
Alena POV
“Aras…Aris! Cepat mandi! Sebentar lagi kita pergi.” Atep memberikan perintah pada pada Aras dan Aris.
“Sebentar, Mang.” Aris masih asyik dengan tontonannya.
“Aras,” panggilnya pada Aras.
“Sebentar lagi.” Aras fokus pada apa yang ditonton.
“Kalau gak mandi sekarang, mainnya gak jadi,” ancam Atep.
“Bentar atuh, Mang. Ini lagi seru,” pandangan Aris masih lekat pada televisi sedangkan Aras sudah mulai beranjak dari duduknya.
“Tuh Aras sudah naik,” serunya pada Aris yang masih tetap asyik di depan televisi.
“Mandinya gantian,” jawab Aris santai.
“Dasar bocah.”
“Biar saja lah mereka santai dulu. Lagian ngapain juga kita pergi pagi-pagi? Tempatnya juga belum buka jam segini.” Aku membela keponakan-keponakanku.
“Biar kita datang ke sananya tidak terlalu siang, jadi bisa lama mainnya.” Dia meungungkapkan alasan.
Tidak ingin meneruskan perdebatan, aku kembali fokus pada tontonan di televisi.
“Tumben gak nyolot,” sindirnya.
Aku berusaha untuk tidak membalasnya. Karena kalau aku membalas apa yang dia katakan, urusannya tidak akan selesai-selesai. Jadi lebih baik aku mengalah saja.
Tidak mendapatkan respon yang diinginkannya, dia mulai menyenggol-nyenggol lenganku.
“Apaan sih?” Aku merasa terganggu dengan apa yang dilakukannya.
“Gak kenapa-kenapa,” jawabnya mengesalkan.
Aku bergeser menjauh darinya.
Tak lama kemudian dia duduk mendekat.
Karena merasa terpepet, aku memutuskan untuk duduk di lantai bersama dengan Aris.
Dia pun ikut duduk di atas karpet di sampingku.
Karena kesal dengan kelakuannya, aku mencubit keras lengannya. Aku tidak peduli dia kesakitan atau tidak.
Setelah mencubitnya, aku langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, aku berusaha untuk menenangkan debaran dalam dadaku.
Tidak lama kemudian kudengar bunyi ketukan di pintu.
Masih berusaha untuk menenangkan diri, aku tidak mengindahkan ketukan bertubi-tubi di pintu.
Bunyi ketukan itu masih terdengar, sepertinya orang yang mengetuk itu seorang pemaksa dan aku tahu siapa orang itu.
Setelah memakai lagi kerudung, aku berjalan menuju pintu dan membukanya dengan keras.
“Mau apa lagi?” tanyaku kesal ketika melihat wajah yang saat ini tidak ingin kulihat.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih?” tanyanya.
“Gak kenapa-kenapa,” jawabku malas.
“Sambil nunggu Aras dan Aris mandi dan siap-siap, kita jalan-jalan ke taman komplek yuk!” ajaknya.
“Gak mau. Malas,” jawabku ketus.
“Ayolah, biar kita lebih saling mengenal.” Dia menarik tanganku dan bodohnya aku mau saja mengikutinya tanpa perlawanan.
Ketika hampir sampai ke pintu utama, Teh Iyah memanggil kami.
“Eeeeh, kalian mau kemana?”
“Mau jalan-jalan berdua. Kita juga gak mau kalah sama Teteh yang hobi mesra-mesraan.” Jawabannya membuatku malu.
“Eh…eh, kalian belum halal buat mesra-mesraan seperti kita. Ijab kabul dulu, Tep,” seru kakakku sambil terus memeluk dan menciumi wajah Teh Iyah.
Sebal melihat kemesraan mereka, kutarik tangan Atep agar segera menjauh dari pasangan tukang pamer itu.
“Woi, Atep! Jangan kamu apa-apain si Lena!” teriak kakakku.
“Siap, A!” jawabnya.
“Ayo cepetan!” dengan cepat aku menarik tangannya.
“Sabar dong. Kalau kamu naf…”
“Berisik!” Aku memotong perkataannya sebelum dia meneruskan kalimat yang aku yakin berkonotasi negatif.
Setelah kami sampai di taman komplek, aku duduk di kursi taman dan dia mengikuti duduk di sampingku.
“Mau ngomong apa?” tanyaku ketus.
“Apa yang mau kamu tau?”
“Semuanya.”
“Kalau begitu kamu saja duluan yang ngomong,” usulku.
“Kamu mau tahu tentang apa?” tanyanya.
“Terserah. Walaupun sebenarnya aku tidak mau tau juga sih. Tapi kalau kamu bersikeras ya aku dengarkan saja,” jawabku asal padahal di dalam dadaku ini ada gejolak yang sedang kuredakan dengan susah payah.
