Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
62. Perempuan Lain


__ADS_3

Atep POV


“Ada Apa, Man?”


“Ada masalah di cafe, Kang?” jawab Firman, manajer yang mengurus operasional sehari-hari di cafe.


“Ini ada perempuan datang marah-marah mau bertemu dengan pemilik cafe.”


“Bilang saja kalau yang punya cafe sedang pergi ke luar kota.”


“Sudah saya bilang, Kang. Tapi orangnya tidak percaya. Dia bawa orang-orang, sepertinya preman. Ada empat orang. Saya khawatir mereka akan mengacak-ngacak cafe.”


“Ya sudah, saya langsung meluncur. Kamu bilang saja kalau saya sedang di jalan.”


Aku menggeber motor dengan kecepatan maksimal yang masih diizinkan karena ingin cepat sampai cafe dan cepat menyelesaikan urusan yang tidak diharapkan. Sekilas kumelihat jam tangan yang jarum pendeknya menunjuk ke angka sebelas dan jarum panjangnya ke angka enam. Satu jam sebelum acara syukuran ulang tahun Alena dimulai ketika aku sampai di cafe.


Aku langsung masuk ke cafe dan melihat seorang perempuan yang duduk santai sambil bertopang kaki dikelilingi empat orang laki-laki dengan postur tubuh yang besar.


“Saya Atep, pemilik cafe ini. Ada apa anda mencari saya?” tanyaku tanpa basa basi.


“Oh, rupanya kamu pria bernama Atep yang sudah menghancurkan hati adikku hingga berkeping-keping.” Perempuan itu berkata hal yang tidak aku pahami sambil bertepuk tangan.


“Saya tidak mengenal Anda dan saya tidak tahu siapa adik yang dimaksud oleh Anda.” Aku berkata tegas dan tidak ingin terintimidasi oleh empat pria besar yang kompak berkacak pinggang.


“Adikku bernama Monaliza, kamu pasti mengenal adikku.”


“Monaliza?”


Aku merasa tidak mengenal perempuan bernama Monaliza.


“Kenapa raut wajahmu menunjukkan seolah-olah kamu tidak mengenal adikku, hah?”


“Saya memang tidak mengenal orang bernama Monaliza. Mungkin Anda salah orang.”


Aku melihat salah seorang pengawal perempuan itu berbisik sesuatu pada majikannya. Lalu perempuan itu mengangguk.


“Eliza. Kamu pasti mengenalnya?”

__ADS_1


Aku mencoba mengingat-ingat apakah ada orang yang bernama Eliza mampir di kehidupanku. Lalu aku teringat salah seorang adik kelasku. Perempuan pendiam yang cantik. Beberapa kali aku mengobrol dengannya tapi tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menyakiti hati gadis itu apalagi menghancurkannya hingga berkeping-keping seperti yang dikatakan oleh kakaknya.


“Saya kenal dan pernah beberapa kali mengobrol. Dia adik kelas saya di kampus tapi saya tidak merasa kalau saya pernah menyakiti hatinya apalagi menghancurkan hatinya seperti yang Anda katakan.”


“Hah, itu sih alasan kamu saja. Tidak mungkin kamu mengaku, kan? Mana ada maling ngaku maling.”


Perempuan itu mengambil sesuatu di dalam tas kecilnya dan yang diambilnya ternyata ponsel. Sepertinya ia menghubungi seseorang.


“Liza, sekarang Mbak sedang ada di hadapan laki-laki berengsek yang sudah menghancurkan hati kamu. Dia kan?”


Perempuan itu sepertinya melakukan vidio call dengan adiknya karena ia mengarahkan kamera ponselnya padaku.


“Bukan, Mbak. Mbak jangan campuri urusan Liza.”


“Kamu jangan menutup-nutupi kenyataannya. Jangan melindungi pria berengsek itu. Kamu sudah hancur gara-gara dia.”


“Mbak, sudahlah. Ini urusanku sama laki-laki itu. Mbak jangan ikut campur.”


“Kamu ini adik perempuan Mbak satu-satunya. Mbak tidak akan pernah terima perlakuan laki-laki bejat itu terhadap kamu. Kamu jangan jadi lemah seperti ini!” teriak perempuan itu memarahi adiknya yang membela laki-laki yang telah menghancurkannya.


“Sumpah, Mbak. Laki-laki itu bukan Kang Atep. Kang Atep kakak kelas Liza. Dia orangnya baik. Jangan sakiti dia, Mbak. Liza mohon.”


“Demi Tuhan, Mbak. Bukan Kang Atep. Mbak jangan macam-macam. Jangan sampai pengawal-pengawal Mbak yang jelek itu melukai Kang Atep.”


“Sekali lagi Mbak tanya. Siapa laki-laki berengsek yang sudah menghancurkan kamu? Mbak tidak akan segan-segan menghancurkan orang yang sudah menghancurkan kamu.”


“Bukan, Mbak. Yang pasti bukan Kang Atep. Mbak jangan ganggu dia. Dia orang baik.”


Sepertinya Eliza sudah mulai terisak mendengar suaranya yang terputus-putus. Aku juga jadi penasaran siapa pria berengsek yang sudah tega menyakiti hati perempuan secantik dan selembut Eliza.


Perempuan itu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


“Sepertinya aku sudah salah sasaran.”


Plak..plak…plak..plak…


Perempuan cantik berpenampilan glamor itu mulai menampar pengawalnya satu persatu.

__ADS_1


“Kalian tidak becus. Kerja kalian tidak ada yang benar. Kalian sudah mempermalukan aku.”


Plak…plak…plak…plak…


Sekali lagi, perempuan itu menampar para pengawalnya yang bertubuh bongsor. Tidak ada gestur tubuh ketakutan, sepertinya perempuan itu mendominasi keempat pengawalnya.


Wanita yang berbahaya.


Kumudian dia berjalan menghampiriku.


“Maaf, aku sudah salah menuduh kamu.”


Kemudian ia membuka kacamata hitam yang sedari tadi dipakainya.


Mata yang cantik dengan sorot yang tajam.


“Namaku Evangeline. Kamu bisa memanggilku Angel.”


Dia mengangkat tangannya dan mengelus rahangku. “Atep. Sebuah nama yang unik.”


Sebelum dia bertindak lebih jauh, aku menangkap tangannya yang mulai menggerayangi wajah dan leherku.


“Jangan bertindak gegabah. Anda tadi sudah menuduh saya. Jangan teruskan dengan melakukan hal yang tidak saya sukai seperti ini.”


Kulihat wajahnya sedikit mengernyit. Mungkin karena aku terlalu keras memegang tangannya.


“Saya anggap urusan ini sudah selesai. Jangan pernah lagi Anda muncul di hadapan saya.”


Kuhempaskan tangannya dengan segera.


Aku membalikkan tubuhku untuk segera meninggalkan cafe. Aku tidak ingin terlambat menghadiri acara spesial dari perempuanku yang spesial.


“Tunggu, Kang.” Firman memanggilku tepat ketika aku hendak membuka pintu.


“Ada apa lagi, Man?”


***********

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2