
Alena POV
“Kamu suka sama aku?”
“Eh?” Aku terkejut mendengar pertanyaannya.
“Suka atau tidak suka?” desaknya.
“Eeeeh….”
Ya Tuhan... Apa sih yang dia tanyakan? Aku kan jadi bingung menjawabnya.
Duuuh bagaimana aku menjawabnya, sih?
Jantungku benar-benar berulah. Sepertinya dia mau melompat keluar dari tempatnya.
“Suka atau tidak?” Dia kembali bertanya.
“Eh, hm... sebentar." Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaannya.
“Tinggal jawab saja suka atau tidak. Kenapa harus bingung?”
Sepertinya dia bisa membaca pikiranku yang sedang kalut.
Dia merangkum kedua tanganku dengan kedua tangannya yang jauh lebih besar dari tanganku.
“Aku suka sama kamu. Sukanya sudah sampai level sayang dan kalau sudah sah, levelnya akan naik menjadi cinta,” ikrarnya di hadapanku.
Aku tertegun mendengar pernyataan cintanya tapi aku masih malu untuk mengakui kalau aku juga sudah menyayanginya.
“Cepat jawab sebelum dua pembuat onar itu datang mengganggu kita.”
“Hm…aku…aku…”
kulihat sekelilingku dan berharap Aras dan Aris datang untuk menginterupsi kecanggungan ini tapi sepertinya mereka semua sudah bekerja sama untuk tidak mendekat.
Kulihat Aras dan Aris yang sedang bercengkrama dengan ayah mereka. Teh Iyah yang sedang sibuk di dapur bersama para asisten rumah tangganya. Kemudian para tetua yang tidak kuketahui keberadaan mereka.
Sepertinya aku tidak bisa mengharapkan ada seseorang yang menginterupsi kami.
“Lena.”
“Alena Damayanti Nataprawira.”
Dia memanggil nama lengkapku. Mungkin dia sudah menghapal ijab kabul dengan nama lengkapku yang akan dia sebutkan di depan penghulu dan abahku.
Eh, kenapa aku jadi berpikir sejauh itu.
Kugelengkan kepalaku berkali-kali untuk mengusir bayangan imajinasi yang iseng masuk dalam pikiranku.
“Len, Lena! Kamu kenapa sih? Apakah pertanyaan saya sangat sulit dijawab? Kalau kamu memang tidak suka sama saya dan merasa tidak enak untuk menolak saya, jangan punya pikiran seperti itu. Kalau kamu mau menolak, tolak saja. Saya tidak akan dendam sama kamu sampai kirim santet.”
__ADS_1
“Eh, bukan begitu. Aku, aku juga…”
“Suka sama aku kan?” sambarnya.
Kurasakan hawa panas di sekitar wajahku. Sepertinya aku tidak akan sanggup lagi menyembunyikan perasaanku.
Aku mengangguk pelan dan setelahnya aku menunduk dalam menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah semerah kepiting rebus.
“Alhamdulillah, jadi kamu mau menerima lamaranku?”
Aku menunduk semakin dalam. Tak kuasa untuk mengangkat kembali wajahku. Aku sangat malu.
Kurasakan dia menggenggam tanganku dan menarikku untuk berdiri.
Aku masih menunduk menyembunyikan wajahku yang pasti semakin memerah.
Dia menarik tanganku dan kami berjalan beriringan menuju taman belakang.
Setelah sampai di taman belakang, aku memberanikan diri untuk menegakkan kepala dan melihat di mana semua keluargaku berada di sana dan memandang pada kami berdua.
Disaat aku masih belum sepenuhnya sadar dengan situasi yang sedang terjadi. Dia berlutut di hadapanku dan mengeluarkan sebuah kotak yang aku yakini adalah sebuah cincin.
“Will you marry me?”
Aku memandang sekelilingku. Ada aki, abah, ibu, A Endra dan Teh Iyah yang tersenyum dan mengangguk dengan kompak. Lalu kulihat wajah aki meneteskan air mata. Aku yakin itu air mata kebahagian karena impian melihat cucu perempuannya menikah akan segera terwujud.
Lalu aku memandang dia. Calon suamiku yang masih berlutut sambil memegang sebuah cincin.
“Alhamdulillah,” kudengar ucapan syukur yang datang dari semua yang hadir menyaksikan lamaran yang sebenarnya membuatku malu.
Tentu saja aku malu dengan tindakannya melamarku sambil berlutut. Aku bukanlah penggemar kisah-kisah romantis dimana calon suami melamar calon istrinya dengan cara-cara yang romantis dan tidak biasa.
Dia menyematkan cincin di jari manisku. Cincin yang sederhana tapi indah dan elegan.
“Ibu,” seru laki-laki yang akan menjadi calon imamku.
Aku mengedarkan pandangan menuju seseorang yang ia panggil ibu.
******
Atep POV
Aku menyematkan cincin di jari manisnya. Cincin sederhana yang kuberikan bersama segenap hati.
