
Atep POV
Seperti yang sudah diduga, Teh Iyah histeris ketika mengetahui Aras dan Aris diculik. Setelah dua hari kami mencoba mengulur-ngulur waktu mengenai kondisi Aras dan Aris, dengan terpaksa kami mengabarkan penculikan Aras dan Aris pada Teh Iyah. Kami pun tidak bisa lebih lama lagi menyembunyikan kenyataan kalau Aras dan Aris masih belum berhasil ditemukan.
Teh Iyah terlihat benar-benar terpukul mendengar kabar Aras dan Aris hilang. Ia menyalahkan suaminya atas semua kejadian yang menimpa Aras dan Aris. Teh Iyah yakin kalau Natasha lah yang menculik Aras dan Aris. Ia tidak terima perkataan Kagendra yang tidak bisa menuduh Natasha tanpa bukti.
Setelah Teh Iyah mengetahui kabar penculikan Aras dan Aris, ia tidak mau menemui siapapun termasuk menggendong dan menyusui bayi kembar yang baru saja dilahirkannya.
Sepanjang hari, jika tidak melamun, maka Teh Iyah akan menangis histeris. Alena dan aku mencoba menggantikan peran Kagendra dan Teh Iyah sebagai orangtua pengganti bagi keponakan kembar kami yang baru saja lahir.
******************************************
Alena POV
“Ateeeeeep……”
Kemana sih tuh orang? Dari tadi aku panggil-panggil, tidak menyahut.
Aku benar-benar kewalahan dengan dua bayi kembar yang kompak menangis. Aku tidak tahu sebab mereka menangis dengan suara yang kencang memekakkan telinga. Kalau Atep tidak muncul setelah panggilanku yang terakhir, aku benar-benar akan putus dengannya.
“Ateeeeeeep….”
__ADS_1
“Berisik, Len. Kalau kamu teriak-teriak seperti ini, pantas saja mereka menangis. Mereka terganggu dengan suara cempreng kamu.”
“Kamu darimana? Aku panggil-panggil kenapa tidak bergegas ke sini? Kalau aku teriak-teriak panggil kamu itu artinya situasi di sini urgent.”
“Aku lagi bikin susu buat mereka, Len. Mereka nangis karena mereka itu lapar,” jawabnya.
“Kok kamu bisa tahu mereka menangis karena lapar?”
“Aku bantu Teh Iyah mengurus Aras dan Aris Ketika mereka masih bayi. Jadi aku tahu arti dari tangisan bayi yang lapar.”
“Aras…Aris…kalian di mana? Tante kangen sama kalian.” Kembali air mata menggenang di pelupuk mata. Aku benar-benar mengkhawatirkan duo kesayanganku.
“Seperti yang sudah A Endra bilang. Kita panggil saja si kembar dengan Upin dan Ipin. Yang lebih gembil ini, kita panggil Upin dan yang ini panggilannya Ipin,” kataku asal. Aku benar-benar tidak mampu memikirkan nama panggilan untuk dua keponakan baruku.
“Upin.” Aku menciumi salah satu bayi kembar dengan pipi yang lebih gembil.
“Ipin.” Kuciumi juga bayi yang ukurannya lebih kecil. Kata dokter, tubuh Ipin lebih kecil karena sewaktu dalam kandungan, masukan oksigennya lebih lama sampai ke otak.
“Kenapa bisa mereka kembar tapi kemampuan mereka berbeda dalam menyerap oksigen?” aku penasaran dengan sebab yang diungkapkan oleh dokter ketika aku bertanya alasan ukuran mereka bisa berbeda.
“Dulu juga Aras dan Aris, ukuran tubuhnya berbeda,” jelasnya.
__ADS_1
“Siapa yang lebih besar? Pasti Aras, kan?”
“Kok kamu bisa tahu?” tanyanya heran dengan tebakanku.
“Terlihat dari kelakuan Aras yang lebih menyebalkan,” ucapku sambil tersenyum. Aku teringat dengan berbagai kelakuan Aras yang membuatku pusing. Sekarang, aku benar-benar merindukan kejahilan Aras, juga sikap dinginnya. Aku juga rindu dengan keramahan Aris dan sikap bersahabatnya.
“Aras lebih besar ukurannya ketika bayi. Aras juga tumbuh lebih kuat dan kerap menjadi pelindung Aris. Kalau ada yang menjahili dan mengejek mereka karena dulu mereka tidak punya ayah, Aras yang akan menghadapi anak-anak yang mengejek mereka. Sering juga Aras berkelahi dengan anak-anak yang lebih besar dari mereka.” Penjelasan Atep membuatku semakin merindukan duo kembar kesayanganku.
Terdengar kembali dua bayi menangis bersahutan membuat kegemparan di ruangan ini.
Setelah menghabiskan satu botol susu formula, Upin dan Ipin Kembali menangis.
“Sepertinya mereka belum kenyang. Aku buatkan lagi susu buat mereka. Kamu gendong mereka dulu.”
“Tunggu, Tep. Kamu saja yang gendong mereka dan aku yang membuatkan susu buat mereka.”
“Memangnya kamu bisa?” tanyanya dengan nada mengejek seakan aku tidak bisa membuatkan susu buat keponakan kembarku.
*******************
to be continued...
__ADS_1