“Hmmm…apa dulu ya?”
Dia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
“Terserah kamu,” ucapku.
“Aku anak yatim. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Aku punya kakak kandung perempuan. Dia sudah menikah dan dibawa oleh suaminya ke luar pulau karena suaminya bekerja sebagai TNI. Seperti yang sudah kamu tahu, Teh Iyah adalah kakak angkatku. Kami tumbuh dan tinggal bersama hingga Teh Iyah menikah dengan kakak kamu.”
Aku mendengarkan kisahnya sambil mengangguk-angguk.
“Umurku sekarang 27 tahun, 2 bulan lagi 28 tahun. Mungkin kamu heran kenapa sudah setua ini aku baru lulus kuliah. Setelah lulus SMA, aku bekerja dulu mengumpulkan uang untuk kuliah. Umur 20 tahun aku baru mulai kuliah. Selama kuliah, aku banyak ambil cuti karena membantu Teh Iyah mengembangkan bisnisnya. Jadi, bukan malas seperti yang kamu sangka diawal kita bertemu,” jelasnya panjang lebar.
“Ya.”
“Ada pertanyaan?” tanyanya antusias.
__ADS_1
“Gak.”
“Gak mau mengenal aku lebih jauh?” Dia menatapku tajam.
“Gak tuh,” jawabku sesantai mungkin.
“Oh.”
Hening…
“Sekarang giliran kamu,” ujarnya memecahkan kebisuan diantara kami.
“Hmmm… Aku mulai darimana ya? Ehm… umur aku 28 tahun, satu minggu lagi 29 tahun. Aku lebih tua satu tahun lebih dari kamu.” Aku mengatakan umurku dengan jelas agar ia lebih menghormati aku yang lebih tua darinya.
“Ya.”
“Kamu sudah tahu orangtua dan kakakku. Aku tinggal bersama dengan orangtuaku sampai 1 tahun yang lalu. Sekarang aku tinggal sendiri. Kamu sudah tahu dimana aku tinggal. Kamu juga sudah tahu pekerjaanku. Sebenarnya aku punya target menikah setelah umur 30 tahun tapi semua keluargaku terus mendesakku untuk segera menikah terutama Aki.”
“Tidak enak ya kalau mendapatkan desakan dari keluarga?” tanyanya.
“Hmmm… Itulah sebabnya ketika Teh Iyah mengusulkan untuk menjodohkan kita, keluargaku menyambutnya dengan semangat. Apalagi pas tau kalau kamu adik angkatnya Teh Iyah. Aku berharap kamu jangan terlalu serius menanggapi perjodohan ini. Aku tidak mau kita merasa terpaksa hanya karena desakan dari keluarga,” pintaku.
“Aku tidak merasa terpaksa,” gumamnya lirih.
“Kalau aku yang merasa terpaksa?”
“Kamu merasa terpaksa? Apa kamu benar-benar benci sama aku?” tanyanya dengan pandangan ke depan.
“Tidak. Eh, maksudku aku tidak membenci kamu. Aku tidak punya alasan untuk membenci kamu.”
“Kalau kamu tidak benci apa salahhnya jika kita mencoba?” Dia kembali menatapku
“Aku tidak suka kalau kamu suka memaksakan kehendak kamu. Kamu sering begitu, dan itu membuatku tidak nyaman.”
“Kalau aku tidak memaksa, kamu mau?”
“Maksud kamu?” tanyaku tidak mengerti maksud pertanyaannya.
“Ya, kalau aku tidak memaksa, kamu mau menerimaku?” jawabnya.
“Menerima apa?”
“Menerima aku jadi suami kamu. He-he-he…” kekehnya.
“Memangnya kamu sudah siap?” tanyaku tegas.
“Siap.” jawabnya tak kalah tegas.
“Banyak sifat burukku. Kamu sudah lihat sedikit sifat burukku tadi pagi. Aku tidak bisa masak dan tidak suka beres-beres juga. Kalau kamu tahu bagaimana bersih, teratur dan disiplinnya kakakku, maka aku adalah kebalikan dari kakakku.”
“Tidak masalah,” jawabnya santai.
“Sekarang tidak masalah, tapi bisa saja nanti jadi masalah,” ungkapku.
“Aku yakin setelah kita menikah, kita akan berusaha untuk memperbaiki diri kita masing-masing, iya kan? Aku yakin kamu nanti belajar masak. Tapi kalaupun kamu tetap tidak bisa masak, aku yang akan masak. Aku juga bisa bantu kamu bersih-bersih.”
“Hmmm….”
"Jadi?"
__ADS_1
************
to be continued.....