“Ibu.” Aku terkejut melihat Ibu yang tiba-tiba muncul dari arah dalam rumah.
Aku melihat ibuku datang menghampiri bergandengan tangan bersama Teh Iyah.
Aku tidak menyangka ibu akan hadir di acara ini karena aku tidak memberitahu ibu tentang rencana lamaran ini. Sebenarnya aku akan memberitahu Ibu kalau Alena sudah menerima lamaran karena tidak ingin memberikan harapan kosong pada ibu.
Tetapi hadirnya Ibu sekarang di luar rencanaku. Aku yakin Teh Iyah yang memberitahu ibu. Aku harap Ibu setuju dengan perempuan yang aku pilih. Ah, aku yakin Ibu pasti setuju, karena kalau beliau tidak setuju tidak mungkin ia datang hari ini.
__ADS_1
Kami semua sudah duduk di tempat yang memang sudah disediakan oleh Teh Iyah yang detail sekali. Ibu duduk di sampingku dan Alena duduk di antara kakek dan ayahnya. Ibu Alena duduk di samping suaminya. Kulihat Teh Iyah dan Kagendra duduk tidak jauh dari kami. Aras dan Aris tidak terlihat batang hidungnya.
Degup jantungku sudah tak bisa dikondisikan lagi. Sepertinya kalau aku menempelkan stetoskop di dada kiri pasti terdengar dengan kencang. Tanganku sedikit bergetar dan harus kuremas-remas agar kegugupan ini berkurang.
Kulihat calon istriku, tapi aku tak mampu melihat wajahnya karena dia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sepertinya dia pun sama gugupnya denganku.
“Saya ibu dari Atep Dananjaya, ingin melamar Neng Alena untuk menjadi istri dari anak saya. Semoga Keluarga Neng Alena bisa menerima maksud dari keluarga kami.”
Hening...
“Alhamdulillah, sebagai Aki dari Alena, saya sangat berbahagia mendengar kabar menggembirakan ini. Hanya saja ada kedua orang tuanya yang lebih berhak untuk menerima atau menolak lamaran ini. Bagaimana Yusuf?”
“Insya Allah, saya dan Ibunya Alena menerima lamaran dari Bu Isah. Hanya saja keputusan akhir ada di tangan anak kami. Bagaimana Lena? Kamu mau menerima Atep sebagai calon imam kamu?”
Kulihat Alena tidak memberikan respon apapun, tidak menggeleng maupun tidak mengangguk. Tidak juga sepatah kata terucap dari mulutnya.
Jantungku semakin berdebar menanti jawaban yang keluar dari mulut calon bidadariku. Kurasakan keringat dingin mengucur mengaliri tengkuk.
Hening...
“Diamnya perempuan ketika dilamar artinya setuju.” Perkataan Aki Musa membuatku lega.
“Alhamdulillah.” Semua orang mengucapkan syukur. Aku melirik pada Alena yang masih saja menundukkan wajahnya.
Kulihat ibu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak perhiasan.
“Maafkan jika saya tidak menyiapkan seserahan yang seharusnya. Ini karena anak saya yang bandel ini tidak memberitahukan rencananya untuk melamar hari ini.”
Lalu kulihat rombongan para asisten rumah tangga, tukang kebun, dan supir yang berjumlah lima orang datang sambil membawa kotak-kotak seserahan yang isinya tidak aku ketahui dan meletakkannya di atas meja dekat kolam renang yang sepertinya memang sudah disiapkan sebelumnya.
“Neng Lena,” panggil ibuku pada Alena.
“Iya, Bu.”
“Ini adalah cincin yang diberikan oleh ayahnya Atep ketika dia melamar Ibu. Ibu harap Neng Lena menyimpannya sebagai kenang-kenangan dari Ayahnya Atep dan juga sebagai tanda pengikat. Mohon diterima. Jika Neng Lena tidak suka dengan modelnya yang sudah kuno, Neng Lena bisa menyimpannya atau boleh memodifikasinya sesuai dengan model yang Neng Lena suka.”
Kulihat Alena menerima cincin yang diberikan oleh ibu. Ibu memang pernah mengatakan bahwa ia akan memberikan cincin yang diberikan ayah sebagai cincin pertunangan untuk calon menantu perempuannya. Ibu sudah memberikan cincin pernikahannya pada kakak perempuanku.
“Terima kasih, Bu. Lena sangat senang menerima cincin ini. Lena tidak akan menggunakannya bukan karena Lena tidak suka tapi Lena takut menghilangkannya. Lena orangnya teledor, Bu.”
Ibu tersenyum mendengar perkataan calon istriku yang cantik itu.
Semua rangkaian prosesi acara lamaran sudah terlaksana dengan baik. Pembicaraan akan hari pernikahan kami pun sudah mendapatkan hasilnya. Diputuskan kami akan menikah satu bulan lagi.
Ah aku sudah tidak sabar lagi menanti hari itu.
30 hari, tidak akan terasa panjang kan?
***********
to be continued...
__ADS_1