Segenggam Cinta Untukmu

Segenggam Cinta Untukmu
28. Bertemu Lagi


__ADS_3

Alena POV


Hari ini adalah hari bimbingan bersama si gondrong nyebelin. Ini pertemuan pertama kami setelah aku cuti sakit selama tiga hari dan tidak saling bertemu selama lima hari. Aku bingung harus bersikap bagaimana jika nanti kami bertemu. Kalau saja tidak ada kejadian dia menolong dan bermalam di unitku, mungkin sikapku padanya tidak akan secanggung ini.


Tok…tok…


“Masuk.” Kusiapkan diri bertemu dengannya. Kuhirup udara banyak-banyak agar oksigen memenuhi ruang dalam ragaku. Aku sangat menyadari jika otak manusia kekurangan oksigen bisa berakibat fatal apalagi harus berhadapan dengan manusia model si gondrong nyebelin.


Menurut artikel kesehatan yang kubaca, kekurangan oksigen dalam otak bisa mengakibatkan hilang ingatan sementara, berkurangnya kemampuan untuk menggerakkan bagian tubuh, kesulitan fokus pada kondisi sekitar, dan kesulitan membedakan mana yang baik dan buruk, termasuk saat bertindak, bergerak, atau berbicara.


Ciri-ciri kekurangan oksigen sama persis dengan kondisi jika aku bertemu dengan dia. Saat berbicara dengannya, seringkali aku kesulitan menggerakkan bagian tubuhku dan membedakan mana yang baik dan buruk. Aku tidak bermaksud untuk mencelanya tetapi mulut ini seperti tidak mau menurut pada perintahku.  Ketika aku berpapasan dengannya di jalan atau lorong gedung, otak memerintahkanku untuk terus berjalan tapi kaki seperti sulit untuk digerakkan.


Maka kuputuskan untuk banyak-banyak menghirup udara bersih sebelum bertemu dengannya.


“Assalamu’alaikum, Bu Alena,” sapanya.


“Wa’alaikumsalam… silahkan duduk.”


Duh, aku tidak berani memandang wajahnya karena tiba-tiba kerja jantungku menjadi tidak normal. Untuk menutupi kegugupan, aku pura-pura menyibukkan diri dengan membereskan buku dan berkas yang ada di atas meja.


“Bagaimana kabar, Ibu? Sudah sehat?” tanyanya.


Tentu saja aku sudah sehat. Kalau aku masih sakit, mana mungkin aku ada disini dan memberikan bimbingan skripsi sama kamu. Dasar manusia aneh, penuh dengan basa basi. Aku merutuk dalam hati.


“Alhamdulillah. Saya sudah sehat,” jawabku berusaha untuk bersikap sopan. Tidak mungkin kan kalau aku menyemburkan rutukan yang tadi aku teriakan dalam hati.


“Syukurlah kalau Ibu sudah sehat. Hari ini, saya mau mendiskusikan tiga bab sekaligus, bab 3 sampai 5. Bisa, Bu?” tanya dia seenaknya.


Cih, dia pikir dia siapa sih, bisa mengatur seenaknya. Kalau tidak ingat dia yang menolongku kemarin, rasanya ingin kutimpuk dia dengan buku tebal di atas meja.


“Sudah kamu diskusikan dengan Prof. Dinn?” tanyaku sesabar mungkin. Ah, mungkin debaran jantung ini terjadi karena rasa kesal bukan karena rasa yang lain. Diam-diam aku bersyukur mengetahui kekesalanku terhadapnya, bukan rasa suka tapi rasa kesal. Iya, kan?


“Sudah, Bu. Prof. Dinn sudah acc semuanya. Tinggal mendiskusikan dengan Ibu.”

__ADS_1


“Kalau beliau sudah acc, ya sudah saya juga akan acc. Tinggal kamu daftar sidang saja,” jawabku sedikit ketus.


“Maunya sih begitu, Bu. Tapi kan saya butuh tanda tangan Ibu. Tapi,….”


“Tapi apa?”


“Hmmm…Ibu jangan marah begitu dong, Bu. Kan Ibu baru sembuh dari sakit masa sudah marah-marah saja.”


“Siapa yang marah?” jawabku sengit.


“Kalau sedang marah, Ibu kelihatan lebih cantik dan menggemaskan.”


“Apa…!!!” Aku terkejut dengan pernyataannya yang terlampau berani. Kurasakan hawa panas di wajah dan refleks aku mengangkat buku tebal di atas meja dan langsung kulempar ke arahnya.


