mungkin karena baru saja dia mengirimkan pesan.


Dasar perempuan menyebalkan, seenaknya saja memblokir nomorku.


Kenapa dia memblokir nomorku? Apa dia merasa terganggu dengan pesan-pesanku? Sepertinya kemarin siang dia tidak marah setelah makan siang denganku. Malah dia terlihat senang karena sering tersenyum dan tertawa. Hal yang sangat jarang terjadi.


Saya Atep. Kamu memblokir nomor saya kan? Buka blokirnya!!!


Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya pesanku centang 2 dan berwarna biru yang artinya dia sudah membaca pesan yang kukirimkan dengan menggunakan akun mahasiswa yang sekarang sedang gelisah menungguku yang masih memegang handphonenya.


“Sebentar. Saya sedang menunggu Bu Alena membalas pesan saya,” kataku pada Rendy.

__ADS_1


“Iya, Kang. Tidak apa-apa. Santai saja,” jawab mahasiswa itu.


Bilang santai tapi itu dari tadi menatapku terus. Apa dia takut kalau aku tidak akan mengembalikan ponselnya. Aku menggerutu kesal. Kesal karena ternyata benar dugaanku kalau Alena memblokir nomorku.


Karena pesanku tidak kunjung dibalas, aku akan meneleponnya langsung.


“Boleh minta kuota untuk menelepon? Sepertinya Bu Alena belum baca pesan yang saya kirim.” Aku meminta izin pada mahasiswa itu.


“Silahkan, Kang,” jawabnya memberikan izin.


Kutelepon Alena dan pada nada dering kedua dia menjawabnya.


“Ada apa, Ren?” sapa Alena ramah.


“Saya bukan Rendy, saya Atep. Kenapa kamu memblokir nomor saya?”


“Terserah aku dong. Hak aku untuk menghapus atau memblokir nomor telepon siapapun yang aku inginkan.” Jawabannya membuatku kesal.


“Hmm… Jadi itu yang kamu mau?”


“Iya!” jawabnya tegas membuatku semakin kesal sekaligus sedih.


“Baiklah. Saya tidak akan mengganggu kamu lagi. Maaf kalau selama ini kamu merasa terganggu dengan ulah saya.


“Bagus kalau kamu sadar. Jangan pernah menghubungi saya lagi!”


Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, dia langsung memutuskan sambungan telepon.


“Makasih hapenya, Ren.” Aku menyerahkan kembali ponselnya dengan tatapan bingung dari mahasiswa bernama Rendy itu.


Mungkin dia terkejut dan bingung dengan nada bicara dan sebutanku yang tanpa embel-embel Bu pada seorang dosen. Biarlah, aku sudah tidak peduli lagi anggapan orang lain.


Aku mungkin akan menyerah. Akan kukubur keinginan dan impianku menjadikan Alena sebagai pasangan. Aku tidak mau dianggap sebagai stalker atau psikopat karena terus mengganggu dia. Toh, masih banyak perempuan-perempuan lain yang lebih baik dari dia. Kalau aku mau, satu kata 'iya' dariku, detik ini juga aku akan mendapatkan pasangan.


Aku ingat, besok di acara syukuran Teh Iyah, aku akan dikenalkan pada adiknya Kagendra. Mungkin saja kami bisa berjodoh. Alena pergi, perempuan lain akan datang.


Goodbye Alena…


Sepertinya kamu memang terlalu tinggi untuk aku bisa gapai. Aku menyerah kalah sebelum berjuang lebih keras lagi. Kamu terlalu rapat menutup diri kamu untuk bisa kubuka.


Aku menyerah….


Selamat Tinggal Alena. Bidadari yang tidak akan pernah bisa aku dapatkan. Semoga kamu bahagia bersama dengan laki-laki baik yang mencintai kamu dan juga kamu cintai.


Cintaku kembali bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


***************


to be continued.....


__ADS_2