Namun ia menangkap buku yang kulempar dengan tangan kanannya.


Setelah menyimpan buku yang kulempar kembali ke atas meja. Dia menatapku tajam.


“Jangan melempar barang sembarangan. Hargai buku ini. Ibu kan seorang dosen, seharusnya lebih paham bagaimana memperlakukan buku,” tatapannya seolah menusuk menatap mataku.


“Siapa yang kurang ajar? Kata-kata saya mana yang menurut Ibu kurang ajar?”


“Kamu bilang kalau - ”


“Saya bilang Ibu terlihat lebih cantik kalau sedang marah. Kata-kata mana yang menurut Ibu kurang ajar?” tanyanya sambil tersenyum yang terlihat menyebalkan.


“Sudah. Tidak usah dibahas lagi. Mana skripsi kamu?” tanyaku jengkel.


Dia menyerahkan draft skripsinya dan segera setelah aku menerima draft skripsinya, aku membubuhkan tanda tanganku di lembar pengesahan.


“Sudah saya tanda tangani. Silahkan kamu menghadap lagi Prof. Dinn untuk mendapatkan tanda tangan beliau.” Aku menyerahkan kembali draft skripsinya tanpa tanpa melihat wajahnya. Aku khawatir akan kembali emosi jika melihat wajahnya yang menyebalkan


“Ibu tidak ingin memeriksa dulu?” tanyanya santai semakin membuatku senewen.

__ADS_1


“Tidak perlu,” jawabku singkat.


“Sebagai dosen pembimbing, Ibu tidak bertanggung jawab.” Ucapannya berhasil memprovokasiku.


“Jadi, kamu maunya apa?” bentakku.


“Jangan marah, Bu.”


“Kamu yang cari gara-gara. Kamu yang membuat saya marah," bentakku.


“Iya, maaf. Jangan marah-marah terus, nanti vertigo Ibu kambuh.”


“Iya, kalau saya sakit lagi itu karena kamu.”


“Kalau Ibu sakit lagi, nanti saya yang jagain Ibu lagi.”


Rasanya ingin mengumpat tapi aku menahan emosi dengan menghela nafas dalam-dalam.


“Saya sudah menandatangani lembar pengesahannya, silahkan kamu keluar dari ruangan ini. Tidak ada lagi yang akan saya sampaikan pada kamu. Selamat atas keberhasilan kamu dalam menyelesaikan skripsi. Semoga kamu berhasil dan sukses dalam sidang.”


Aku beranjak dari kursi, berdiri tegak sambil menatap lurus ke arah matanya. Ada getaran dan gemuruh hebat dalam dadaku hingga rasanya sedikit menyesakkan. Aku yakin emosi yang sejak tadi kutahan telah membuncah hingga menyesakkan dada. Jantungku berdetak tidak karuan.


Dia pun bangkit dari kursinya dan balik menatap tajam ke arahku.


“Terima kasih. Maafkan jika selama bimbingan, saya menyusahkan dan membuat Ibu tidak nyaman dengan segala tindakan saya yang mungkin kurang berkenan. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Setelah mengatakan ucapan terima kasih dan permintaan maafnya, dia langsung berbalik dan keluar dari ruanganku. Aku masih menatap nanar ke arah pintu yang sudah tertutup. Aku duduk kembali dengan berbagai macam perasaan yang tidak dapat kupahami. Tiba-tiba air mataku menetes, tetesan demi tetesan air mata berubah menjadi aliran yang deras. Sungguh aku tidak paham kenapa aku menangis. Kurasakan dadaku semakin sesak.


Kenapa aku menangis. Apa penyebab aku menangis. Apa aku menangis untuk meluapkan emosiku yang semenjak tadi kutahan atau karena alasan lain? Ah, aku tidak memahami diriku yang seperti ini. Aku merasa menjadi perempuan paling lemah sedunia jika berhadapan dengan dia.


Benar… sepertinya tadi aku sangat emosi sehingga membuat dadaku menjadi sesak. Biasanya untuk meluapkan emosi, aku akan pergi ke sasana dan memukul samsak yang ada di sana sampai sepuasnya. Tapi kali ini, aku meluapkan emosiku dengan menangis. Walaupun ini bukan kebiasaanku, aku rasa wajar sekali-kali menangis untuk meluapkan emosi. Jadi tidak apa-apa kalau aku menangis, kan?

__ADS_1


*************


to be continued....


__ADS_2